Sabtu, 31 Januari 2026

Misteri Sang Penganut ( PART 2 )

 JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH  : Misteri Sang Penganut ( Part 1 )

Sang Penganut ( PART 2 )


@SUARITOTO - Siang hari seharusnya membawa rasa aman. Cahaya matahari biasanya menjadi batas antara dunia nyata dan segala ketakutan malam. Namun di rumah tua keluarga Sutejo, siang justru terasa seperti perpanjangan dari malam, terang, tapi tidak pernah hangat.

Hesti sedang menyapu ruang tengah ketika ia menyadari sesuatu yang janggal. Bayangannya sendiri jatuh ke lantai, mengikuti gerak tubuhnya. Namun di samping bayangan itu, ada satu bayangan lain.

Lebih tinggi.

Lebih kurus.

Dengan rambut terurai.

Hesti berhenti menyapu.

Bayangan itu ikut berhenti.

Jantungnya berdegup kencang. Perlahan, Hesti menoleh ke belakang.

Tidak ada siapa-siapa.

Hesti menelan ludah. Tangannya gemetar saat kembali menghadap ke lantai. Bayangan itu sudah tidak ada.

Namun bau samar dupa tiba-tiba memenuhi ruangan.

***Penampakan di Siang Bolong***

Rahmat duduk di teras, memainkan tanah dengan ranting kecil. Sejak pagi, anak itu tidak bersuara sama sekali. Tatapannya sesekali mengarah ke halaman belakang, ke arah beringin tua.

“Hesti,” panggil Sutejo dari dapur. “Kamu dengar suara pintu?”

Hesti menggeleng. “Tidak, Pak.”

Padahal jelas ia mendengar suara pintu kamar ibunya terbuka perlahan.

Langkah kaki terdengar dari lorong.

Pelan. Teratur. Diseret.

Hesti berdiri kaku. Kakinya terasa berat, seolah lantai menahannya.

Dari ujung lorong, muncul sosok Marni.

Bukan seperti mayat hidup yang rusak atau mengerikan. Sosok itu berdiri utuh, mengenakan daster yang biasa dipakainya dulu. Rambutnya rapi disanggul, wajahnya pucat namun tenang.

Seolah Marni masih hidup.

“Hesti,” suara itu terdengar lembut.

Hesti mundur satu langkah. “Jangan… jangan mendekat.”

Marni tersenyum. “Kenapa takut? Ibu hanya pulang.”

Sutejo keluar dari dapur dan langsung membeku melihat sosok itu.

“Ni…” suaranya parau. “Ini tidak mungkin.”

Marni menoleh ke arah Sutejo. Tatapannya berubah, tidak ada kasih, hanya pengenalan dingin.

“Kamu selalu tidak percaya,” kata Marni. “Padahal rumah ini sudah menerima kita.”

Sutejo menutup mata. “Ini bukan kamu.”

Marni tertawa kecil. “Kamu masih menyebutnya ‘kita’?”

Tawa itu berhenti mendadak. Wajah Marni mengeras.

“Anakku di mana?”

Hesti menahan napas. “Rahmat?”

Marni mengangguk perlahan. “Dia milikku.”

***Rumah yang Mulai Menutup Diri***

Sejak penampakan siang itu, rumah mulai berubah. Pintu-pintu sering terkunci sendiri. Jendela yang dibuka selalu kembali tertutup. JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH  : Misteri Sang Penganut ( Part 1 ) Jam dinding berhenti tepat pukul tiga sore, waktu Marni pertama kali menampakkan diri di siang hari.

Malamnya, suara langkah semakin sering terdengar. Tidak lagi bersembunyi. Tidak lagi samar.

Sutejo duduk di ruang tengah, memegang tasbih dengan tangan gemetar. “Kita harus pergi dari rumah ini.”

Hesti mengangguk. “Ibu… atau apa pun itu… menginginkan Rahmat.”

Rahmat duduk di dekat tangga, menggambar di kertas bekas. Gambar itu bukan gambar rumah, bukan keluarga, melainkan sosok perempuan tinggi dengan tangan panjang, berdiri di bawah pohon beringin. Di sampingnya, ada lingkaran hitam besar.

Sutejo melihat gambar itu. “Rahmat, siapa itu?”

Rahmat menatap ayahnya lama.

Lalu ia menuliskan satu kata di kertas.

IBU

Sutejo menjatuhkan tasbihnya.

***Percakapan Terlarang***

Malam berikutnya, Hesti terbangun oleh suara bisikan tepat di samping telinganya.

“Hesti…”

Ia membuka mata.

Marni duduk di tepi ranjang.

Wajahnya sangat dekat.

“Bu…” suara Hesti bergetar. “Pergilah.”

Marni menggeleng. “Ibu tidak bisa pergi sebelum janji ditepati.”

“Janji apa?”

Marni tersenyum perlahan. Senyum itu terlalu lebar, tidak wajar.

“Janji yang Ibu buat… demi kalian.”

Hesti memejamkan mata. “Rahmat bukan milikmu.”

Marni berdiri. Tubuhnya tampak lebih tinggi dari sebelumnya. Bayangannya menutupi seluruh kamar.

“Dia tidak pernah milikmu,” suara Marni berubah berat. “Dia titipan.”

Hesti menangis. “Apa yang Ibu lakukan dulu?”

Marni mendekat ke pintu, berhenti sebelum keluar. “Ibu hanya meminta seorang anak.”

Lampu kamar padam.

Ketika lampu menyala kembali, Marni sudah tidak ada. Namun di dinding kamar, muncul goresan baru, membentuk simbol yang sama dengan susunan kayu yang dulu dimainkan Rahmat.

***Kesadaran yang Terlambat***

Keesokan harinya, seorang tetangga ditemukan pingsan di bawah pohon beringin. Katanya, ia melihat perempuan berpakaian putih mengajak seorang anak bermain.

Warga mulai menjauh. Rumah Sutejo disebut “rumah yang ditandai”.

Sutejo duduk bersama Hesti di teras.

“Kita tidak hanya dihantui,” kata Sutejo pelan. “Kita sedang ditunggu.”

Hesti menatap Rahmat yang berdiri di bawah pohon beringin. Angin menggerakkan daun-daun, menciptakan suara seperti bisikan banyak orang.

Rahmat menoleh ke arah Hesti.

Ia tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya, Hesti merasa senyum itu bukan lagi milik adiknya.

Dalam diam, Hesti menyadari satu hal yang menghantam pikirannya dengan keras:

Yang kembali ke rumah bukanlah arwah yang kehilangan keluarga.

Melainkan sesuatu yang datang untuk menagih janji lama.


Rahmat dan Tatapan yang Tak Wajar

Sejak penampakan Marni di siang hari, Rahmat berubah. Perubahan itu tidak datang dalam bentuk kemarahan atau tangisan, melainkan dalam ketenangan yang tidak wajar, ketenangan yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.

Pagi itu, Hesti terbangun dan mendapati Rahmat sudah duduk di ruang tengah. Anak itu menatap lantai, tepat ke arah pintu gudang kecil di bawah tangga. Tatapannya kosong, namun fokus, JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH  : Misteri Sang Penganut ( Part 1 ) seolah sedang menunggu sesuatu bergerak.

“Mat,” panggil Hesti pelan.

Rahmat tidak menoleh.

Hesti mendekat, berjongkok di depannya. “Kamu belum sarapan.”

Rahmat perlahan mengalihkan pandangan ke wajah Hesti. Matanya tampak lebih gelap dari biasanya. Tidak ada kebingungan anak kecil di sana, hanya ketenangan yang membuat Hesti merinding.

“Kamu lihat apa?” tanya Hesti.

Rahmat mengangkat tangannya, lalu menunjuk pintu gudang. Jarinya berhenti tepat di arah gembok berkarat yang menggantung.

Hesti menarik napas dalam. “Di sana tidak ada apa-apa.”

Rahmat memiringkan kepala, lalu tersenyum tipis. Senyum itu muncul sebentar, lalu menghilang. Ia berdiri dan berjalan menuju dapur tanpa suara.

***Tatapan yang Tidak Berkedip***

Sutejo menyadari perubahan Rahmat saat makan siang. Anak itu duduk rapi, piringnya bersih, namun tidak satu pun suapan masuk ke mulutnya.

“Rahmat,” kata Sutejo pelan, berusaha terdengar normal. “Kenapa tidak dimakan?”

Rahmat mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya lurus, menembus mata ayahnya tanpa berkedip.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Sutejo mengalihkan pandangan lebih dulu.

“Kalau tidak lapar, bilang,” gumamnya, jantungnya berdetak tidak teratur.

Hesti memperhatikan adegan itu dengan cemas. Rahmat menunduk kembali, lalu mengambil sendok dan menyuap makanan dengan gerakan yang terlalu rapi, terlalu terkontrol, bukan seperti anak kecil yang lapar, melainkan seperti seseorang yang tahu dirinya sedang diperhatikan.

***Percakapan dengan Bayangan***

Sore hari, Hesti melihat Rahmat berdiri di depan cermin kusam di lorong. Anak itu berbicara, bukan dengan suara, tetapi dengan gerakan bibir.

Hesti berhenti di ambang lorong, mengamati tanpa suara.

Rahmat mengangguk pelan.

Lalu menggeleng.

Kemudian tersenyum.

“Mat…” Hesti memberanikan diri. “Kamu bicara dengan siapa?”

Rahmat menoleh perlahan.

Ia mengangkat telunjuknya ke bibir, isyarat agar Hesti diam.

Lalu, dengan jarinya, ia menulis di kaca berembun:

BELUM WAKTUNYA

Tulisan itu memudar perlahan, seiring kaca kembali kering.

Hesti mundur satu langkah, dadanya terasa sesak.

***Mimpi yang Sama***

Malamnya, Hesti terbangun dengan napas terengah. Mimpi yang sama kembali datang, dirinya berdiri di halaman rumah, melihat Rahmat berjalan menuju pohon beringin. Di bawah pohon itu, berdiri banyak sosok berjubah hitam, wajah mereka tertutup kain.

Di tengah lingkaran, Marni berdiri, memegang tangan Rahmat.

“Sudah siap,” suara Marni menggema.

Hesti terbangun dengan jeritan tertahan.

Di kamar sebelah, Rahmat duduk di atas kasurnya, menatap ke arah pintu terbuka.

“Hesti,” suara Sutejo terdengar panik dari ruang tengah.

Hesti berlari keluar kamar.

Sutejo berdiri di depan pintu rumah yang terbuka lebar. Angin malam masuk membawa bau tanah basah dan dupa.

“Rahmat membuka pintu,” kata Sutejo lirih. “Aku melihatnya.”

Hesti menoleh ke arah Rahmat.

Anak itu berdiri di belakang mereka, wajahnya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

***Tulisan di Tanah***

Keesokan paginya, warga desa berkumpul di depan rumah Sutejo. Di tanah halaman, terlihat simbol besar tergambar jelas, lingkaran dengan garis-garis bercabang di tengahnya, digambar menggunakan tanah dan abu.

Seorang tetua desa menghela napas berat. “Simbol ini bukan main-main.”

“Apa artinya?” tanya Sutejo dengan suara gemetar.

Tetua itu menatap Rahmat lama. “Tanda pemanggilan.”

Hesti merasakan darahnya mengalir dingin.

Rahmat berdiri di samping Hesti, memegang ujung bajunya. Sentuhan itu dingin, namun menenangkan, dengan cara yang salah.

***Pengakuan Tanpa Suara***

Malam berikutnya, Rahmat mendekati Hesti saat mereka hanya berdua di kamar.

Ia menarik buku tulis Hesti, lalu menulis perlahan, huruf demi huruf:

IBU BUKAN YANG PERTAMA.

AKU BUKAN YANG TERAKHIR.

Hesti menatap tulisan itu, air matanya jatuh.

“Kamu tahu apa yang terjadi, Mat?”

Rahmat mengangguk.

“Kamu takut?”

Rahmat menggeleng.

Ia menulis lagi:

MEREKA MENUNGGU AKU.

AKU SUDAH LAMA DI SINI.

Hesti memeluk adiknya erat. Tubuh Rahmat dingin, terlalu dingin untuk anak hidup.

Di balik pelukan itu, Hesti menyadari kebenaran yang membuat kakinya gemetar:

Rahmat bukan berubah.

Ia sedang mengingat.

Dan rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan titik awal dari sesuatu yang telah direncanakan jauh sebelum mereka datang.


Jejak Sekte di Masa Lalu

Hesti mulai menyadari bahwa teror yang menghantui keluarganya tidak lahir begitu saja. Setiap penampakan, setiap simbol, setiap kalimat yang ditulis Rahmat, semuanya terasa terlalu terstruktur untuk disebut kebetulan. Ada pola. Ada sejarah. JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH  : Misteri Sang Penganut ( Part 1 ) Dan sejarah itu berakar pada masa lalu ibunya.

Pagi itu, Hesti memberanikan diri memasuki kamar Marni sendirian.

Kamar itu masih sama seperti terakhir kali ditinggalkan. Ranjang bambu belum dipindahkan. Selimutnya terlipat rapi, seolah Marni akan kembali kapan saja. Namun udara di dalam kamar terasa lebih dingin dibanding ruangan lain, dengan bau dupa yang samar namun konsisten.

Hesti berdiri di tengah kamar, menarik napas panjang.

“Kalau memang ada jawaban di sini,” gumamnya, “aku harus menemukannya.”

Ia mulai membuka lemari kayu tua milik ibunya. Isinya pakaian-pakaian lama, sebagian sudah usang. Saat tangannya menyibakkan tumpukan kain di bagian bawah, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras.

Sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu terkunci, namun kuncinya tergantung di paku kecil di balik lemari, terlalu mudah ditemukan untuk sesuatu yang ingin benar-benar disembunyikan.

Hesti ragu sejenak sebelum memasukkan kunci dan memutarnya.

Krak.

Kotak itu terbuka.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas menguning, sebuah kalung dengan bandul berbentuk lingkaran bercabang, dan buku catatan kecil dengan sampul hitam polos.

Jantung Hesti berdegup kencang.

***Catatan yang Tidak Pernah Ditujukan untuk Dibaca***

Buku itu berisi tulisan tangan Marni.

Tulisan yang rapi, teratur, dan dingin, berbeda dengan kepribadian ibunya yang lembut.

Tahun pertama.

Mereka mengatakan rahimku kosong.

Doaku tidak pernah sampai.

Hesti menelan ludah, lalu melanjutkan membaca.

Aku bertemu mereka di pinggir desa.

Mereka menyebut diri mereka penjaga jalan.

Mereka tidak meminta imanku, mereka hanya meminta kesediaanku.

Hesti membalik halaman dengan tangan gemetar.

Namanya Gundirom.

Bukan nama, tapi panggilan.

Bukan sosok, tapi kehendak.

Kepala Hesti terasa ringan.

Langkah kaki terdengar di luar kamar.

“Hesti?” suara Sutejo terdengar ragu.

Hesti segera menutup buku dan menyembunyikannya di balik bajunya. “Pak?”

Sutejo berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat tegang. “Kamu sedang apa di sini?”

Hesti menatap ayahnya lama. “Ayah tahu apa pun tentang masa lalu Ibu?”

Sutejo menghela napas berat. “Ibumu tidak pernah banyak bercerita.”

“Apakah Ayah tahu Ibu tidak bisa punya anak?”

Sutejo terdiam. Wajahnya berubah pucat. “Dia bilang… itu takdir.”

Hesti mengangguk pelan. “Tapi Ibu tidak menerima takdir itu.”

***Orang-Orang yang Menghilang***

Siang hari, Hesti pergi ke rumah tetua desa yang paling tua, Pak Wiryo. Rumahnya terletak agak jauh dari pemukiman, dikelilingi pagar bambu dan pohon pisang.

Pak Wiryo membuka pintu perlahan saat Hesti mengetuk.

“Kamu anak Marni,” katanya tanpa bertanya.

Hesti terkejut. “Bapak mengenal Ibu?”

Pak Wiryo menatapnya lama, lalu membuka pintu lebih lebar. “Masuklah. Sudah lama tidak ada yang berani bertanya.”

Di dalam rumah, aroma kayu dan tanah kering memenuhi udara. Pak Wiryo duduk di bangku kecil, menyeduh teh dengan tangan yang gemetar.

“Apa yang ingin kamu tahu?” tanyanya.

Hesti menarik napas. “Tentang sekte.”

Teh di tangan Pak Wiryo berhenti bergerak.

“Kamu sudah melihat tandanya,” katanya pelan.

“Gundirom,” ucap Hesti.

Pak Wiryo menutup mata. “Nama itu seharusnya tidak diucapkan lagi.”

***Kebenaran yang Ditutup Desa***

“Dulu,” Pak Wiryo mulai, “ada sekelompok orang yang percaya bahwa hidup bisa ditukar. Bahwa keturunan bisa diminta. Bahwa kematian hanyalah pintu.”

Hesti mendengarkan dengan tubuh kaku.

“Mereka berkumpul di rumah itu,” lanjutnya. “Rumah yang sekarang kamu tinggali.”

Hesti menahan napas.

“Perempuan-perempuan yang putus asa datang. Yang mandul. Yang kehilangan anak. Mereka diberi harapan.”

“Apa yang mereka berikan sebagai gantinya?” tanya Hesti.

Pak Wiryo membuka mata. Tatapannya kosong. “Janji.”

“Janji apa?”

“Bahwa anak yang datang… bukan sepenuhnya milik mereka.”

Hesti teringat tulisan Rahmat: Aku bukan yang terakhir.

“Kenapa desa membiarkan itu?” suara Hesti bergetar.

Pak Wiryo tertawa pendek tanpa humor. “Karena yang menolak… menghilang.”

***Nama yang Dicoret***

Pak Wiryo berdiri dan mengambil sebuah buku tua dari lemari. Ia membuka halaman demi halaman hingga berhenti pada satu bagian.

Di sana tertulis daftar nama.

Sebagian dicoret.

Sebagian dilingkari.

Satu nama tidak dicoret, hanya diberi tanda silang kecil.

Marni.

“Dia satu-satunya yang tidak menyelesaikan perjanjiannya,” kata Pak Wiryo. “Dia menunda.”

“Menunda apa?” tanya Hesti.

Pak Wiryo menatapnya dengan sorot mata penuh rasa bersalah. “Tumbal.”

Dunia Hesti seakan runtuh.

***Rahasia Terakhir***

Malam itu, Hesti kembali ke rumah dengan langkah gontai. Rahmat duduk di ruang tengah, menggambar lagi, kali ini menggambar banyak anak berdiri dalam lingkaran.

Hesti duduk di depannya.

“Mat,” katanya pelan. “Ibu pernah ikut sesuatu yang salah.”

Rahmat mengangguk.

“Kamu tahu tentang Gundirom?”

Rahmat mengangguk lagi.

“Kenapa kamu tidak takut?”

Rahmat menulis di kertas, pelan dan rapi:

KARENA AKU HASILNYA.

Hesti menutup mulutnya menahan isak.

Rahmat menatapnya, lalu menulis satu kalimat terakhir:

IBU MENUNDA. MEREKA TIDAK LUPA.

Di luar, angin berhembus kencang. Dari bawah tangga, terdengar suara rantai gudang bergeser sendiri.

Untuk pertama kalinya, Hesti memahami sepenuhnya:

Teror ini bukan kutukan tanpa arah.

Ini adalah utang lama yang akhirnya jatuh tempo.


 Janji Terlarang demi Keturunan

Malam itu hujan turun deras, seolah ingin menenggelamkan rumah tua beserta rahasia yang terkubur di dalamnya. Hesti duduk sendirian di kamar ibunya, menatap buku catatan hitam yang kini tergeletak terbuka di pangkuannya. Di luar, suara hujan bercampur dengan desah angin yang menyusup melalui celah-celah dinding.

Tulisan Marni di halaman berikutnya berubah. Tidak lagi sekadar catatan, melainkan pengakuan.

***KILAS BALIK - MARMI, DUA PULUH TAHUN LALU***

Marni duduk di tepi ranjang rumah kontrakan kecil di pinggir kota. Wajahnya masih muda, matanya sembab, dan tangannya menggenggam hasil pemeriksaan dokter yang sudah diremas berkali-kali.

“Maaf, Bu,” suara dokter itu masih terngiang. “Secara medis, kemungkinan Ibu untuk hamil hampir tidak ada.”

Malam itu Marni menangis tanpa suara. JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH  : Misteri Sang Penganut ( Part 1 ) Sutejo tertidur di sampingnya, kelelahan setelah lembur. Marni memandang suaminya lama.

“Apa gunanya aku kalau tidak bisa memberi keturunan?” bisiknya.

Hari-hari berlalu, dan bisikan mulai datang, dari tetangga, dari keluarga, dari tatapan-tatapan yang menghakimi.

Sampai suatu sore, seorang perempuan tua menghampirinya di pasar.

“Kamu kelihatan kosong,” kata perempuan itu sambil tersenyum tipis.

Marni menoleh. “Ibu siapa?”

“Hanya penjaga jalan,” jawabnya ringan. “Kalau memang ingin anak… ada cara lain.”

***MASA KINI - HESTI MEMBACA***

Hesti membalik halaman dengan napas tertahan.

Mereka tidak memaksa.

Mereka hanya membuka kemungkinan.

Katanya, setiap rahim punya pintu lain.

Tangannya gemetar.

***KILAS BALIK - PERTEMUAN PERTAMA***

Marni berdiri di depan rumah tua yang kini ia tinggali kembali. Rumah itu sudah tua bahkan saat itu. Dindingnya kusam, namun pintunya terbuka lebar, seolah menunggu.

Di dalam, ada enam orang duduk melingkar. Wajah mereka tidak jelas, tertutup bayangan. Hanya satu yang berdiri di tengah, seorang pria tinggi berjubah hitam.

“Kami tidak memberi anak,” katanya. “Kami hanya meminjamkan wadah.”

Marni menelan ludah. “Apa yang harus saya lakukan?”

“Menjadi penganut,” jawabnya tenang. “Dan membayar saat diminta.”

“Apa bayarannya?” tanya Marni.

Pria itu tersenyum.

“Yang paling kamu cintai.”

***MASA KINI - RAHMAT MENDENGAR***

Rahmat berdiri di ambang pintu kamar. Ia tidak bersuara, namun matanya menatap buku itu seolah mengenali setiap kata.

Hesti menoleh. “Kamu tahu semua ini?”

Rahmat mengangguk pelan.

Hesti menahan air mata. “Kenapa Ibu tetap melakukannya?”

Rahmat menulis di buku kosong di sampingnya:

KARENA IA PUTUS ASA.

***KILAS BALIK - RITUAL PERTAMA***

Malam ritual berlangsung tanpa teriakan, tanpa darah. Hanya doa-doa yang dibisikkan terbalik, dan simbol yang digambar dengan abu.

Marni berlutut di tengah lingkaran.

“Ucapkan namanya,” kata suara berat dari balik jubah.

“Gundirom,” ucap Marni dengan suara bergetar.

Udara menjadi dingin.

Lampu padam.

Di dalam kegelapan, Marni mendengar sesuatu bernafas—bukan dari luar, tapi dari dalam tubuhnya sendiri.

“Pintu telah dibuka,” suara itu berbisik. “Tapi ingat… yang datang bukan milikmu.”

***MASA KINI - KEBENARAN UTUH***

Hesti menutup buku itu. Dadanya terasa sesak.

“Ibu mengadopsi kami,” katanya lirih. “Karena Ibu tidak bisa melahirkan.”

Rahmat menulis lagi:

AKU BEDA.

Hesti menatapnya. “Maksudmu?”

Rahmat mengangkat wajahnya. Tatapan itu dalam, jauh, dan tua.

AKU DATANG SENDIRI.

Angin bertiup kencang. Dari bawah tangga, terdengar suara rantai gudang ditarik perlahan.

***KILAS BALIK - PENUNDAAN***

Marni berdiri kembali di hadapan lingkaran bertahun-tahun kemudian.

“Kami meminta milik kami,” kata suara itu.

“Belum,” jawab Marni. “Anaknya masih kecil.”

“Delapan tahun,” jawab suara itu dingin. “Itu kesepakatan.”

Marni berlutut, menangis. “Ambil aku saja.”

Suara tawa rendah bergema.

“Kamu sudah milik kami.”

***MASA KINI - JAM BERDETAK***

Hesti menyadari sesuatu yang membuat tubuhnya lemas.

“Ulang tahun Rahmat…” bisiknya.

Rahmat mengangguk.

Ia menulis satu kalimat terakhir malam itu:

HITUNGAN SUDAH DIMULAI.

Di luar, jam dinding yang lama mati tiba-tiba berdetak kembali.

Tok.

Tok.

Tok.

Setiap detik bukan lagi penanda waktu, melainkan pengingat bahwa janji lama sedang ditagih, dan tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bebas dari kesalahan masa lalu.

Anak Adopsi dan Dosa yang Tersembunyi

Kebenaran tidak datang seperti teriakan. Ia merayap pelan, menyusup di sela-sela ingatan, lalu menghantam saat tak ada lagi ruang untuk menghindar.

Hesti duduk di ruang tengah dengan tumpukan dokumen di hadapannya. Akta kelahiran lama, surat adopsi yang sudah pudar, dan catatan-catatan desa yang berhasil ia salin diam-diam dari kantor kelurahan. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena potongan-potongan itu mulai menyatu.

Nama-nama muncul berulang.

Tanggal-tanggal berdekatan.

Alamat yang sama.

Rumah tua itu.

“Ayah,” kata Hesti pelan.

Sutejo yang duduk di sudut ruangan mengangkat kepala. Wajahnya tampak lebih tua dari kemarin, seolah semalam telah menggerogoti sisa kekuatannya.

“Ayah tahu dari mana asal aku dan adik-adik?”

Sutejo terdiam lama. Tatapannya jatuh ke lantai.

“Ibumu bilang… kalian anak-anak yang tidak diinginkan orang tua kandungnya,” jawabnya akhirnya. “Aku percaya.”

Hesti menelan ludah. “Ayah tidak pernah bertanya lebih jauh?”

Sutejo menggeleng pelan. “Aku ingin punya keluarga. Itu saja.”

Kejujuran itu sederhana, namun terasa seperti pengakuan dosa.

***Nama-Nama yang Hilang***

Hesti menyusuri desa sore itu, mendatangi rumah-rumah tua yang nyaris ditelan waktu. Ia membawa daftar nama yang disalin dari buku Pak Wiryo. Nama-nama anak. Usia delapan tahun. Sebagian besar tanpa catatan kematian yang jelas.

Seorang perempuan tua membuka pintu setelah Hesti mengetuk lama.

“Kamu anak Marni,” katanya datar.

Hesti mengangguk. “Saya ingin bertanya tentang seorang anak bernama Darto.”

Perempuan itu terdiam. Wajahnya berubah pucat.

“Pergilah,” katanya cepat. “Jangan cari hal-hal yang seharusnya dilupakan.”

“Dia menghilang delapan belas tahun lalu,” Hesti mendesak. “Usianya delapan tahun.”

Perempuan itu memejamkan mata. Air matanya jatuh.

“Mereka bilang anak itu dipilih,” bisiknya. “Kami disuruh diam. Demi keselamatan desa.”

“Siapa mereka?”

Perempuan itu menggeleng. “Tidak satu. Tidak dua. Banyak.”

Hesti melangkah mundur, dadanya terasa sesak. Kata dipilih terngiang seperti lonceng kematian.

***Rahmat dan Anak-Anak Lain***

Malamnya, Rahmat duduk di lantai kamar, menyusun potongan kayu seperti dulu. Kali ini bukan lingkaran tunggal, melainkan beberapa lingkaran kecil yang saling terhubung. Di tengahnya, satu lingkaran paling besar.

Hesti duduk di hadapannya. “Ada berapa anak sebelum kamu?”

Rahmat berhenti menyusun.

Ia menatap Hesti lama, lalu menulis di kertas:

BANYAK.

“Semua… diambil?” suara Hesti bergetar.

Rahmat mengangguk.

“Apakah mereka… mati?”

Rahmat menggeleng pelan.

Ia menulis lagi, hurufnya rapi dan pasti:

DIPINDAHKAN.

Hesti mengernyit. “Ke mana?”

Rahmat menatap ke arah bawah tangga, ke pintu gudang yang selalu terkunci.

Hesti merasakan dingin merambat di tulang punggungnya.

***Gudang yang Tidak Pernah Dibuka***

Larangan Marni tentang pintu itu kini terasa seperti jeritan dari masa lalu. Malam itu, setelah Sutejo tertidur, Hesti berdiri di depan pintu gudang. Gemboknya berkarat, namun tidak terkunci rapat.

Tangannya gemetar saat mendorong pintu.

Bau tanah lembap dan dupa menyergap.

Di dalam, dinding-dinding dipenuhi coretan simbol, lingkaran bercabang, garis terbalik, dan tanda-tanda yang kini Hesti kenali. Di sudut ruangan, terdapat rak kayu dengan kotak-kotak kecil, masing-masing bertuliskan nama dan tanggal.

Hesti membaca satu per satu.

Darto.

Sari.

Wawan.

Rini.

Tanggalnya sama: usia delapan tahun.

Di dasar gudang, ada lubang tertutup papan. Dari celahnya, terdengar suara pelan, seperti napas yang ditahan lama.

Hesti menutup mulutnya menahan jerit.

Di belakangnya, terdengar langkah kaki kecil.

Rahmat berdiri di ambang pintu.

“Mat…” Hesti berbisik. “Apa yang ada di sini?”

Rahmat menatap lubang itu tanpa emosi.

Ia menulis di papan kayu dengan paku kecil yang tergeletak di lantai:

TEMPAT MENUNGGU.

***Pengakuan Ayah***

Sutejo akhirnya tahu. Hesti tidak bisa menyembunyikannya lebih lama.

“Ayah tidak tahu,” kata Sutejo berulang kali, duduk terpuruk di kursi. “Aku bersumpah.”

Hesti memandang ayahnya dengan mata merah. “Ayah tahu rumah ini aneh. Ayah tahu Ibu sakitnya tidak wajar. Tapi Ayah memilih diam.”

Sutejo menangis. “Aku takut kehilangan keluarga.”

Hesti menutup mata. “Kita sudah kehilangan banyak.”

Rahmat berdiri di dekat jendela. Bayangannya memanjang di lantai, lebih panjang dari tubuhnya sendiri.

***Dosa yang Dibagi Bersama***

Pak Wiryo datang malam itu, JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH  : Misteri Sang Penganut ( Part 1 ) wajahnya penuh rasa bersalah.

“Kami membiarkannya,” katanya lirih. “Kami bilang pada diri sendiri bahwa itu pengorbanan kecil. Bahwa anak-anak itu ‘dipilih’ untuk sesuatu yang lebih besar.”

“Lebih besar dari apa?” tanya Hesti tajam.

Pak Wiryo menunduk. “Lebih besar dari desa. Lebih besar dari kami.”

Rahmat menoleh perlahan. Tatapannya tenang.

Ia menulis satu kalimat, lalu menunjukkannya pada semua yang hadir:

AKU PENUTUPNYA.

Hesti merasa lututnya lemas.

Pak Wiryo berbisik, nyaris tak terdengar, “Kalau dia penutup… berarti yang lain pembuka.”

Di luar, angin berhembus membawa suara seperti nyanyian jauh, suara anak-anak yang tidak pernah dewasa.

Dalam keheningan itu, satu kebenaran berdiri telanjang:

Anak-anak adopsi bukan diselamatkan.

Mereka disembunyikan.

Dan Rahmat adalah hasil dari semua penundaan, semua kebohongan, dan semua dosa yang belum dibayar.


**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊....


👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Kamis, 29 Januari 2026

Misteri Sang Penganut ( Part 1 )

 

Sang Penganut

 Pindah ke Rumah yang Tak Pernah Sepi

@SUARITOTO - Langit sore tampak kelabu ketika truk tua berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri terpisah dari rumah-rumah penduduk lain. Cat dindingnya mengelupas, kusen jendelanya lapuk, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar setinggi lutut. Rumah itu terlihat seperti telah lama ditinggalkan, seolah enggan disentuh kehidupan baru.

Hesti turun lebih dulu dari truk, menggendong kardus berisi pakaian. Kakinya berhenti sejenak ketika menatap rumah itu. Perasaan asing menjalar, bukan sekadar karena bentuknya yang tua, tetapi karena ada sesuatu yang terasa tidak menyambut. Angin sore berhembus pelan, membuat pintu depan yang setengah terbuka berderit pelan.

“Rumahnya… besar,” gumam Hesti, lebih kepada dirinya sendiri.

Sutejo turun menyusul, wajahnya lelah namun berusaha terlihat tegar. Tangannya menggenggam topi lusuh yang biasa dipakai saat bekerja di pabrik, pekerjaan yang kini sudah hilang sejak pabrik itu bangkrut. Pandangannya menelusuri rumah tersebut, mencoba mencari alasan untuk yakin bahwa keputusan ini benar.

“Yang penting atapnya masih utuh,” kata Sutejo, suaranya berat. “Kita cuma perlu tempat berteduh dulu.”

Dari dalam truk, terdengar batuk panjang. Marni duduk bersandar, tubuhnya semakin kurus dibanding lima tahun lalu. Wajahnya pucat, mata cekung, dan nafasnya terdengar pendek-pendek. Ia menatap rumah itu lama, terlalu lama, seolah sedang mengenang sesuatu yang tak ingin diucapkan.

“Bu… pelan-pelan,” ujar Hesti mendekat, membantu Marni turun.

Saat kaki Marni menyentuh tanah, wajahnya berubah. Bukan takut, bukan heran, melainkan seperti seseorang yang akhirnya kembali ke tempat yang dikenalnya.

“Rumah ini…” bisik Marni lirih.

Sutejo menoleh. “Kenapa, Ni?”

Marni menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Hanya… rumah lama.”

Nada suaranya terdengar ambigu, membuat Hesti menatap ibunya dengan dahi berkerut. Ada sesuatu yang disembunyikan, dan Hesti merasakannya dengan jelas, meski belum tahu apa.

Rahmat turun terakhir, digandeng Hesti. Anak itu diam seperti biasa. Matanya menatap rumah tersebut tanpa berkedip, lalu perlahan mengalihkan pandangan ke arah pohon besar di samping rumah, pohon beringin tua dengan akar menggantung seperti jari-jari yang mencengkeram tanah.

Rahmat berhenti melangkah.

“Hesti…” Sutejo memanggil. “Ajak adikmu masuk.”

Hesti menunduk. “Ayo, Mat.”

Rahmat tidak menolak, namun sebelum masuk, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil yang aneh, bukan senyum anak kecil yang polos, melainkan senyum tipis, singkat, lalu menghilang begitu saja.

***Di Dalam Rumah***

Pintu utama terbuka penuh dengan suara berderit panjang, seolah mengeluh karena kembali digunakan. Debu menari di udara ketika cahaya senja masuk melalui jendela-jendela besar yang ditutup tirai lusuh.

Aroma lembap bercampur bau kayu tua memenuhi ruangan.

“Bau rumah kosong,” gumam Sutejo.

Marni melangkah masuk perlahan, tangannya menyentuh dinding. Jemarinya berhenti pada sebuah ukiran kecil di dekat pintu—simbol yang hampir tertutup cat, samar, nyaris tak terlihat.

Marni menarik tangannya cepat, seperti tersengat.

“Bu?” Hesti memperhatikan.

“Jangan sentuh dinding itu,” kata Marni cepat. “Catnya kotor.”

Alasan yang terdengar biasa, namun cara Marni mengatakannya terasa seperti larangan.

Sutejo meletakkan barang-barang di ruang tengah. “Kita bersihkan pelan-pelan. Rumah ini masih bisa ditinggali.”

Hesti mengangguk, namun matanya menangkap sesuatu di sudut ruangan, sebuah pintu kecil di bawah tangga yang tertutup rapat, digembok dengan rantai besi berkarat.

“Itu apa, Pak?” tanya Hesti.

Sutejo menoleh sekilas. “Mungkin gudang lama.”

Marni langsung memotong. “Jangan dibuka.”

Nada suaranya tegas, nyaris keras.

Sutejo terdiam sejenak. “Kenapa?”

Marni menelan ludah. “Tidak perlu. Rumah ini sudah lama kosong. Bisa berbahaya.”

Hesti semakin yakin, ada sesuatu yang tidak beres. Ibu yang biasanya pendiam kini terlihat terlalu waspada, bahkan terhadap sudut rumah yang baru saja dimasuki.

***Percakapan Malam Pertama***

Malam turun cepat di desa itu. Lampu minyak menjadi satu-satunya penerangan karena listrik belum tersambung. Bayangan di dinding bergerak-gerak mengikuti nyala api.

Sutejo duduk di lantai, memijat pelipisnya. “Aku tidak tahu sampai kapan keadaan begini.”

Hesti menatap ayahnya. “Kita bisa cari kerja di desa, Pak.”

Sutejo tersenyum tipis. “Ayah akan coba. Demi kalian.”

Marni duduk bersandar di dinding, memandangi api lampu dengan tatapan kosong. Sesekali bibirnya bergerak, seperti sedang berbisik tanpa suara.

“Hesti,” panggil Marni tiba-tiba.

“Ya, Bu?”

“Kalau nanti Ibu… tidak ada,” ucap Marni pelan, “jaga adikmu.”

Sutejo langsung menoleh. “Jangan bicara begitu.”

Marni tersenyum lemah. “Hanya berjaga-jaga.”

Hesti ingin bertanya lebih jauh, namun Rahmat tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah tangga. Anak itu berhenti di depan pintu gudang kecil yang tadi dibicarakan.

Rahmat menempelkan telinganya ke pintu.

“Rahmat!” Hesti berdiri cepat. “Jangan ke situ.”

Rahmat menoleh perlahan. Matanya memantulkan cahaya lampu minyak. Untuk sesaat, tatapan itu terlihat terlalu dalam untuk anak seusianya.

Rahmat mengangkat tangannya, menunjuk ke arah pintu, lalu ke dadanya sendiri.

Marni gemetar. “Jangan… jangan ke sana.”

Rahmat menurunkan tangannya, lalu berjalan kembali tanpa ekspresi.

Malam itu, angin berhembus kencang. Dari luar, terdengar suara dedaunan berdesir dan sesuatu yang seperti langkah kaki mengitari rumah.

Hesti terjaga lama, menatap langit-langit, dengan satu pikiran yang terus berulang:

Rumah ini tidak kosong.

Dan mereka bukan tamu pertama.


 Lima Tahun di Ambang Kematian

Pagi pertama di rumah tua itu datang tanpa kehangatan. Matahari memang terbit, namun cahayanya tertahan oleh pepohonan besar yang mengelilingi rumah, membuat halaman selalu berada dalam bayang-bayang. Udara terasa lembap dan dingin, meski musim kemarau seharusnya membawa panas.

Marni terbangun dengan napas tersengal. Dadanya terasa berat, seperti ada beban menindih dari dalam. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara selimut tipis yang menutup tubuhnya terasa terlalu berat.

“Hesti…” panggilnya pelan.

Hesti yang tidur di dekat pintu kamar langsung terbangun. “Ibu kenapa?”

Marni menggenggam tangan Hesti erat. Genggamannya dingin, namun kuat, seolah takut terlepas.

“Air…” bisiknya.

Hesti bergegas mengambil air dari kendi. Saat Marni minum, tangannya bergetar hebat hingga air tumpah membasahi dagu.

“Pelan-pelan, Bu.”

Marni berhenti minum, menatap Hesti dengan mata merah berair. “Ibu mimpi lagi.”

“Mimpi apa?”

Marni menoleh ke arah jendela yang tertutup tirai. “Ada orang berdiri di bawah pohon. Mereka memanggil nama Ibu.”

Hesti menelan ludah. “Siapa?”

Marni menggeleng. “Wajahnya tidak jelas. Tapi Ibu tahu… mereka menunggu.”

***Kondisi yang Tak Pernah Jelas***

Sakit Marni bukan hal baru. Lima tahun terakhir hidup keluarga Sutejo berputar di antara rumah sakit, dukun, tabib, dan doa-doa panjang yang tak kunjung memberi jawaban. Setiap dokter memberikan diagnosis berbeda, namun tidak satu pun benar-benar mampu menjelaskan mengapa tubuh Marni terus melemah.

Siang itu, Sutejo duduk di samping ranjang Marni. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya, dipenuhi garis kelelahan.

“Bapak desa bilang ada mantri yang bisa datang besok,” kata Sutejo pelan.

Marni tersenyum tipis. “Tidak usah.”

“Kita harus coba,” jawab Sutejo, nada suaranya sedikit meninggi. “Selama ini kita tidak boleh menyerah.”

Marni memalingkan wajah. “Penyakit ini bukan untuk disembuhkan.”

Ucapan itu membuat ruangan terasa lebih sempit.

Sutejo terdiam. “Apa maksudmu?”

Marni menutup mata. “Waktunya hampir habis.”

Sutejo berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. “Jangan bicara seperti orang yang sudah menyerah.”

Marni membuka mata perlahan. Tatapannya tajam, jauh berbeda dari tubuhnya yang rapuh. “Ada hal-hal yang tidak bisa dihindari.”

Hesti menyimak dari ambang pintu. Setiap kata ibunya terdengar seperti potongan teka-teki yang tak pernah utuh.

***Rahmat dan Keheningan yang Mengganggu***

Rahmat duduk di lantai ruang tengah, menyusun potongan kayu kecil menjadi lingkaran. Polanya rapi, terlalu rapi untuk permainan anak kecil. Setiap potongan disusun dengan jarak sama, membentuk simbol yang tak dikenal.

Hesti memperhatikannya dari jauh. “Mat, itu apa?”

Rahmat tidak menjawab. Ia hanya menambahkan satu potongan kayu di tengah lingkaran, lalu menatap hasilnya lama.

Sutejo mendekat. “Rahmat.”

Rahmat menoleh perlahan. Matanya kosong, namun di dalamnya seperti ada sesuatu yang sedang mengamati balik.

Sutejo berjongkok. “Jangan main di lantai dingin.”

Rahmat berdiri tanpa suara. Saat melangkah pergi, kakinya menyenggol susunan kayu itu, namun tidak satu pun bergeser, seolah sudah menempel pada lantai.

Hesti merinding.

***Malam yang Selalu Sama***

Setiap malam, Marni selalu terbangun di jam yang sama. Sekitar pukul tiga dini hari. Nafasnya memburu, matanya terbuka lebar, menatap langit-langit seperti melihat sesuatu bergerak di sana.

“Ibu… lihat apa?” tanya Hesti suatu malam.

Marni berbisik, suaranya hampir tak terdengar. “Mereka menghitung.”

“Menghitung apa?”

“Waktu.”

Di luar, angin bertiup pelan. Daun beringin bergesekan, menciptakan suara seperti bisikan berlapis-lapis. Sutejo terbangun dan duduk di ranjang.

“Tidak ada siapa-siapa,” katanya, lebih kepada meyakinkan diri sendiri.

Marni tersenyum pahit. “Justru karena itu.”

***Pengakuan yang Tak Pernah Selesai***

Suatu sore, saat tubuh Marni terlihat sangat lemah, ia memanggil Hesti mendekat. Suaranya gemetar, napasnya pendek-pendek.

“Hesti,” katanya. “Dengarkan baik-baik.”

Hesti duduk di sisi ranjang. “Ibu mau bilang apa?”

Marni menatap wajah anak tertuanya lama. “Ibu bukan ibu kandungmu.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Hesti terdiam. “Apa maksudnya?”

Marni menghela napas panjang. “Ibu tidak bisa punya anak. Sejak awal.”

Hesti mencoba tersenyum, meski hatinya bergetar. “Itu tidak penting.”

Marni menggenggam tangan Hesti. “Yang penting… jangan percaya semua yang Ibu katakan selama ini.”

Hesti ingin bertanya, namun Marni tiba-tiba batuk keras, tubuhnya menggigil hebat. Dari sudut ruangan, Rahmat berdiri diam, menatap ibunya dengan ekspresi datar.

Lampu minyak berkedip.

Bayangan Marni di dinding tampak lebih tinggi, lebih kurus, dan untuk sesaat, memiliki bentuk yang tidak sepenuhnya manusia.

Hesti memejamkan mata, berharap semua itu hanya ilusi kelelahan.

Namun jauh di dalam dirinya, satu keyakinan mulai tumbuh perlahan:

Sakit Marni bukan penyakit biasa.

Dan lima tahun itu bukan penderitaan, melainkan penundaan.

Napas Terakhir Sang Ibu

Hujan turun tanpa suara petir malam itu. Gerimis halus, panjang, dan dingin, seolah langit ikut menahan napas. Atap rumah tua meneteskan air di beberapa sudut, menciptakan irama pelan yang berulang-ulang, seperti hitungan waktu yang tak pernah berhenti.

Marni terbaring di ranjang bambu, tubuhnya tampak semakin ringan, nyaris seperti bayangan dari dirinya sendiri. Kulitnya pucat keabu-abuan, bibirnya kebiruan. Napasnya terdengar pendek dan terputus-putus, seolah setiap tarikan adalah usaha terakhir.

Sutejo duduk di sisi ranjang sejak sore, matanya merah, tangannya menggenggam tangan istrinya yang dingin.

“Hesti… tidur saja,” kata Sutejo pelan.

Hesti menggeleng. “Aku mau di sini.”

Rahmat duduk di sudut kamar, memeluk lututnya. Matanya tidak terpejam sejak matahari terbenam. Tatapannya lurus ke arah ibunya, tanpa berkedip.

Marni membuka mata perlahan.

“Jo…” bisiknya.

Sutejo segera mencondongkan tubuh. “Iya, Ni. Aku di sini.”

Marni menelan ludah dengan susah payah. “Kalau nanti… suara Ibu memanggil… jangan jawab.”

Kalimat itu membuat Hesti tercekat.

“Bu, jangan bicara begitu,” ucap Hesti cepat.

Marni mengalihkan pandangan ke Hesti. Tatapannya lembut, namun ada kesedihan yang dalam, bercampur ketakutan.

“Hesti,” katanya lirih, “apa pun yang terjadi… jangan buka pintu itu.”

“Pintu yang mana?” tanya Hesti.

Marni tidak menjawab. Napasnya semakin cepat.

Di luar kamar, angin tiba-tiba berembus lebih kencang. Daun beringin bergesekan, menciptakan suara seperti ratusan bisikan yang tumpang tindih. Lampu minyak di kamar bergetar, nyalanya mengecil lalu membesar kembali.

Rahmat berdiri.

Ia melangkah perlahan mendekati ranjang. Tangannya terulur, menyentuh selimut di kaki Marni.

Marni menatap Rahmat.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Marni berubah, ketakutan murni.

“Jangan…” desisnya.

Rahmat memiringkan kepala, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang hanya bisa ia dengar. Lalu, tanpa suara, ia membuka mulutnya, seolah ingin berbicara.

Namun yang keluar bukan suara.

Hanya hembusan napas dingin yang membuat lampu minyak hampir padam.

***Detik-detik Terakhir***

Marni tiba-tiba batuk keras. Tubuhnya terangkat sedikit, lalu terjatuh kembali ke ranjang. Sutejo panik.

“Ni! Bertahan! Aku panggil bantuan!”

Marni mencengkeram tangan Sutejo dengan tenaga yang entah datang dari mana. “Tidak… jangan keluar.”

Hesti menangis tertahan. “Bu, bertahan, Bu…”

Marni memejamkan mata, lalu membukanya kembali. Tatapannya kosong, menembus Hesti, menembus dinding, seolah melihat sesuatu di luar kamar.

“Sudah datang,” bisiknya.

“Siapa, Bu?” Hesti bertanya dengan suara gemetar.

Marni tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah Hesti lihat sebelumnya. Senyum pasrah.

“Yang menunggu.”

Lampu minyak padam.

Kegelapan menyelimuti kamar. Dalam gelap, terdengar suara napas, bukan satu, tapi banyak. Suara kain terseret di lantai. Suara langkah kaki pelan yang tidak berasal dari siapa pun di ruangan itu.

Sutejo berteriak, “Hesti!”

Hesti meraba-raba, mencari tangan ayahnya. “Aku di sini!”

Dalam gelap, Rahmat berdiri tepat di samping ranjang.

Ketika lampu minyak menyala kembali dengan sendirinya, Marni sudah tidak bernapas.

Matanya terbuka lebar, menatap ke langit-langit. Mulutnya sedikit terbuka, seolah hendak mengucapkan satu kata terakhir yang tidak pernah keluar.

Namun ada sesuatu yang salah.

Di sudut bibirnya, tersisa senyum kecil.

***Setelah Kematian***

Tangisan Hesti pecah. Sutejo memeluk tubuh Marni, memanggil namanya berulang kali.

“Ni… bangun… jangan begini…”

Rahmat berdiri diam.

Anak itu mengangkat tangannya perlahan, menyentuh dahi Marni. Jarinya dingin.

Lalu Rahmat tersenyum.

Hesti melihatnya.

“Rahmat…” suaranya bergetar. “Kenapa kamu senyum?”

Rahmat tidak menjawab. Ia menurunkan tangannya, lalu berjalan keluar kamar tanpa suara.

Saat subuh tiba, kabar kematian Marni menyebar ke warga desa. Beberapa tetangga datang membantu. Namun ada hal ganjil yang segera disadari.

Tubuh Marni tidak mengeras.

Seorang ibu tetangga berbisik, “Sudah lewat beberapa jam… tapi jasadnya masih hangat.”

Seorang lelaki tua menggeleng pelan. “Tidak wajar.”

Sutejo duduk terpaku, wajahnya kosong.

Hesti berdiri di ambang pintu kamar, menatap tubuh ibunya. Dalam hatinya, satu pertanyaan berputar tanpa henti:

Jika Ibu sudah mati… mengapa rasanya seperti belum pergi?

***Malam Pertama Tanpa Pemakaman***

Malam itu, sebelum jenazah dimandikan, Hesti terbangun oleh suara lirih.

“Hes…”

Suara itu datang dari kamar ibunya.

Pelan. Lembut. Sangat dikenalnya.

Hesti duduk tegak, jantungnya berdegup kencang.

“Hes… buka pintunya…”

Hesti teringat ucapan terakhir ibunya.

Kalau nanti suara Ibu memanggil… jangan jawab.

Air mata mengalir di pipinya.

Suara itu kembali terdengar, kini lebih dekat.

“Hesti…”

Di balik pintu, bayangan seseorang berdiri.

Dan bayangan itu bergerak.


 Malam Pertama Tanpa Ibu

Malam itu rumah tua terasa jauh lebih luas dari biasanya. Setiap sudutnya dipenuhi keheningan yang menekan, seolah dinding-dindingnya ikut berkabung, namun dengan cara yang tidak wajar. Lampu minyak menyala redup di ruang tengah, cahayanya tidak pernah benar-benar stabil, terus bergoyang meski tak ada angin.

Hesti duduk bersandar di dinding kamar, memeluk lututnya. Matanya sembab, napasnya tidak teratur. Di kamar sebelah, jasad Marni terbujur kaku, atau setidaknya seharusnya begitu.

Suara panggilan itu kembali terngiang di kepalanya.

Hes… buka pintunya…

Hesti menutup telinganya dengan kedua tangan, berusaha mengusir suara itu. Namun semakin ditolak, semakin jelas terdengar, seolah suara tersebut bukan datang dari luar, melainkan dari dalam kepalanya sendiri.

Papan lantai di lorong berderit.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Hesti menahan napas.

“Pak…” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban.

Dari kamar ayahnya, terdengar suara napas berat. Sutejo tertidur dengan posisi duduk, tubuhnya lelah setelah seharian menahan duka dan kebingungan. Hesti berdiri perlahan, kakinya gemetar saat melangkah keluar kamar.

Lorong tampak lebih gelap dari biasanya. Bayangan pintu kamar Marni memanjang di lantai, seolah ada cahaya dari dalam kamar, padahal lampu minyak di sana sudah lama padam.

“Hesti…”

Suara itu terdengar lagi.

Kini lebih jelas. Lebih dekat.

Hesti berhenti tepat di depan kamar ibunya. Pintu kamar tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, tampak cahaya kekuningan yang samar, sesuatu yang mustahil.

Tangannya terangkat, hampir menyentuh gagang pintu.

Ucapan terakhir Marni kembali terngiang.

Jangan jawab. Jangan buka pintu itu.

Hesti menarik tangannya cepat, mundur satu langkah. Dadanya terasa sesak.

“Aku tahu kamu di luar,” suara itu berkata pelan. Nada Marni, sangat persis, lengkap dengan jeda napas yang selalu Hesti kenal.

Air mata mengalir tanpa suara.

“Bu sudah tidak sakit lagi,” lanjut suara itu. “Bu kedinginan. Bukakan pintunya.”

Hesti menutup mulutnya agar tidak terisak.

Tiba-tiba, dari balik pintu, terdengar suara kuku menggores kayu.

Krek… krek… krek…

Perlahan. Teratur.

Seolah sesuatu sedang mencoba keluar.

***Rahmat Terbangun***

Dari ujung lorong, terdengar langkah kecil.

Rahmat berdiri di sana, mengenakan kaus lusuhnya. Matanya terbuka lebar, memantulkan cahaya aneh dari balik pintu kamar Marni. Wajahnya datar, tidak takut, tidak heran.

Rahmat berjalan mendekat.

“Rahmat, jangan ke sini,” bisik Hesti dengan suara gemetar.

Rahmat berhenti tepat di depan pintu kamar ibunya. Ia menempelkan telapak tangannya ke pintu.

Suara dari balik pintu berhenti.

Hening.

Kemudian terdengar suara lain, lebih rendah, lebih berat, seolah berasal dari tenggorokan yang bukan manusia.

“Kau terlambat,” suara itu berbisik.

Hesti menjerit pelan.

Rahmat memiringkan kepalanya, lalu mengetuk pintu tiga kali.

Tok. Tok. Tok.

Cahaya dari bawah pintu padam seketika.

Keheningan kembali menyelimuti lorong.

Rahmat menurunkan tangannya dan menoleh ke Hesti. Untuk sesaat, ada kilatan senyum kecil di sudut bibirnya, lalu menghilang.

Ia berjalan kembali ke kamarnya tanpa menoleh.

Hesti terduduk lemas di lantai.

***Gangguan yang Tak Terlihat***

Menjelang subuh, rumah itu tidak pernah benar-benar tenang. Dari dapur, terdengar suara peralatan bergeser pelan, seperti seseorang sedang menyusun barang dengan hati-hati. Sesekali, terdengar bunyi air menetes, meski kran sudah ditutup rapat.

Sutejo terbangun oleh suara itu.

“Hesti?” panggilnya.

“Ayah,” jawab Hesti dari lorong, suaranya serak.

Sutejo keluar kamar. “Kamu dengar suara itu?”

Hesti mengangguk pelan.

Mereka berdiri berdampingan di ruang tengah, memandangi dapur yang gelap.

“Paling tikus,” kata Sutejo, meski nada suaranya tidak yakin.

Tiba-tiba, pintu dapur terbuka perlahan.

Engselnya berdecit panjang.

Di ambang pintu dapur, berdiri sesosok bayangan perempuan.

Rambutnya terurai menutupi wajah. Tubuhnya kurus, terlalu kurus, dengan tangan yang menggantung panjang tak wajar. Kakinya tidak sepenuhnya menyentuh lantai.

Hesti mencengkeram lengan ayahnya.

“Itu…” suaranya tercekat.

Bayangan itu mengangkat kepalanya sedikit. Dari balik rambut hitam kusut, tampak satu mata terbuka, menatap lurus ke arah mereka.

Lampu minyak di ruang tengah padam.

Dalam gelap, terdengar suara kain diseret menjauh.

Saat lampu menyala kembali, dapur kosong.

Sutejo terduduk, tubuhnya gemetar. “Barusan… kamu lihat?”

Hesti mengangguk, air matanya jatuh. “Itu Ibu.”

Sutejo menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Tidak mungkin…”

Namun dari sudut rumah, terdengar suara tawa pelan, bukan tawa Marni yang dulu, melainkan suara yang terdengar asing, dingin, dan penuh kepuasan.

***Pagi yang Tak Membawa Kelegaan***

Pagi datang, namun rasa lega tidak ikut serta. Warga desa kembali berdatangan untuk persiapan pemakaman. Beberapa orang berbisik-bisik, memandang rumah itu dengan tatapan tidak nyaman.

“Semalaman lampunya hidup mati sendiri,” ujar seorang tetangga.

“Ada suara orang jalan-jalan,” sahut yang lain.

Hesti duduk di beranda, menatap halaman. Pohon beringin tampak lebih gelap dari kemarin. Di batangnya, terlihat bekas goresan baru, tiga garis panjang sejajar.

Rahmat berdiri di sampingnya, memandangi pohon itu dengan tenang.

Hesti menatap adiknya. “Kamu dengar suara Ibu semalam?”

Rahmat menoleh perlahan.

Ia mengangguk sekali.

Lalu, dengan jarinya, ia menulis di debu lantai beranda:

BELUM SELESAI

Hesti membeku.

Dalam hatinya, satu kepastian menguat dengan dingin yang menusuk:

Teror baru saja dimulai.

Dan Ibu tidak kembali sendirian.


**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊....

👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND