Kamis, 26 Februari 2026

Misteri Pintu Terlarang


 



@SUARITOTO - Hujan turun tanpa suara malam itu. Hanya kilat yang sesekali menyambar, menerangi rumah tua peninggalan kakek di ujung desa Cibanteng. Rumah itu sudah lama kosong, sejak kakek meninggal sepuluh tahun lalu. Tidak ada yang berani menempatinya.

Kecuali aku.

Namaku Arga. Aku datang karena desakan ekonomi—dan warisan itu satu-satunya yang tersisa. Warga desa sempat memperingatkanku.

“Jangan pernah buka pintu di lorong belakang,” kata Pak Lurah pelan, seolah takut didengar sesuatu. “Itu pintu terlarang.”

Aku mengangguk, meski dalam hati tak percaya pada tahayul.

Rumah itu besar, berdebu, dan berbau kayu lapuk. Lorong belakang yang mereka maksud terletak di samping dapur lama. Di ujung lorong itu ada sebuah pintu kayu hitam tanpa gagang. Tidak ada kunci. Tidak ada celah. Hanya permukaan kayu pekat seperti arang terbakar.

Anehnya, setiap kali aku melewati lorong itu, suhu udara mendadak dingin. Seperti ada kulkas raksasa di baliknya.

Malam pertama, aku mendengar suara ketukan.

Tok. Tok. Tok.

Berasal dari pintu itu.

Kupikir mungkin kayu memuai karena lembap. Tapi ketukan itu teratur. Seperti seseorang mengetuk dari dalam.

Aku mencoba mengabaikannya.

Malam kedua, suara itu berubah menjadi goresan panjang.

Kreekkk…

Seperti kuku yang diseret perlahan.

Aku berdiri di depan pintu itu. Jantungku berdegup kencang. “Siapa?” tanyaku pelan.

Tak ada jawaban.

Hanya napas.

Napas berat.

Dari balik pintu.

Aku mundur perlahan.

Malam ketiga, aku bermimpi tentang kakek. Ia berdiri di lorong itu, wajahnya pucat, matanya kosong.

“Jangan dibuka…” bisiknya.

Aku terbangun dengan tubuh berkeringat dingin.

Dan suara itu terdengar lagi.

Tok. Tok. Tok.

Tapi kali ini, dari dalam kamarku.

Aku menoleh ke arah pintu kamar.

Tak ada siapa-siapa.

Ketukan itu terdengar lagi—namun kini jelas berasal dari lorong belakang.

Dengan senter di tangan, aku melangkah pelan. Setiap langkah terasa berat. Lorong itu tampak lebih panjang dari biasanya. Dindingnya lembap, seperti berkeringat.

Saat aku sampai di depan pintu hitam itu, sesuatu yang berbeda terlihat.

Ada gagang.

Sebuah gagang besi tua, berkarat, seolah memang sudah ada sejak dulu.

Tanganku gemetar saat menyentuhnya. Dingin. Sangat dingin.

“Jangan,” suara kakek terngiang di kepalaku.

Tapi rasa penasaran lebih kuat.

Aku memutar gagang itu.

Klik.

Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan bau busuk menyengat—bau daging membusuk dan tanah basah.

Di baliknya bukan ruangan.

Melainkan lorong lain.

Gelap. Tak berujung.

Dan di ujung kegelapan itu… ada seseorang berdiri membelakangiku.

Rambutnya panjang, kusut. Tubuhnya kurus. Ia mengenakan pakaian yang kukenal.

Itu bajuku.

“Arga…” suara itu terdengar, tapi bukan dari sosok itu.

Suara itu berasal dari belakangku.

Aku menoleh perlahan.

Di ujung lorong rumahku, berdiri sosok lain.

Wajahnya… wajahku.

Matanya hitam sepenuhnya.

Kulitnya pucat seperti mayat.

Ia tersenyum.

“Terima kasih sudah membukakan pintunya.”

Tiba-tiba tubuhku terasa ditarik keras ke dalam lorong gelap. Aku menjerit, tapi suaraku tak keluar.

Dalam sepersekian detik, aku melihat diriku sendiri—atau sesuatu yang menyerupai diriku—berjalan keluar dari pintu terlarang itu.

Ia menutup pintu perlahan.

Klik.

Gelap.

Kini aku yang berdiri di ujung lorong tak berujung ini. Sendirian. Dengan suara ketukan yang kini berasal dari luar.

Tok. Tok. Tok.

Dan samar-samar, kudengar suaraku sendiri dari kejauhan.

“Siapa?”

Aku mencoba berteriak.

Jangan dibuka.

Tapi tak ada suara yang keluar.

Karena sekarang…

Aku adalah penghuni di balik pintu terlarang itu.



LINK TERPERCAYA SAAT INI

👉 SUARITOTO

👉 SUARITOTO

👉 DAFTAR SUARITOTO




👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar