Jumat, 06 Februari 2026

MISTERI JALANGKUNG

 


MISTERI JALANGKUNG


@SUARITOTO - Tidak semua yang dipanggil ingin dipulangkan. Ada yang datang… karena ingin tinggal.




Di ujung kampung Sukamerta, berdiri sebuah rumah tua yang sudah puluhan tahun tak berpenghuni. Dindingnya mengelupas, jendelanya pecah, dan atapnya berlubang. Tak ada orang yang berani mendekat setelah matahari tenggelam.

Konon, pemilik rumah itu dulu meninggal gantung diri bersama anak perempuannya. Sejak saat itu, rumah itu sering terdengar suara tangisan kecil di malam hari.

Empat sahabat—Raka, Dimas, Lila, dan Rani—datang ke kampung itu untuk menghabiskan liburan. Mereka menyewa rumah di dekat rumah kosong tersebut.

Malam pertama, Dimas menemukan sebuah boneka kayu kecil di gudang rumah sewaan mereka. Boneka itu terbuat dari tempurung kelapa, bertopi jerami kecil, dan tubuhnya dibalut kain lusuh.

“Aneh… ini kayak boneka jalangkung,” ucap Dimas sambil tertawa.
“Jangan main-main begitu,” jawab Lila, suaranya terdengar tak nyaman.

Tapi Raka justru tertarik.
“Katanya kalau main jalangkung di rumah angker, penunggunya lebih gampang datang.”

Rani terdiam. Sejak tiba di kampung itu, dia merasa sering diperhatikan… terutama saat malam.





Malam kedua, mereka nekat.
Di ruang tengah rumah sewaan yang lampunya redup, Raka menyiapkan boneka jalangkung di atas tikar. Lilin dinyalakan. Suasana jadi sunyi.

Dengan suara pelan, mereka membaca mantra pemanggil.
Angin mendadak berembus dari jendela yang terbuka. Api lilin bergetar liar.

“Jalangkung… jalangkung… di sini ada pesta kecil… datanglah bermain…”

Boneka itu awalnya diam.
Lalu… perlahan… kepalanya bergerak sendiri.

Rani menahan napas. Tangannya dingin.
Dimas tertawa tegang. “Kebetulan doang kali…”

Tiba-tiba, tangan boneka bergerak menulis di kertas kosong yang mereka sediakan.

“KENAPA KALIAN DATANG KE RUMAHKU?”

Lila langsung menangis kecil.
“Ini bukan bercanda… ini beneran…”

Raka menelan ludah.
“Kami cuma… pengen tahu kamu siapa…”

Tulisan berikutnya muncul:

“AKU YANG MENUNGGU DI RUMAH KOSONG.”

Suara langkah kaki terdengar dari arah luar rumah.
Padahal… tak ada siapa pun di luar.



Setelah panik, mereka buru-buru menutup permainan.
Boneka dikembalikan ke gudang. Lilin dipadamkan.

Mereka mengira semua selesai.

Malam itu, Rani bermimpi.
Ia berdiri di depan rumah kosong. Pintu terbuka sendiri. Dari dalam, terdengar suara anak kecil memanggil namanya.

“Rani… temani aku…”

Saat terbangun, Rani mendapati bekas telapak kaki kecil berlumpur di lantai kamar kos. Jejaknya berhenti tepat di samping tempat tidurnya.

Sejak malam itu, Rani mulai berubah.
Ia sering melamun, bicara sendiri, dan menatap kosong ke arah rumah kosong di ujung kampung.

Setiap malam, selalu ada suara ketukan pelan di jendelanya.

Tok… tok… tok…



Dimas mulai kerasukan.
Di dapur, tubuhnya tiba-tiba kaku. Matanya memutih. Mulutnya tertawa dengan suara yang bukan miliknya.

“Kalian sudah membuka pintu…”
“Sekarang… satu harus tinggal…”

Mereka mencoba memanggil ustaz kampung.
Saat ustaz itu datang, ia langsung pucat begitu melihat boneka jalangkung di gudang.

“Ini bukan arwah biasa,” katanya lirih.
“Ini makhluk yang terikat di rumah kosong itu. Ia butuh pengganti agar bisa pergi.”

Mereka bertanya siapa yang akan dijadikan tumbal.
Ustaz itu menatap Rani lama.

“Yang paling sering dipanggil… dialah yang sudah ditandai.”

Rani menangis.
“Aku nggak mau mati… aku nggak mau…”




Ritual dilakukan di rumah kosong itu.
Malam Jumat Kliwon.
Udara terasa berat, seperti dipenuhi napas makhluk tak terlihat.

Mereka membawa boneka jalangkung kembali ke tempat asalnya.
Mantra penutup dibaca. Tanah digali di bawah lantai rumah.

Tiba-tiba, suara tangisan anak kecil menggema di seluruh ruangan.
Bayangan hitam merayap di dinding.

Rani menjerit ketika sosok perempuan berambut panjang muncul di hadapannya. Wajahnya rusak, matanya berlubang.

“Itu ibuku…” bisik suara anak kecil.
“Aku nggak mau sendirian lagi…”

Raka memeluk Rani sambil menangis.
“Ambil aku saja!”

Namun suara itu tertawa.
“Bukan kamu yang kupilih.”

Angin berputar kencang. Lilin padam satu per satu.

Saat semuanya tenang…
Rani tergeletak tak bergerak.



Keesokan paginya, Rani ditemukan meninggal.
Wajahnya tenang… tapi bibirnya tersenyum tipis.

Sejak hari itu, rumah kosong di ujung kampung tidak lagi terdengar suara tangisan anak kecil.

Tapi…
Penduduk kampung mulai melihat sosok perempuan muda berdiri di jendela rumah kosong itu setiap malam.

Rambutnya panjang.
Tatapannya kosong.

Dan di tangannya…
ia memegang boneka jalangkung.

Sejak kejadian itu, tak ada lagi anak muda yang berani bermain jalangkung di kampung Sukamerta.

Karena mereka tahu…
yang dipanggil belum tentu mau pergi.
Dan yang pulang…
belum tentu datang sendirian. 👁️






LINK TERPERCAYA SAAT INI

👉 SUARITOTO

👉 SUARITOTO





👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND




Tidak ada komentar:

Posting Komentar