Sang Penganut
Pindah ke Rumah yang Tak Pernah Sepi
@SUARITOTO - Langit sore tampak kelabu ketika truk tua berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri terpisah dari rumah-rumah penduduk lain. Cat dindingnya mengelupas, kusen jendelanya lapuk, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar setinggi lutut. Rumah itu terlihat seperti telah lama ditinggalkan, seolah enggan disentuh kehidupan baru.
Hesti turun lebih dulu dari truk, menggendong kardus berisi pakaian. Kakinya berhenti sejenak ketika menatap rumah itu. Perasaan asing menjalar, bukan sekadar karena bentuknya yang tua, tetapi karena ada sesuatu yang terasa tidak menyambut. Angin sore berhembus pelan, membuat pintu depan yang setengah terbuka berderit pelan.
“Rumahnya… besar,” gumam Hesti, lebih kepada dirinya sendiri.
Sutejo turun menyusul, wajahnya lelah namun berusaha terlihat tegar. Tangannya menggenggam topi lusuh yang biasa dipakai saat bekerja di pabrik, pekerjaan yang kini sudah hilang sejak pabrik itu bangkrut. Pandangannya menelusuri rumah tersebut, mencoba mencari alasan untuk yakin bahwa keputusan ini benar.
“Yang penting atapnya masih utuh,” kata Sutejo, suaranya berat. “Kita cuma perlu tempat berteduh dulu.”
Dari dalam truk, terdengar batuk panjang. Marni duduk bersandar, tubuhnya semakin kurus dibanding lima tahun lalu. Wajahnya pucat, mata cekung, dan nafasnya terdengar pendek-pendek. Ia menatap rumah itu lama, terlalu lama, seolah sedang mengenang sesuatu yang tak ingin diucapkan.
“Bu… pelan-pelan,” ujar Hesti mendekat, membantu Marni turun.
Saat kaki Marni menyentuh tanah, wajahnya berubah. Bukan takut, bukan heran, melainkan seperti seseorang yang akhirnya kembali ke tempat yang dikenalnya.
“Rumah ini…” bisik Marni lirih.
Sutejo menoleh. “Kenapa, Ni?”
Marni menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Hanya… rumah lama.”
Nada suaranya terdengar ambigu, membuat Hesti menatap ibunya dengan dahi berkerut. Ada sesuatu yang disembunyikan, dan Hesti merasakannya dengan jelas, meski belum tahu apa.
Rahmat turun terakhir, digandeng Hesti. Anak itu diam seperti biasa. Matanya menatap rumah tersebut tanpa berkedip, lalu perlahan mengalihkan pandangan ke arah pohon besar di samping rumah, pohon beringin tua dengan akar menggantung seperti jari-jari yang mencengkeram tanah.
Rahmat berhenti melangkah.
“Hesti…” Sutejo memanggil. “Ajak adikmu masuk.”
Hesti menunduk. “Ayo, Mat.”
Rahmat tidak menolak, namun sebelum masuk, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil yang aneh, bukan senyum anak kecil yang polos, melainkan senyum tipis, singkat, lalu menghilang begitu saja.
***Di Dalam Rumah***
Pintu utama terbuka penuh dengan suara berderit panjang, seolah mengeluh karena kembali digunakan. Debu menari di udara ketika cahaya senja masuk melalui jendela-jendela besar yang ditutup tirai lusuh.
Aroma lembap bercampur bau kayu tua memenuhi ruangan.
“Bau rumah kosong,” gumam Sutejo.
Marni melangkah masuk perlahan, tangannya menyentuh dinding. Jemarinya berhenti pada sebuah ukiran kecil di dekat pintu—simbol yang hampir tertutup cat, samar, nyaris tak terlihat.
Marni menarik tangannya cepat, seperti tersengat.
“Bu?” Hesti memperhatikan.
“Jangan sentuh dinding itu,” kata Marni cepat. “Catnya kotor.”
Alasan yang terdengar biasa, namun cara Marni mengatakannya terasa seperti larangan.
Sutejo meletakkan barang-barang di ruang tengah. “Kita bersihkan pelan-pelan. Rumah ini masih bisa ditinggali.”
Hesti mengangguk, namun matanya menangkap sesuatu di sudut ruangan, sebuah pintu kecil di bawah tangga yang tertutup rapat, digembok dengan rantai besi berkarat.
“Itu apa, Pak?” tanya Hesti.
Sutejo menoleh sekilas. “Mungkin gudang lama.”
Marni langsung memotong. “Jangan dibuka.”
Nada suaranya tegas, nyaris keras.
Sutejo terdiam sejenak. “Kenapa?”
Marni menelan ludah. “Tidak perlu. Rumah ini sudah lama kosong. Bisa berbahaya.”
Hesti semakin yakin, ada sesuatu yang tidak beres. Ibu yang biasanya pendiam kini terlihat terlalu waspada, bahkan terhadap sudut rumah yang baru saja dimasuki.
***Percakapan Malam Pertama***
Malam turun cepat di desa itu. Lampu minyak menjadi satu-satunya penerangan karena listrik belum tersambung. Bayangan di dinding bergerak-gerak mengikuti nyala api.
Sutejo duduk di lantai, memijat pelipisnya. “Aku tidak tahu sampai kapan keadaan begini.”
Hesti menatap ayahnya. “Kita bisa cari kerja di desa, Pak.”
Sutejo tersenyum tipis. “Ayah akan coba. Demi kalian.”
Marni duduk bersandar di dinding, memandangi api lampu dengan tatapan kosong. Sesekali bibirnya bergerak, seperti sedang berbisik tanpa suara.
“Hesti,” panggil Marni tiba-tiba.
“Ya, Bu?”
“Kalau nanti Ibu… tidak ada,” ucap Marni pelan, “jaga adikmu.”
Sutejo langsung menoleh. “Jangan bicara begitu.”
Marni tersenyum lemah. “Hanya berjaga-jaga.”
Hesti ingin bertanya lebih jauh, namun Rahmat tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah tangga. Anak itu berhenti di depan pintu gudang kecil yang tadi dibicarakan.
Rahmat menempelkan telinganya ke pintu.
“Rahmat!” Hesti berdiri cepat. “Jangan ke situ.”
Rahmat menoleh perlahan. Matanya memantulkan cahaya lampu minyak. Untuk sesaat, tatapan itu terlihat terlalu dalam untuk anak seusianya.
Rahmat mengangkat tangannya, menunjuk ke arah pintu, lalu ke dadanya sendiri.
Marni gemetar. “Jangan… jangan ke sana.”
Rahmat menurunkan tangannya, lalu berjalan kembali tanpa ekspresi.
Malam itu, angin berhembus kencang. Dari luar, terdengar suara dedaunan berdesir dan sesuatu yang seperti langkah kaki mengitari rumah.
Hesti terjaga lama, menatap langit-langit, dengan satu pikiran yang terus berulang:
Rumah ini tidak kosong.
Dan mereka bukan tamu pertama.
Pagi pertama di rumah tua itu datang tanpa kehangatan. Matahari memang terbit, namun cahayanya tertahan oleh pepohonan besar yang mengelilingi rumah, membuat halaman selalu berada dalam bayang-bayang. Udara terasa lembap dan dingin, meski musim kemarau seharusnya membawa panas.
Marni terbangun dengan napas tersengal. Dadanya terasa berat, seperti ada beban menindih dari dalam. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara selimut tipis yang menutup tubuhnya terasa terlalu berat.
“Hesti…” panggilnya pelan.
Hesti yang tidur di dekat pintu kamar langsung terbangun. “Ibu kenapa?”
Marni menggenggam tangan Hesti erat. Genggamannya dingin, namun kuat, seolah takut terlepas.
“Air…” bisiknya.
Hesti bergegas mengambil air dari kendi. Saat Marni minum, tangannya bergetar hebat hingga air tumpah membasahi dagu.
“Pelan-pelan, Bu.”
Marni berhenti minum, menatap Hesti dengan mata merah berair. “Ibu mimpi lagi.”
“Mimpi apa?”
Marni menoleh ke arah jendela yang tertutup tirai. “Ada orang berdiri di bawah pohon. Mereka memanggil nama Ibu.”
Hesti menelan ludah. “Siapa?”
Marni menggeleng. “Wajahnya tidak jelas. Tapi Ibu tahu… mereka menunggu.”
***Kondisi yang Tak Pernah Jelas***
Sakit Marni bukan hal baru. Lima tahun terakhir hidup keluarga Sutejo berputar di antara rumah sakit, dukun, tabib, dan doa-doa panjang yang tak kunjung memberi jawaban. Setiap dokter memberikan diagnosis berbeda, namun tidak satu pun benar-benar mampu menjelaskan mengapa tubuh Marni terus melemah.
Siang itu, Sutejo duduk di samping ranjang Marni. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya, dipenuhi garis kelelahan.
“Bapak desa bilang ada mantri yang bisa datang besok,” kata Sutejo pelan.
Marni tersenyum tipis. “Tidak usah.”
“Kita harus coba,” jawab Sutejo, nada suaranya sedikit meninggi. “Selama ini kita tidak boleh menyerah.”
Marni memalingkan wajah. “Penyakit ini bukan untuk disembuhkan.”
Ucapan itu membuat ruangan terasa lebih sempit.
Sutejo terdiam. “Apa maksudmu?”
Marni menutup mata. “Waktunya hampir habis.”
Sutejo berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. “Jangan bicara seperti orang yang sudah menyerah.”
Marni membuka mata perlahan. Tatapannya tajam, jauh berbeda dari tubuhnya yang rapuh. “Ada hal-hal yang tidak bisa dihindari.”
Hesti menyimak dari ambang pintu. Setiap kata ibunya terdengar seperti potongan teka-teki yang tak pernah utuh.
***Rahmat dan Keheningan yang Mengganggu***
Rahmat duduk di lantai ruang tengah, menyusun potongan kayu kecil menjadi lingkaran. Polanya rapi, terlalu rapi untuk permainan anak kecil. Setiap potongan disusun dengan jarak sama, membentuk simbol yang tak dikenal.
Hesti memperhatikannya dari jauh. “Mat, itu apa?”
Rahmat tidak menjawab. Ia hanya menambahkan satu potongan kayu di tengah lingkaran, lalu menatap hasilnya lama.
Sutejo mendekat. “Rahmat.”
Rahmat menoleh perlahan. Matanya kosong, namun di dalamnya seperti ada sesuatu yang sedang mengamati balik.
Sutejo berjongkok. “Jangan main di lantai dingin.”
Rahmat berdiri tanpa suara. Saat melangkah pergi, kakinya menyenggol susunan kayu itu, namun tidak satu pun bergeser, seolah sudah menempel pada lantai.
Hesti merinding.
***Malam yang Selalu Sama***
Setiap malam, Marni selalu terbangun di jam yang sama. Sekitar pukul tiga dini hari. Nafasnya memburu, matanya terbuka lebar, menatap langit-langit seperti melihat sesuatu bergerak di sana.
“Ibu… lihat apa?” tanya Hesti suatu malam.
Marni berbisik, suaranya hampir tak terdengar. “Mereka menghitung.”
“Menghitung apa?”
“Waktu.”
Di luar, angin bertiup pelan. Daun beringin bergesekan, menciptakan suara seperti bisikan berlapis-lapis. Sutejo terbangun dan duduk di ranjang.
“Tidak ada siapa-siapa,” katanya, lebih kepada meyakinkan diri sendiri.
Marni tersenyum pahit. “Justru karena itu.”
***Pengakuan yang Tak Pernah Selesai***
Suatu sore, saat tubuh Marni terlihat sangat lemah, ia memanggil Hesti mendekat. Suaranya gemetar, napasnya pendek-pendek.
“Hesti,” katanya. “Dengarkan baik-baik.”
Hesti duduk di sisi ranjang. “Ibu mau bilang apa?”
Marni menatap wajah anak tertuanya lama. “Ibu bukan ibu kandungmu.”
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Hesti terdiam. “Apa maksudnya?”
Marni menghela napas panjang. “Ibu tidak bisa punya anak. Sejak awal.”
Hesti mencoba tersenyum, meski hatinya bergetar. “Itu tidak penting.”
Marni menggenggam tangan Hesti. “Yang penting… jangan percaya semua yang Ibu katakan selama ini.”
Hesti ingin bertanya, namun Marni tiba-tiba batuk keras, tubuhnya menggigil hebat. Dari sudut ruangan, Rahmat berdiri diam, menatap ibunya dengan ekspresi datar.
Lampu minyak berkedip.
Bayangan Marni di dinding tampak lebih tinggi, lebih kurus, dan untuk sesaat, memiliki bentuk yang tidak sepenuhnya manusia.
Hesti memejamkan mata, berharap semua itu hanya ilusi kelelahan.
Namun jauh di dalam dirinya, satu keyakinan mulai tumbuh perlahan:
Sakit Marni bukan penyakit biasa.
Dan lima tahun itu bukan penderitaan, melainkan penundaan.
Hujan turun tanpa suara petir malam itu. Gerimis halus, panjang, dan dingin, seolah langit ikut menahan napas. Atap rumah tua meneteskan air di beberapa sudut, menciptakan irama pelan yang berulang-ulang, seperti hitungan waktu yang tak pernah berhenti.
Marni terbaring di ranjang bambu, tubuhnya tampak semakin ringan, nyaris seperti bayangan dari dirinya sendiri. Kulitnya pucat keabu-abuan, bibirnya kebiruan. Napasnya terdengar pendek dan terputus-putus, seolah setiap tarikan adalah usaha terakhir.
Sutejo duduk di sisi ranjang sejak sore, matanya merah, tangannya menggenggam tangan istrinya yang dingin.
“Hesti… tidur saja,” kata Sutejo pelan.
Hesti menggeleng. “Aku mau di sini.”
Rahmat duduk di sudut kamar, memeluk lututnya. Matanya tidak terpejam sejak matahari terbenam. Tatapannya lurus ke arah ibunya, tanpa berkedip.
Marni membuka mata perlahan.
“Jo…” bisiknya.
Sutejo segera mencondongkan tubuh. “Iya, Ni. Aku di sini.”
Marni menelan ludah dengan susah payah. “Kalau nanti… suara Ibu memanggil… jangan jawab.”
Kalimat itu membuat Hesti tercekat.
“Bu, jangan bicara begitu,” ucap Hesti cepat.
Marni mengalihkan pandangan ke Hesti. Tatapannya lembut, namun ada kesedihan yang dalam, bercampur ketakutan.
“Hesti,” katanya lirih, “apa pun yang terjadi… jangan buka pintu itu.”
“Pintu yang mana?” tanya Hesti.
Marni tidak menjawab. Napasnya semakin cepat.
Di luar kamar, angin tiba-tiba berembus lebih kencang. Daun beringin bergesekan, menciptakan suara seperti ratusan bisikan yang tumpang tindih. Lampu minyak di kamar bergetar, nyalanya mengecil lalu membesar kembali.
Rahmat berdiri.
Ia melangkah perlahan mendekati ranjang. Tangannya terulur, menyentuh selimut di kaki Marni.
Marni menatap Rahmat.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Marni berubah, ketakutan murni.
“Jangan…” desisnya.
Rahmat memiringkan kepala, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang hanya bisa ia dengar. Lalu, tanpa suara, ia membuka mulutnya, seolah ingin berbicara.
Namun yang keluar bukan suara.
Hanya hembusan napas dingin yang membuat lampu minyak hampir padam.
***Detik-detik Terakhir***
Marni tiba-tiba batuk keras. Tubuhnya terangkat sedikit, lalu terjatuh kembali ke ranjang. Sutejo panik.
“Ni! Bertahan! Aku panggil bantuan!”
Marni mencengkeram tangan Sutejo dengan tenaga yang entah datang dari mana. “Tidak… jangan keluar.”
Hesti menangis tertahan. “Bu, bertahan, Bu…”
Marni memejamkan mata, lalu membukanya kembali. Tatapannya kosong, menembus Hesti, menembus dinding, seolah melihat sesuatu di luar kamar.
“Sudah datang,” bisiknya.
“Siapa, Bu?” Hesti bertanya dengan suara gemetar.
Marni tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah Hesti lihat sebelumnya. Senyum pasrah.
“Yang menunggu.”
Lampu minyak padam.
Kegelapan menyelimuti kamar. Dalam gelap, terdengar suara napas, bukan satu, tapi banyak. Suara kain terseret di lantai. Suara langkah kaki pelan yang tidak berasal dari siapa pun di ruangan itu.
Sutejo berteriak, “Hesti!”
Hesti meraba-raba, mencari tangan ayahnya. “Aku di sini!”
Dalam gelap, Rahmat berdiri tepat di samping ranjang.
Ketika lampu minyak menyala kembali dengan sendirinya, Marni sudah tidak bernapas.
Matanya terbuka lebar, menatap ke langit-langit. Mulutnya sedikit terbuka, seolah hendak mengucapkan satu kata terakhir yang tidak pernah keluar.
Namun ada sesuatu yang salah.
Di sudut bibirnya, tersisa senyum kecil.
***Setelah Kematian***
Tangisan Hesti pecah. Sutejo memeluk tubuh Marni, memanggil namanya berulang kali.
“Ni… bangun… jangan begini…”
Rahmat berdiri diam.
Anak itu mengangkat tangannya perlahan, menyentuh dahi Marni. Jarinya dingin.
Lalu Rahmat tersenyum.
Hesti melihatnya.
“Rahmat…” suaranya bergetar. “Kenapa kamu senyum?”
Rahmat tidak menjawab. Ia menurunkan tangannya, lalu berjalan keluar kamar tanpa suara.
Saat subuh tiba, kabar kematian Marni menyebar ke warga desa. Beberapa tetangga datang membantu. Namun ada hal ganjil yang segera disadari.
Tubuh Marni tidak mengeras.
Seorang ibu tetangga berbisik, “Sudah lewat beberapa jam… tapi jasadnya masih hangat.”
Seorang lelaki tua menggeleng pelan. “Tidak wajar.”
Sutejo duduk terpaku, wajahnya kosong.
Hesti berdiri di ambang pintu kamar, menatap tubuh ibunya. Dalam hatinya, satu pertanyaan berputar tanpa henti:
Jika Ibu sudah mati… mengapa rasanya seperti belum pergi?
***Malam Pertama Tanpa Pemakaman***
Malam itu, sebelum jenazah dimandikan, Hesti terbangun oleh suara lirih.
“Hes…”
Suara itu datang dari kamar ibunya.
Pelan. Lembut. Sangat dikenalnya.
Hesti duduk tegak, jantungnya berdegup kencang.
“Hes… buka pintunya…”
Hesti teringat ucapan terakhir ibunya.
Kalau nanti suara Ibu memanggil… jangan jawab.
Air mata mengalir di pipinya.
Suara itu kembali terdengar, kini lebih dekat.
“Hesti…”
Di balik pintu, bayangan seseorang berdiri.
Dan bayangan itu bergerak.
Malam itu rumah tua terasa jauh lebih luas dari biasanya. Setiap sudutnya dipenuhi keheningan yang menekan, seolah dinding-dindingnya ikut berkabung, namun dengan cara yang tidak wajar. Lampu minyak menyala redup di ruang tengah, cahayanya tidak pernah benar-benar stabil, terus bergoyang meski tak ada angin.
Hesti duduk bersandar di dinding kamar, memeluk lututnya. Matanya sembab, napasnya tidak teratur. Di kamar sebelah, jasad Marni terbujur kaku, atau setidaknya seharusnya begitu.
Suara panggilan itu kembali terngiang di kepalanya.
Hes… buka pintunya…
Hesti menutup telinganya dengan kedua tangan, berusaha mengusir suara itu. Namun semakin ditolak, semakin jelas terdengar, seolah suara tersebut bukan datang dari luar, melainkan dari dalam kepalanya sendiri.
Papan lantai di lorong berderit.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Hesti menahan napas.
“Pak…” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban.
Dari kamar ayahnya, terdengar suara napas berat. Sutejo tertidur dengan posisi duduk, tubuhnya lelah setelah seharian menahan duka dan kebingungan. Hesti berdiri perlahan, kakinya gemetar saat melangkah keluar kamar.
Lorong tampak lebih gelap dari biasanya. Bayangan pintu kamar Marni memanjang di lantai, seolah ada cahaya dari dalam kamar, padahal lampu minyak di sana sudah lama padam.
“Hesti…”
Suara itu terdengar lagi.
Kini lebih jelas. Lebih dekat.
Hesti berhenti tepat di depan kamar ibunya. Pintu kamar tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, tampak cahaya kekuningan yang samar, sesuatu yang mustahil.
Tangannya terangkat, hampir menyentuh gagang pintu.
Ucapan terakhir Marni kembali terngiang.
Jangan jawab. Jangan buka pintu itu.
Hesti menarik tangannya cepat, mundur satu langkah. Dadanya terasa sesak.
“Aku tahu kamu di luar,” suara itu berkata pelan. Nada Marni, sangat persis, lengkap dengan jeda napas yang selalu Hesti kenal.
Air mata mengalir tanpa suara.
“Bu sudah tidak sakit lagi,” lanjut suara itu. “Bu kedinginan. Bukakan pintunya.”
Hesti menutup mulutnya agar tidak terisak.
Tiba-tiba, dari balik pintu, terdengar suara kuku menggores kayu.
Krek… krek… krek…
Perlahan. Teratur.
Seolah sesuatu sedang mencoba keluar.
***Rahmat Terbangun***
Dari ujung lorong, terdengar langkah kecil.
Rahmat berdiri di sana, mengenakan kaus lusuhnya. Matanya terbuka lebar, memantulkan cahaya aneh dari balik pintu kamar Marni. Wajahnya datar, tidak takut, tidak heran.
Rahmat berjalan mendekat.
“Rahmat, jangan ke sini,” bisik Hesti dengan suara gemetar.
Rahmat berhenti tepat di depan pintu kamar ibunya. Ia menempelkan telapak tangannya ke pintu.
Suara dari balik pintu berhenti.
Hening.
Kemudian terdengar suara lain, lebih rendah, lebih berat, seolah berasal dari tenggorokan yang bukan manusia.
“Kau terlambat,” suara itu berbisik.
Hesti menjerit pelan.
Rahmat memiringkan kepalanya, lalu mengetuk pintu tiga kali.
Tok. Tok. Tok.
Cahaya dari bawah pintu padam seketika.
Keheningan kembali menyelimuti lorong.
Rahmat menurunkan tangannya dan menoleh ke Hesti. Untuk sesaat, ada kilatan senyum kecil di sudut bibirnya, lalu menghilang.
Ia berjalan kembali ke kamarnya tanpa menoleh.
Hesti terduduk lemas di lantai.
***Gangguan yang Tak Terlihat***
Menjelang subuh, rumah itu tidak pernah benar-benar tenang. Dari dapur, terdengar suara peralatan bergeser pelan, seperti seseorang sedang menyusun barang dengan hati-hati. Sesekali, terdengar bunyi air menetes, meski kran sudah ditutup rapat.
Sutejo terbangun oleh suara itu.
“Hesti?” panggilnya.
“Ayah,” jawab Hesti dari lorong, suaranya serak.
Sutejo keluar kamar. “Kamu dengar suara itu?”
Hesti mengangguk pelan.
Mereka berdiri berdampingan di ruang tengah, memandangi dapur yang gelap.
“Paling tikus,” kata Sutejo, meski nada suaranya tidak yakin.
Tiba-tiba, pintu dapur terbuka perlahan.
Engselnya berdecit panjang.
Di ambang pintu dapur, berdiri sesosok bayangan perempuan.
Rambutnya terurai menutupi wajah. Tubuhnya kurus, terlalu kurus, dengan tangan yang menggantung panjang tak wajar. Kakinya tidak sepenuhnya menyentuh lantai.
Hesti mencengkeram lengan ayahnya.
“Itu…” suaranya tercekat.
Bayangan itu mengangkat kepalanya sedikit. Dari balik rambut hitam kusut, tampak satu mata terbuka, menatap lurus ke arah mereka.
Lampu minyak di ruang tengah padam.
Dalam gelap, terdengar suara kain diseret menjauh.
Saat lampu menyala kembali, dapur kosong.
Sutejo terduduk, tubuhnya gemetar. “Barusan… kamu lihat?”
Hesti mengangguk, air matanya jatuh. “Itu Ibu.”
Sutejo menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Tidak mungkin…”
Namun dari sudut rumah, terdengar suara tawa pelan, bukan tawa Marni yang dulu, melainkan suara yang terdengar asing, dingin, dan penuh kepuasan.
***Pagi yang Tak Membawa Kelegaan***
Pagi datang, namun rasa lega tidak ikut serta. Warga desa kembali berdatangan untuk persiapan pemakaman. Beberapa orang berbisik-bisik, memandang rumah itu dengan tatapan tidak nyaman.
“Semalaman lampunya hidup mati sendiri,” ujar seorang tetangga.
“Ada suara orang jalan-jalan,” sahut yang lain.
Hesti duduk di beranda, menatap halaman. Pohon beringin tampak lebih gelap dari kemarin. Di batangnya, terlihat bekas goresan baru, tiga garis panjang sejajar.
Rahmat berdiri di sampingnya, memandangi pohon itu dengan tenang.
Hesti menatap adiknya. “Kamu dengar suara Ibu semalam?”
Rahmat menoleh perlahan.
Ia mengangguk sekali.
Lalu, dengan jarinya, ia menulis di debu lantai beranda:
BELUM SELESAI
Hesti membeku.
Dalam hatinya, satu kepastian menguat dengan dingin yang menusuk:
Teror baru saja dimulai.
Dan Ibu tidak kembali sendirian.
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:
Posting Komentar