Sabtu, 31 Mei 2025

Mengenal Si Gale-Gale, Boneka dengan Kisah Pilu & Mistis dari Samosir

 



Mengenal Si Gale-Gale, Boneka dengan Kisah Pilu & Mistis dari Samosir



Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar Samosir? Pulau yang indah? Atau Danau Toba yang mempesona? Memang Samosir erat kaitannya dengan Danau Toba, sebab Samosir berada di tengah danau terbesar di Indonesia itu. 



Tetapi ketika lebih diteliti lagi, selain berjumpa dengan Danau Toba, kamu juga akan menemukan sebuah boneka laki-laki seukuran tubuh manusia. Boneka ini berpenampilan rapi, lengkap dengan busana khas Batak dan ulos.

Ya, boneka itu adalah Sigale-gale, yang kini menjadi atraksi wisata yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Samosir. Walau Sigale-gale terkenal karena pertunjukannya ketika menari tor-tor, sebenarnya ada kisah yang dipercaya oleh masyarakat setempat.


Usut punya usut, kabarnya patung ini mempunya nilai mistis, sebab Sigale-gale bisa menangis dan menari tanpa diiringi musik. Tak berhenti sampai di situ saja, ada juga yang mengatakan jika siapa pun yang membuat Sigale-gale akan meninggal usai patung selesai dibuat.

Untuk mencegahnya, saat membuat patung Sigale-gale harus dilakukan secara terpisah, misalnya ada yang mengerjakan bagian tangan, kaki, kepala, atau badan. Dengan cara ini, maka tidak ada tumbal yang jatuh.



Unsur horor lainnya, Sigale-gale hanya bisa ditempatkan di peti mati, bahkan ia bisa menari di atas peti mati. Patung ini juga lazim digunakan dalam upacara kematian keluarga di daerah Samosir, tarian Sigale-gale dipercaya oleh warga setempat dapat mengantarkan arwah mendiang ke alam baka.


Terlepas dari itu, jauh sebelum memiliki nilai mistis, Sigale-gale juga mempunyai cerita yang memilukan. Dahulu ada Raja Rahat yang kala itu bertakhta di salah satu kerjaan Samosir. 

Informasi penting disajikan secara kronologis

Suatu ketika, hulubalang (prajurit) melaporkan kepada raja bahwa di hutan perbatasan terjadi kekacauan. Untuk mengatasinya, sang raja akhirnya mengutus anak semata wayangnya guna menjadi panglima perang.

Anak lelaki bernama Manggale itu akhirnya pergi untuk berperang melawan musuh di perbatasan.Ketika perang sudah usai dan para hulubalang kembali, sayanganya sang putra tidak ada di dalam rombongan mereka.


Siapa sangka, ternyata nasib buruk menimpa Manggale, karena dirinya gugur ketika berperang. Bahkan jenazah Manggale pun tak ditemukan. Raja yang mendengar jika anak tunggalnya telah gugur dalam perang pun sangat sedih hingga jatuh sakit.



Para menteri dan datu berusaha untuk menolong sang raja agar terhibur dan tak teringat anaknya kembali. Sampai suatu ketika ada sibaso atau dukun perempuan yang menerawang

Sibaso mangatakan jika sang raja rindu kepada anaknya dan menyarankan untuk membuatkan patung yang mirip dengan mendiang Manggale. Akhirnya semua sepakat untuk membuat patung yang terbuat dari kayu itu. 


Melihat patung yang menyerupai anaknya, sang raja pun berangsur sehat dan membaik. Bahkan raja membuat pesta besar, dirinya mengundang pargossi untuk memainkan musik sabangunan, ditambah sordam untuk meminta arwah anakanya masuk ke dalam patung itu.

Dan patung yang mirip Manggale dinamakan Sigale-gale, yang artinya lemah gemulai. Sejak saat itu, boneka Sigale-gale sering dimainkan sebagai pertunjukan yang hanya ada di Samosir saja. 



Jika ingin melihat pertunjukan Sigale-gale, kamu bisa mengunjungi tempat wisata di Tomok atau Museum Hutabolon Simanindo. Pertunjukan selama satu jam ini memperlihatkan patung Sigale-gale menarik dengan bantuan benang yang dimainkan seorang dalang.

Jumat, 30 Mei 2025

Kisah Tragis Ajal Pelaku Pesugihan Babi Ngepet


 

Kisah Tragis Ajal Pelaku Pesugihan Babi Ngepet



“Mas, aku gak mau ngelakuin kayak gini lagi,” ujar Dina sembari menangis. 


“Udahlah, mendingan kamu jagain lilin ini supaya gak mati,” ucap Arman setengah membentak. 

Dina yang berlinang air mata mulai menyalakan lilin. Dalam sekejap, suaminya yang duduk di lantai dengan diselimuti jubah kemudian berubah menjadi seekor babi besar berwarna hitam. 

Sudah tujuh kali Arman dan Dina melakukan pesugihan babi ngepet, dan ini adalah upaya mereka yang kedelapan. Adapun percobaan pertama mereka lakukan karena desakan ekonomi. 

Awalnya, baik Arman maupun Dina tidak memiliki pikiran sama sekali untuk melakukan pesugihan babi ngepet. Dina sudah terbiasa mengurusi pekerjaan rumah, dan Arman bekerja di sebuah pabrik baterai yang berada di kota mereka tinggal. 

Semua berubah ketika goncangan ekonomi pada pabrik tempat Arman bekerja yang dampaknya adalah gelombang PHK besar-besaran. Arman yang saat itu sudah memiliki jabatan bagus harus tersapu bersama ratusan pekerja lainnya. 


Peristiwa menyedihkan ini membuat Arman harus luntang-lantung mencari pekerjaan lain. Ia sudah mengirimkan lamaran ke-5 perusahaan berbeda, tapi tidak ada satupun yang membalas. Pria itu berasumsi bahwa penolakan yang terjadi dalam upayanya mencari pekerjaan diakibatkan oleh usianya yang hampir menginjak 45 tahun. 

Uang pesangon pun tidak mereka manfaatkan dengan baik. Baik Arman maupun Dina merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengelola bisnis, sehingga mereka memilih untuk menyimpannya, berharap ada peluang bisnis yang cocok untuk mereka pekerjakan. 

Nasib berkata lain. Uang pesangon mereka yang semakin menipis tidak diiringi dengan usaha mereka untuk mendirikan sebuah bisnis. Arman dan Dina malah menggunakannya untuk membeli barang elektronik juga perabotan rumah tangga.  


Arman sebenarnya sempat mencicil sepeda motor yang Ia gunakan untuk bekerja sebagai ojek, tapi penghasilannya tersebut tidak dapat menutupi kebutuhan keluarganya, sehingga motor tersebut harus ditarik lagi karena putusnya uang cicilan. 

Sebagai kepala keluarga, Arman bingung melihat keadaan perekonomiannya yang kian memburuk. Semua itu diperparah dengan anak semata wayangnya, Hilman, sebentar lagi duduk di bangku SMP yang di mana memerlukan biaya. 

Himpitan ekonomilah yang membuat mereka memutuskan untuk melakukan pesugihan babi ngepet. Berkat bantuan seorang dukun yang dikenalkan oleh teman lama Arman, Arman dan Dina berada di sebuah situasi yang dapat memulihkan keadaan ekonomi mereka.  


Saat itu di desa mereka baru saja kedatangan sepasang suami istri. Sang suami adalah pensiunan tentara dan sang istri seorang wirausaha yang menjual busana muslim. Arman dan Dina menjadikan mereka sasaran pertama karena asumsi bahwa orang baru tidak tahu apa-apa tentang tempat tinggal mereka. 


Ternyata benar saja, upaya pertama mereka tidak sesulit yang mereka pikirkan. Dalam waktu kurang dari 3 jam, mereka bisa mendapatkan hampir Rp10 juta dari rumah pasangan tua tersebut. 

Tidak ingin jatuh di lubang yang sama, Arman dan Dina sepakat untuk mempergunakan uang haram tersebut untuk bisnis membuka warung sembako, sisanya untuk ditabung. 

Semenjak pesugihan pertama, keuangan mereka berangsur membaik. Hilman dapat bersekolah dengan tenang, dan pemasukan dari toko kelontong selalu bisa diandalkan setiap bulannya. Hanya saja, kedua hal itu tidak membuat Arman berhenti untuk melakukan pekerjaan setan itu. 

Informasi penting disajikan secara kronologis

Sebelumya mereka sepakat bahwa mereka akan berhenti ketika keadaan mereka membaik, tapi kenyataannya Arman semakin rajin melakukan ritual babi ngepet tersebut dengan alasan menjadi babi tidak sesulit bekerja di pabrik atau merintis bisnis. 


Dina sudah mencoba menghentikan Arman, mulai dari menasihati hingga memohon-mohon. Hanya saja upaya yang sudah ia lakukan berkali-kali tersebut dibalas oleh pukulan atau tendangan berkali-kali.

Tak jarang Dina menjaga temaram lilin dengan keadaan berlinang air mata, seperti malam ini. Ia sudah tidak tahan dengan perlakuan Herman terhadapnya, meski ia sungguh menyayangi keluarga kecilnya itu. 

Arman tiba di rumah sasarannya, rumah ibu Jamilah. Ia mengincar rumah tersebut karena baru genap 2 bulan ia ditinggal wafat oleh suaminya tanpa seorang anak. Hanya ada seorang asisten rumah tangga yang setia. 

Arman mulai menggesek-gesekan hidung ke pagar rumah ibu Jamilah yang tingginya satu setengah meter. Entah bagaimana caranya, dengan menggesek-gesekan hidung ke pagar rumah sasaran, uang si pemilik rumah otomatis berpindah ke hadapan Dina. 



Di hadapan Dina, uang pecahan Rp100 ribu berserakan, tapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Ia memikirkan keselamatan Arman dan perasaan anak semata wayangnya Hilman, jika tahu bahwa semua yang dimilikinya adalah hasil pesugihan. 

Saat sedang asik menggesek-gesek pagar, ada cahaya yang menyilaukan pengelihatan Arman. Dalam wujud babi, ia terperanjat karena cahaya tersebut tidak beranjak, pertanda bahwa seseorang yang menggunakannya memperhatikannya. 

“Babi! Ada Babi,” teriak seorang pria di atas sepeda motornya. 

Arman tidak dapat melihat jelas wajah pria tersebut karena ia panik dan memutuskan untuk melarikan diri. Melihat seekor babi berlari ketika diteriaki membuat si pengendara motor berpikir bahwa yang ia lihat bukanlah babi biasa.

Ia kemudian memacu sepeda motornya untuk mengejar Arman. Ia pun sambil berteriak untuk memberitahukan bahwa ada babi ngepet. 


“Babi ngepet! Ada babi ngepet!” 

Teriakan tersebut cukup keras untuk didengar sebuah desa yang setiap malam diselimuti keheningan. Warga pun kaget atas peringatan itu, dan spontan mengambil benda yang ada di sekitarnya untuk menghajar Arman yang lari kocar-kacir. 

Kesempatan Arman untuk bisa melarikan diri semakin kecil karena ia melihat jumlah warga yang mengejarnya semakin banyak, dan beberapa di antaranya membawa tali dan senjata tajam. Arman tak tahu harus berlari ke mana, ia hanya mencoba mencari jalan yang sekiranya tidak ada orang. 

Meski begitu, upayanya untuk menghindar dari amukan warga desa harus gagal karena tembakan dari senapan angin. Dua butir peluru yang menembus paha membuatnya tumbang. 

Dalam wujud babi, Arman diikat dengan keadaan babak belur. Ia lalu diarak menuju kantor kepala desa.



Apa yang Arman lihat sekarang ini mungkin adalah waktu-waktu terakhirnya. Termasuk waktu terakhir bagi dirinya untuk melihat istri dan anak kesayangannya yang terlihat dari kejauhan. Mereka pergi membawa 2 tas dan 3 bungkusan besar, tanpa ia bisa memanggilnya. (bel)


👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND




Kamis, 29 Mei 2025

Cerita Horor: Kuntilanak-Pocong yang Jail di Kosan dan Ingatan Masa Lalu

 



Malam itu suasana kosan tidak seperti biasanya, di luar kosan terasa begitu sunyi. Kalau kata orang Jawa "seminep". Hal senada juga dirasakan oleh kawan yang satu kosan dengan saya, Avidh namanya. Dia merasakan kalau malam ini suasananya berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Maul kawan saya yang sering main ke kosan juga merasakan hal sama, dia memutuskan untuk pulang lebih cepat.


Selepas Maul pulang saya merasakan lapar, perut keroncongan minta untuk segera diisi, sebab sedari siang saya belum makan. Saya pun memutuskan untuk membeli nasi goreng, tidak jauh dari kosan. Begitu saya membuka pintu terdengar suara kokok ayam. Saya berpikir positif, sebab memang ada yang memiliki ayam di sekitar kosan.

Kosan yang sekarang saya tempati bisa dikatakan adalah sebuah kompleks kosan, terdapat beberapa tipe, tentu dengan spesifikasi harga yang berbeda-beda. Kosan saya berada di kompleks belakang, maka dari itu jika hendak keluar saya harus melewati kompleks tengah dan kompleks depan.

Sudah tiga minggu ini, dua kosan di kompleks tengah kosong. Akibatnya jalan menjadi gelap, sebab lampu teras tidak dinyalakan. Meskipun gelap suasana dalam kosan terlihat dengan jelas, sebab kaca depan tidak berkelambu. 


Ketika saya membeli nasi goreng, saya berusaha untuk tidak menengok ke arah kaca, meskipun saya merasakan beberapa pasang mata tak terlihat terus menatap dengan tatapan penasaran.

“Apa karena ini malam Jumat yah?” tanyaku kepada Avidh.

“Entahlah, mungkin hantu penunggu komplek kosan belakang ini meminta untuk dituliskan kisahnya,” jawabnya.

Memang beberapa hari yang lalu saya merencanakan untuk menuliskan pengalaman horor yang dialami oleh orang-orang di kompleks belakang. Tetapi saya belum yakin apakah akan menuliskannya atau tidak. Sampai kemudian 1 jam setelah makan nasi goreng, saya mendengar suara lirih tangisan perempuan.

“Avidh dengar suara lirih tangisan perempuan?” tanyaku.

“Nggak.”

Maka dari itu saya pun bergegas menyalakan laptop, untuk selanjutnya menuliskan tentang mereka yang tidak bisa dilihat oleh mata normal


Malam Sabtu yang Mencekam

Kompleks belakang terdiri dari enam kosan, empat menjorok ke depan, sementara yang dua menjorok ke belakang. Kosan yang menjorok ke belakang itulah yang tidak berpenghuni. Saya menempati kosan ketiga bersama dengan Avidh, sementara itu kosan satu ditempati oleh Bang Ijul, kosan kedua ditempati oleh Bang Muri, dan kosan keempat ditempati oleh Bang Ijay.

Sampai dengan saat itu, memang saya belum pernah ditampaki oleh penunggu kompleks kosan belakang. Tetapi suara ketukan di pintu, di dinding, suara lompatan langkah sering saya dengar, bau pandan. Mengenai hal tersebut saya tidak merasa terganggu, biasa-biasa saja.

“Suasana kembali normal, tidak seminep seperti tadi,” ujar Avidh ketika saya menuliskan cerita ini.

“Ya begitulah,” jawabku singkat.


Waktu itu Avidh baru beberapa hari tinggal di kosan saya dan dia langsung mendapatkan sambutan dari penunggu kompleks kosan belakang. 

Begini ceritanya. Setelah salat Jumat saya pamit kepada Avidh pergi ke Depok untuk liputan. Dan malam Ahad baru pulang. Menjelang Maghrib Avidh mandi dan kamar mandinya itu terletak di luar. Saat mandi itulah pintu kamar mandi diketuk dengan ketukan cepat. Setelah dibuka dan dicek ke sekitar tidak ada siapa-siapa.

Masih di malam yang sama dengan Avidh, Bang Muri juga mendapat gangguan. Tidak biasanya ia mencuci pakaian pada dini hari, waktu itu ia mencuci pakaian di jam dua dini hari. 

Di tengah-tengah menggosok pakaian itulah, dia merasakan ada yang meneteskan air di punggungnya. Setelah dicek ternyata tidak basah. Tidak hanya sampai di situ, dia merasakan ada yang mengawasinya, pas dikejar ke depan tidak ada siapa-siapa. Gara-gara kejadian tersebut, hingga pagi ia tidak bisa tidur.

Uji Nyali

Pada malam berikutnya yaitu malam Senin terdengar gedoran kepala ke arah pintu, sementara itu jam menunjukkan pukul 00.30, saya mengabaikan gedoran ke arah tersebut. 

Tak berselang lama Bang Muri mengetuk pintu kosan, memanggil nama saya, ia mengatakan apakah saya tadi menggedor suara pintu, saya pun menggelengkan kepala. Lebih lanjut ia menceritakan bahwa tidak bisa tidur dan meminta kepada saya untuk menemani. Saya pun akhirnya tidur di kosan Bang Muri.

Justru yang terjadi saya tidak bisa tidur, sedangkan Bang Muri tidur dengan sangat pulas. Hingga jam 1.30 saya belum bisa tidur. Saya pun memutuskan untuk chat Avidh yang sedang main di kosan temannya, meminta untuk segera pulang. 


Jam 2.00 tepat Avidh datang ke kosan. Dia bersama dengan kawannya, Lafi namanya. Saya pun kemudian kembali ke kosan saya.

Avidh kemudian menceritakan kepada Lafi perihal kejadian horor yang ia alami di malam Sabtu, serta beberapa suara ketukan yang ia dengar. 

Kami pun sepakat malam itu mengadakan uji nyali. Pintu kamar kosan saya buka lebar-lebar, sehingga apa yang terjadi di luar akan terdengar dan terlihat dengan jelas. Bukannya kami mengadakan pengajian atau apa, justru kami malah ngerumpi menceritakan pengalaman horor masing-masing.

Suara derap langkah lompatan, gedoran di tembok, gedoran pintu terdengar dengan jelas. Kalau kalian pernah menonton acara uji nyali di sebuah stasiun televisi, suasananya seperti itu. Bukannya menyerah dengan segera menutup pintu dan menghentikan obrolan, justru obrolan kami semakin seru perihal dunia gaib.

Tak berselang lama pada jam empat, sebelum suara tarhim masjid berkumandang, kami semua mencium aroma pandan bercampur dengan melati. Bau tersebut seolah mengakhiri suara-suara ketukan malam itu.

Pengalaman Bang Ijul


Di antara kami penghuni kompleks kosan belakang, Bang Ijul adalah yang paling lama, sudah lebih dari 10 tahun. Pas tahun pertama, ia tinggal di kosan paling belakang.

“Hawa di kosan belakang itu beda banget, panas. Saya pernah ada pengalaman horor di halaman kosan paling belakang itu, menjelang Maghrib kejadiannya, saya baru pulang dari tempat kerja,” ujar Bang Ijul.

“Nah, di halaman ada tiga orang anak sedang main kelereng, satu anak itu pakainya bagus, wajahnya bule, sinyo Belanda. Sementara yang dua itu pakaianya lusuh, wajah pribumi. Setelah saya masuk ke kosan, lalu keluar lagi sudah nggak ada,” lanjutnya.


Ia mengaku sudah biasa dengan kejadian-kejadian semacam itu dan tidak mempermasalahkannya, sebab di dunia ini tidak hanya ada manusia saja, tetapi juga makhluk halu. Di kosan yang sekarang ia tempati, Bang Ijal mengaku pernah didatangi sosok Kuntilanak.

“Sosok Kunkun, saya lagi tidur Kunkun di dekat kaki saya, menendang-nendang kaki saya. Saya abaikan lah, kehadirannya diawali dengan bau pandan bercampur dengan bau melati,” terangnya.

Bang Ijal juga menceritakan bahwa beberapa hari lalu ketika tengah malam ke mara mandi. Dia melihat di kosan belakang sosok pocong.

Bang Ijay Diganggu Pocong

Bang Ijay bekerja sehari-hari sebagai ojek online. Alhasil, dia sering pulang larut malam. Selain sering ditampaki sosok pocong di kosan belakang, ia juga pernah didatangi langsung oleh sosok tersebut.

Bang Ijay baru saja terlelap tidur, akan tetapi tarikan di kakinya membangunkan tidurnya. Pas dia bangun ternyata sosok pocong berwajah pucat berada di dekat kakinya, spontan Bang Ijay langsung membentaknya, sosok pocong tersebut pun bergegas pergi menembus tembok.

Siapa Mereka?

Berdasarkan pengamatan saya, mereka adalah penunggu lama (tiga anak kecil), jauh sebelum kosan berdiri, dulunya kosan ini merupakan rawa-rawa. Ketika kosan berdiri, tidak semua penunggu tersebut meninggalkan daerah yang ditempatinya, tetapi ada beberapa yang masih tetap tinggal. Mereka tidak suka mengganggu, tidak pernah menampakan wujudnya.

Sementara itu sosok kuntilanak dan pocong adalah pendatang, seperti yang kita tahu bahwa mereka ini suka sekali dengan bangunan kosong tak berpenghuni. Berhubung di kompleks kosan belakang kosan terdapat dua kosan yang kosong lama, sudah barang tentu mereka menyukainya.



👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND



Rabu, 28 Mei 2025

Kuntilanak Merah

 


Hay kenalin nih gua Rudi, gua tinggal di jakarta disini gua mau ceritain pengalaman gua waktu gua masih umur 12 tahun, tepatnya waktu itu gua masih kelas 6 SD. dan dulu gua masih tinggal di kampung ibu gua dan sekolah 12 tahun disana dari kelas 1 SD sampe kelas 3 SMK. gua tinggal di jakarta karena kuliah. sekian perkenalan diri gua selesai guys. simak cerita gua di bawah ini lumayan panjang ya! dan jangan sendirian bacanya nanti si ibu kunti gaun merahnya ada disamping kamu looh hehheeh canda.


Waktu itu gua lagi asik nonton tv bareng sama keluarga yaa sama ayah ibu adek gua kedua kakak gua pak Dhe, Bu Dhe dan kakek nenek gua bro, emang sih keluarga gua itu keluarga besar kalo satu bilang makan semuanya makan kalo satu bilang nonton semuanya pasti nonton. dan keluarga gua saat itu rencananya sekeluarga mau pada makan diluar malam itu abis azan isya, semuanya harus ikut kecuali pembantu dan sopir gua mereka doang kan yang gak ikut tapi tiba-tiba kedua temen gua si Angga sama si Ikbal malah nyamper gua katanya sih mereka mau ngajak gua ke acara ulang tahunnya si Dafa anak Mami ya dia itu dimanja terus lah apa aja yang dia minta terus diturutin sama orangtuanya maklum dia itu kan anak semata wayang.


Ok kita kembali lagi. dan akhirnya gua gak jadi ikut makan malem sama nyokap bokap karena kalo gua gak hadir gua gak enak sama si dafa karena dia disekolah paling sering nelaktir gua jajan masa iya dia ulang tahun gua saahabatnya gak dateng.



Dan setelah nyokap bokap gua berangkat gua pun dititipin uang 100.000 buat jajan dan beli lauk buat makan nanti malem abis pulang dari acara ulang tahun si Dafa. nyokap bokap berangkat duluan sedangkan gua mandi dan shalat isya bareng sama kedua temen gua abis itu gua mandi berangkat deh. singkat cerita gua di jalan lagi asyik ngobrol tiba tiba di pertigaan jalan Angga berhenti terus dia kaya kebingungan gitu dan liat jam di Handphonenya.


“cooy! ini udah jam setengah sembilan gua bingung kita harung cepet-cepet nyampe sebelum jam 10, gua berenti disini, mendingan kita motong jalan aja” kata Angga

“iya dah ayuuk buruan tapi lewat jalan mana? kiri, kanan apa lurus aja?” tanya si Ikbal

“ya kalo lurus kita lewat jalan biasa lah, makin jauh udah mendingan kita lewat kiri!” kata Angga motong.

“kiri sama aja agak jauhan dikit, udah mending kanan yuuk kan selama ini kita jalan ke sekolah gak pernah kan lu pada lewat jalan kanan setau gua jalan kanan itu lebih deket kalo ke rumah si Dafa,” kata Ikbal ngegas.

“hah jalan kanan? jalan kanan sepi Bal, gua pernah lewat jalan kanan sama bapak gua siang hari bolong itu tuh jalan sepi banget gelap lagi hawanya sunyi karena ada pohon beringin tiga nutupin sepanjang jalan gang kanan. dan emang tuh jalan gak ada rumah satupun bayangin aja siang aja udah sepi apalagi malem iih ngebayangin gua lewat tuh jalan malem malem. emang sih katanya tuh jalan angker!” kata si Angga.

“jangan nakut-nakutin lu Angga” kata Si Ikbal.


“nittttt! niit! tiiiiit! woooy bocah pada ngapain lu malem malem pada bediri disitu? bukannya pada berangkat udah jam setengah sepuluh kurang nih telat aja luuh pada ayook salah satu naek motor nih bareng ama gua” kata Doni nawarin

“siapa tuh yang mau ikut gua ama angga mau jalan aja lewat jalan kiri” kata gua motong dan mulai ngomong yang dari tadi gua nyimak obrolan mereka-mereka, dan untungnya si Angga mau lewat jalan kiri dan Doni sama si Ikbal lewat jalan kanan karena pengen buru-buru nyampe ke acaranya.


Pas gua mau jalan eh tiba-tiba si Doni nawarin lagi ikut gak pake motor bareng karena gua ama Angga udah laper banget, akhirnya gua nerima tawaran mereka naik motor bareng ke ulang tahunnya si Dafa, berempat pake motor lewat arah jalan kanan biar cepet nyampe.


Dan anehnya baru aja gua masuk gang kanan kita berempat udah disambut sama pemandangan pohon-pohon yang lebat raungan serigala dan bulu kuduk kita yang udah berdiri tegak menandakan ada hawa yang gak beres di jalan itu. tiba-tiba yang bikin gua ngos-ngosan motor JADUL si Doni malah mogok pas di depan pohon beringin yang paling gede. gua sama tiga temen gua langsung meriding dan baca do’a dalam hati sambil nungguin Doni selesai betulin motornya.


Tiba-tiba si Dafa nelepon katanya kok gak dateng ya gua jelasin lah ke si dafa kondisi gua sekarang ama temen-temen ampe dia berbaik hati nyuruh sopirnya dia buat jemput gua di pertigaan, yang anehnya sopir si Dafa itu gak mau jemput gua di gang kanan, Apa sopir itu emang udah tau kalo di gang situ tuh ada penunggunya.


Akhirnya gua sama si Angga berangakat karena dijemput sedangkan Doni masih sibuk betulin motor jadulnya ditemenin sama Ikbal, saat gua nengok ke belakang, gua sama Angga kaget dan teriak karena gua liat ada sesosok wanita tinggi rambutnya panjang, pake gaun pengantin warna merah lagi berdiri di belakang Doni sama Ikbal sambil melotottin kita berdua kalo nengok saking seremnya tuh muka si cewek gaun merah gua ampe gak berani lagi nengok-nengok ke belakang sepanjang jalan, saking syoknya gua masih bingung itu apaan ya?.


Saat sampe di pestanya gua ketemu Dafa terus salaman dan ngucapin selamat ulang tahun terus si Dafa nanya

“eh Rudi, Angga kok kalian berdua doang si bukannya katanya tadi di telepon kalian berempat ikbal ama doni kemana? kok gak bareng sama Mas Yoga (SOPIRNYA DAFA)?” tanya Dafa penasaran.

“hallaah biasa si Ikbal si Doni otak keras kepala dia tuh masih di Gang kanan lagi betulin motor mogok, ama si Ikbal.” jawab si Angga sambil makan kue bolu saking lapernya dia

“hah? ya Allah lu jahat banget, temen macam apa lu tega ninggalin mereka di tempat angker kaya gitu?” tanya si Dafa sambil marah!

“hah angker?” maksdunya apaan Dafa?” tanya gua penasaran.

“kalo lu gak percaya abis selesai nih pesta, lu tungguin mereka berdua bakal dateng gak kemari kalo enggak lu telepon orangtuanya mereka udah pada pulang belom? dan ikut gua ke rumah buyut gua karena ini panjang kalo mau dijelasin sekarang soal tempat itu.” kata Dafa terus terang


Sudah 2 jam setengah acaranya berlangsung sampe selesai gua mulai kepikiran sama si Doni Ikbal karena mereka gak dateng dateng dari tadi. lantas gua mulai khawatir dan Angga sama Si Dafa nyuruh gua buat nelepon mereka tapi hp mereka gak aktif waktu Angga mau nelepon mamanya Ikbal, mamahnya Ikbal duluan yang nelepon gua dan nanya,

“hallo, ini Rudi ya? tante mau tanya Ikbal sama kamu gak sekarang? soalnya sebelum pergi dia bilang mau nyamper Rudi sama Angga” tanya mamanya Ikbal dengan nada khawatir.

Ngedenger itu gua langsung deg-degan mau jawab apaan ke Mamanya Ikbal, karena Dafa yang ngedenger itu dia langsung nenangin gua dan dia lah yang jawab pertanyaan Mamanya dari awal.


Terus mamanya ikbal pun Nangis karena tau anaknya lagi di Gang yang berbahaya itu. katanya dia mau ke rumah orangtuanya Doni dan kesini mau jemput Ikbal di Gang angker itu. terus sampenya orangtua Doni dan Ikbal mereka minta keterangan dan mereka minta kita bertiga ikut ke gang itu dan suruh bawa neneknya Dafa untuk diminta keterangan tentang gang itu.


Singkat cerita gua, Angga, Doni, kedua orangtuanya Doni sama Ikbal, mamanya Dafa, neneknya dafa, serta beberapa warga ikut pergi ke Gang itu untuk mencari Doni dan Ikbal. Setelah sampai gua sama yang lainnnya Cuma ngeliat motor Doni tapi orangnya malah gak ada sedangkan kita manggil-manggil mereka berdua ibunya Doni pingsan tiba-tiba dan digotong ke rumahnya sama beberapa warga yang ikut nyari. terus neneknya Dafa kaya nyamperin pohon yang paling besar di Gang itu terus dia nyuruh kita semua baca do’a ayat kursi sama-sama. Kagetnya neneknya Dafa pun teriak bilang “itu nak Doni kenapa di atas pohon?” katanya gitu lantas gua langsung lemes ngeliat Doni diiket sama kain tebal warna merah di sekujur tubuhnya mata Doni pun melek gak ngedip-ngedip. buru-buru warga sama ayahnya Doni nurunin Doni pake tangga. yang diliat dan ketemu Cuma Doni tapi Ikbal? dia gak ada setelah Doni diturunkan Doni tetep melek gak ngedip ngedip, dan dilepaslah selendang merah yang baunya tuh amis banget gak enak di hidung terus tiba-tiba Doni pun nangis terbirit-birit ngeliat Mas-mas yang pake topi warna merah terus Doni pingsan.


Gua syok ngeliat itu semua dan jadi ngerasa bersalah banget, karena Ngeliat Doni yang mentalnya udah kurang bagus dan Ikbal yang belum ditemukan Angga dan gua pun nangis di depan Doni yang setengah pingsan. tiba tiba neneknya Dafa pun bilang yang bahasanya tuh dulu belum gua mengerti karena mungkin itu berbahasa kasar

“JURIG SIA JURIG SIA NGADOR KAINYAH TONG NGAGANGGU BUDAK BATUR TEKARUNYAEN ARI SIA KA KOLOT NA CEURIG NENEANGAN BUDAK NA ARI SIA DENDEM TONG KITU CARANA TONG NGAGANGGU BUDAKNA (SETAN LU SETAN LU PERGI SONO JANGAN GANGGU ANAK ORANG GAK KASIAN APA LU SAMA ORANG TUANNYA NANGIS-NANGIS NYARIIN ANAKNYA KALO LO DENDAM JANGAN GITU CARANYA, JANGAN GANGGU ANAKNYA)”


Tiba-tiba neneknya Dafa kaya lagi dengerin sesuatu yang mungkin itu suara yang hanya bisa didengar sama neneknya Dafa karena memang dia itu sesepuh di kampung yang dulu gua tinggali. dan neneknya Dafa pun bilang ke kita semua kalo Ikbal dibawa ke alam si Naun, gua gak ngerti Naun itu siapa jadi banyak warga yang bertanya-tanya siapa Naun? dan ini jawabannya.


“jadi waktu jalan arah kiri dan tengah belum terbangun oleh beberapa warga sekitar itu dulu cuman ada jalan arah kanan tepatnya tahun 1978 dan sisanya cuman tembok-tembok perbatasan doang, dan di Gang inilah jalan satu-satunya menuju arah sekolah tapi dulu itu jalan ini ramai penduduknya termasuk Naun, si Naun itu adalah wanita yang umurnya baru 31 tahun keluarga dia udah turun temurun tinggal di Gang ini dan besar disini, pada hari itu dia mau menikah sama salah satu seorang juragan sawah yang paling orang-orang benci karena sifatnya yang keji dan gak berperikemanusian dia sering nyiksa orang dan membiarkan fakir miskin gak boleh beli beras ke dia. dan pesta pernikahannya itu dia ingin menggunakan pakaian serba merah dan itu dituruti oleh si Juragan sawah lalu pernikahan berlangsung dengan selaesai.



3 bulan kemudian Si Naun mengandung anak perempuan bahagialah dia dengan Juragan sawah itu karena sifatnya sama seperti suaminya, malam itu ada seorang ibu-ibu yang menangis sambil memohon-mohon buat minta beras sama sebotol susu buat anaknya yang lapar karena kehausan. namun dengan cepatnya si Naun dan suaminya itu ngebentak dia dan mukulin-mukulin si ibu yang gak berdaya itu sambil ngehina dengan kata-kata yang bikin nyesek di hati terus anak yang digendongnya itu nangis makin kenceng dan si Naun ngambil bayi itu dan dibantinglah bayi itu sehingga membuat bayi itu meninggal ditempat depan mata ibunya sendiri lalu kakak dari bayi itu pun datang dan mengambil adiknya yang sudah meninggal dan memangku ibunya yang tak berdaya itu lalu sia anak itu pun mengambil sebuah kayu dan dipukul-pukulkanlah ke si juragan dan si Naun lalu membacoknya dengan pisau berkali kali sehingga meninggal.


Karena kekhilafann anak itu si anak dari ibu itu pun segera cepat cepat menyuruh anaknya untuk menutupi jejaknya dan kuburlah di bawah pohon paling gede lalu mereka berdua menyelimutinya dengan segulung kain tebal warna merah dan mereka mengambiil emas, dan beberapa karung beras dan kabur mengggunakan mobil si juragan sawah itu.

Beberapa tahun kemudian terungkaplah soal kejadian itu dan mereka memindahkan makan sepasang suami istri itu di pemakaman umum dan dendam amarah si Naun pun terjadi makanya tempat ini pun sepi dan jarang dilewati orang karena jika ada orang yang bermasalah dengan tempat ini atau seperti Nak Doni yang dibuatnya mogok itu berarti Nak Doni pikirannya sudah kacau dan akan trauma atas segala yang berwarna merah dan rekannya pun akan bermasalah juga kecuali mereka pindah dari tempat ini atau kampung ini”.


Jadi itu guys penjelasannya makanya setelah gua denger kejadian itu gua jadi sering ngeliat arwah si Naun kalo gua mau ke sekolah dan ternyata Ikbal ditemukan meninggal di bawah pohon beringin karena lehernya yang kecekek kain warna merah itu, sejak kejadian itu pun gua angga dan dafa pun ngerasa bersalah banget atas kematian Ikbal sahabat gua yang kemana-mana selalu bareng dan kondisi Doni pun mentalnya sudah gak bagus setiap harinya pun Doni kerjanya cuman ngelamun dan menyendiri di kamar sedangkan gua tiap hari kalo liat kearah gang kanan selalu liat penampakan almarhummah Ikbal dan kuntilanak gaun merah itu, pertama-tamanya sih iya gua terbirit-birit nangis dan pingsan kalo Almarhumah Ikbal dan Kuntilanak Merah itu menampakan dirinya di depan gua, tapi lama-lama itu udah terbiasa terjadi sama gua dan Angga, terkadang Ikbal dan Kuntilanak itu nemenin gua tidur di kamar. asalkan mereka gak ganggu gua tidur sama Angga mereka Cuma senyumin gua dan gua senyumin balik terus mereka hilang dan semenjak gua pindah ke Jakarta sekeluarga, arwah ikbal dan kunti itu pun udah gak menampakan dirinya ke gua lagi Cuma Angga masih ngeliat arwah Ikbal di kamarnya



👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Selasa, 27 Mei 2025

Cerita Horor Hantu Kuyang yang Suka Teror Ibu Hamil dan Wanita Haid

 



Sosok putih bercahaya merah berkelebat membuat geger warga Gang 2 RT 12 dan RT 13 Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Kejadiannya tengah malam, Senin (7/10) lalu sekitar pukul 00.10 Wita.


Warga sekitar meyakini jika itu adalah sosok makhluk halus berwujud kepala terbang yang dikenal dengan sebutan kuyang. Makhluk perwujudan kepala manusia dengan isi organ tubuh menggelantung.


Puluhan bahkan ratusan orang dewasa baik laki-laki atau perempuan sontak mencari dan mengejar makhluk yang terbang di dalam gang. Selain penasaran akan wujud mahluk jadi-jadian yang menampakkan wujudnya pada malam Senin Kliwon itu, warga juga mengaku resah dan ingin menangkap sosok gaib ini.


Sejumlah tempat yang diyakini sebagai wadah persembuyian si hantu kuyang didatangi warga. Bahkan kolong rumah warga pun tak luput dari perhatian. Pencarian dilakukan berbekal senter warga menyorot ke kolong rumah. Termasuk ke arah suara kuyang yang terbang ke pohon kelapa dan pisang tengah gang.



Tanpa dikomando, warga kembali berlari ke arah pepohonan. Teriakan takbir berkumandang sembari berharap kuyang bisa tertangkap. Berbekal sapu lidi, warga memukul-mukulkan ke arah pohon. Namun sayang, upaya itu tak seperti yang diharapkan. Sosok yang dicari menghilang.


"Tadi sempat juga ada wanita yang kesurupan saat warga mengejar kuyang. Untungnya cepat ditenangkan, dari mulut wanita yang kesurupan itu terucap nama Sanah sebagai kuyang," kata Faisal, 25, warga yang ikut dalam pengejaran, sebagaimana dikutip dari Prokal.co (Jawa Pos Group).


Hingga menjelang salat Subuh warga yang susah payah mencari akhirnya menyerah. Warga kembali ke rumah masing-masing sembari tetap bersiaga.

Salah seorang warga yang sempat memukul kuyang dengan sapu lidi, Ari, 30, menuturkan, saat itu dirinya berada dalam rumah dan tiba-tiba mendengar suara warga yang melihat kuyang. Tanpa pikir panjang dirinya membawa sapu lidi yang ada di rumahnya.


"Saya sempat pukul, tapi cepat sekali terbangnya ke arah atap rumah warga. Setelah itu kami mengejar hingga ke sela-sela rumah warga yang berhimpitan," kata Ari.



Penampakan kuyang bukan pertama kali terjadi di Sungai Kunjang, khususnya di Kelurahan Teluk Lerong Ulu. Beberapa tahun lalu, tepatnya di Februari 2017 penampakan hantu kuyang sempat terjadi, namun isu itu meredam dengan sendirinya.


Bahkan, untuk kejadian penampakan hantu kuyang kali ini, banyak warga yang melihat wujud kuyang tersebut. Gazali Rahman, tokoh warga sekitar pun melihat dengan mata kepalanya sendiri. Zali —sapaan akrabnya menduga penampakan hantu kuyang kali ini lantaran di permukimannya banyak ibu hamil dan wanita yang mungkin tengah menstruasi atau haid.


Sebab sepengetahuannya, darah merupakan makanan kuyang. Itu juga sebagai syarat mereka mencapai keinginannya dari menuntut ilmu hitam tersebut

"Sekitar pukul 17.15 Wita, ada ibu yang baru melahirkan. Mungkin itu juga yang menjadi sasarannya," ungkap Zali.


Warga percaya hantu kuyang merupakan manusia terjerumus ilmu hitam demi mencapai hidup abadi. Adapun yang mendapatkan ilmu hitam tersebut dijanjikan kekayaan dan kesaktian.


Warga yang kala itu panik pun sempat mencurigai seorang wanita yang kerap mondar-mandir tiap dini hari di permukiman padat penduduk tersebut. Penampakan wanita itu bahkan sempat terekam kamera CCTV, Sabtu (5/10) lalu.


Namun, warga tidak berani mengambil tindakan karena tidak memiliki bukti kuat. Sebab, berdasarkan cerita yang didapatkan, sosok kuyang kembali menjadi manusia saat siang hari. “Kalau kita langsung menunjuk tanpa adanya bukti. Sama saja fitnah, meskipun ada rekaman CCTV itu,” imbuhnya.


Untuk itu Zali meminta warga agar lebih waspada atas teror hantu kuyang tersebut. Terlebih sepengetahuannya terdapat lima ibu yang tengah hamil di permukimannya itu.



👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Sabtu, 24 Mei 2025

Pesugihan Tuyul

 

Pesugihan Tuyul


Di sebuah desa terpencil yang dikepung oleh pepohonan rimbun dan suasana yang hening, terdapat sebuah legenda tua tentang pesugihan tuyul. Desa itu dikenal sebagai tempat yang memegang erat tradisi-tradisi kuno dan kepercayaan gaib. Seorang lelaki bernama Budi, yang tengah berjuang melawan kemiskinan, mendengar cerita-cerita tentang pesugihan tuyul dari mulut ke mulut.


Budi yang keputusasaan dan terdesak oleh beban hidupnya, memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang pesugihan tersebut. Ia mendengar bahwa di sebuah hutan tua yang dianggap keramat, terdapat batu bertuah yang konon dapat memanggil tuyul penjaga harta. Namun, untuk memanggil tuyul, seseorang harus rela memberikan sebagian kecil dari dirinya.


Dengan hati yang gelisah namun penuh keputusan, Budi memasuki hutan pada malam yang gelap. Ia membawa sebuah lilin, seikat rambut, dan sejumput beras yang menjadi tawaran kepada tuyul. Saat Budi mencapai tempat yang dihuni oleh batu bertuah itu, ia merasakan kehadiran yang tak terlihat mengitari sekelilingnya




Setelah mempersiapkan tawaran, Budi dengan ragu-ragu berkata, "Tuyul yang penjaga harta, aku membutuhkan bantuanmu. Aku rela memberikan sebagian kecil dari diriku agar hidupku menjadi lebih baik."


Tidak lama kemudian, suasana hutan berubah menjadi dingin dan kelam. Budi merasakan adanya entitas yang tak terlihat di sekitarnya. Sesaat kemudian, sebuah suara halus terdengar, "Jiwa ini rela memberikan sebagian kecil untuk kekayaan yang diinginkan?"


Budi mengangguk dengan ragu dan kemudian menyaksikan lilin yang dinyalakannya tiba-tiba padam. Dalam kegelapan, tiba-tiba muncul sekelompok tuyul kecil dengan mata merah menyala. Mereka berkumpul di sekitar tawaran yang ditinggalkan oleh Budi.


"Tawaran diterima," desis suara halus tuyul, dan tiba-tiba kegelapan kembali berganti menjadi terang. Budi menemukan dirinya kembali di pinggiran hutan, sementara suara tawa kecil tuyul masih terdengar di udara.

Hari-hari berikutnya, Budi merasakan perubahan dalam hidupnya. Kekayaan mulai mengalir, dan bisnis kecil yang dijalankannya tumbuh pesat. Namun, kebahagiaan itu datang bersama dengan kejanggalan-kejanggalan yang meresahkan. Suara-suara bisikan yang tak terlihat mulai menghantui malamnya, dan bayangan-bayangan tuyul kecil sering kali muncul di sudut-sudut ruangannya.


Budi menyadari bahwa pesugihan tuyul membawa konsekuensi yang mengerikan. Setiap malam, sebagian kecil dari jiwanya terasa terkikis, dan suara-suara tawa tuyul semakin menggema dalam tidurnya. Kekayaan yang diperolehnya tidak membawa kebahagiaan, melainkan ketakutan yang semakin merajalela.


Seiring waktu, Budi merasa dirinya semakin lemah dan terkuras oleh pesugihan yang pernah ia lakukan. Ia sadar bahwa tuyul tidak pernah memberikan kekayaan tanpa mengambil sesuatu sebagai gantinya. Keputusasaan melanda Budi, dan ia menyadari bahwa ia harus mencari cara untuk memutus hubungan mistis ini.



Malam itu, Budi kembali ke hutan keramat dengan hati yang penuh penyesalan. Ia berbicara dengan tuyul, memohon agar mereka melepaskannya dari ikatan yang telah ia bangun. Tuyul-tuyul kecil itu hanya terdiam, dan kemudian, mereka lenyap ke dalam kegelapan, meninggalkan Budi dalam keheningan malam.


Namun, meskipun tuyul telah pergi, Budi harus menanggung akibat dari perjanjian yang pernah dibuatnya. Jiwa dan kebahagiaannya terluka, dan malam-malam gelap yang dihabiskannya tidak lagi menjadi hening, melainkan penuh dengan bisikan-bisikan penyesalan dan bayangan-bayangan tuyul yang meninggalkan jejaknya di sepanjang hidupnya.