Malam itu suasana kosan tidak seperti biasanya, di luar kosan terasa begitu sunyi. Kalau kata orang Jawa "seminep". Hal senada juga dirasakan oleh kawan yang satu kosan dengan saya, Avidh namanya. Dia merasakan kalau malam ini suasananya berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Maul kawan saya yang sering main ke kosan juga merasakan hal sama, dia memutuskan untuk pulang lebih cepat.
Selepas Maul pulang saya merasakan lapar, perut keroncongan minta untuk segera diisi, sebab sedari siang saya belum makan. Saya pun memutuskan untuk membeli nasi goreng, tidak jauh dari kosan. Begitu saya membuka pintu terdengar suara kokok ayam. Saya berpikir positif, sebab memang ada yang memiliki ayam di sekitar kosan.
Kosan yang sekarang saya tempati bisa dikatakan adalah sebuah kompleks kosan, terdapat beberapa tipe, tentu dengan spesifikasi harga yang berbeda-beda. Kosan saya berada di kompleks belakang, maka dari itu jika hendak keluar saya harus melewati kompleks tengah dan kompleks depan.
Sudah tiga minggu ini, dua kosan di kompleks tengah kosong. Akibatnya jalan menjadi gelap, sebab lampu teras tidak dinyalakan. Meskipun gelap suasana dalam kosan terlihat dengan jelas, sebab kaca depan tidak berkelambu.
Ketika saya membeli nasi goreng, saya berusaha untuk tidak menengok ke arah kaca, meskipun saya merasakan beberapa pasang mata tak terlihat terus menatap dengan tatapan penasaran.
“Apa karena ini malam Jumat yah?” tanyaku kepada Avidh.
“Entahlah, mungkin hantu penunggu komplek kosan belakang ini meminta untuk dituliskan kisahnya,” jawabnya.
Memang beberapa hari yang lalu saya merencanakan untuk menuliskan pengalaman horor yang dialami oleh orang-orang di kompleks belakang. Tetapi saya belum yakin apakah akan menuliskannya atau tidak. Sampai kemudian 1 jam setelah makan nasi goreng, saya mendengar suara lirih tangisan perempuan.
“Avidh dengar suara lirih tangisan perempuan?” tanyaku.
“Nggak.”
Maka dari itu saya pun bergegas menyalakan laptop, untuk selanjutnya menuliskan tentang mereka yang tidak bisa dilihat oleh mata normal
Malam Sabtu yang Mencekam
Kompleks belakang terdiri dari enam kosan, empat menjorok ke depan, sementara yang dua menjorok ke belakang. Kosan yang menjorok ke belakang itulah yang tidak berpenghuni. Saya menempati kosan ketiga bersama dengan Avidh, sementara itu kosan satu ditempati oleh Bang Ijul, kosan kedua ditempati oleh Bang Muri, dan kosan keempat ditempati oleh Bang Ijay.
Sampai dengan saat itu, memang saya belum pernah ditampaki oleh penunggu kompleks kosan belakang. Tetapi suara ketukan di pintu, di dinding, suara lompatan langkah sering saya dengar, bau pandan. Mengenai hal tersebut saya tidak merasa terganggu, biasa-biasa saja.
“Suasana kembali normal, tidak seminep seperti tadi,” ujar Avidh ketika saya menuliskan cerita ini.
“Ya begitulah,” jawabku singkat.
Waktu itu Avidh baru beberapa hari tinggal di kosan saya dan dia langsung mendapatkan sambutan dari penunggu kompleks kosan belakang.
Begini ceritanya. Setelah salat Jumat saya pamit kepada Avidh pergi ke Depok untuk liputan. Dan malam Ahad baru pulang. Menjelang Maghrib Avidh mandi dan kamar mandinya itu terletak di luar. Saat mandi itulah pintu kamar mandi diketuk dengan ketukan cepat. Setelah dibuka dan dicek ke sekitar tidak ada siapa-siapa.
Masih di malam yang sama dengan Avidh, Bang Muri juga mendapat gangguan. Tidak biasanya ia mencuci pakaian pada dini hari, waktu itu ia mencuci pakaian di jam dua dini hari.
Di tengah-tengah menggosok pakaian itulah, dia merasakan ada yang meneteskan air di punggungnya. Setelah dicek ternyata tidak basah. Tidak hanya sampai di situ, dia merasakan ada yang mengawasinya, pas dikejar ke depan tidak ada siapa-siapa. Gara-gara kejadian tersebut, hingga pagi ia tidak bisa tidur.
Pada malam berikutnya yaitu malam Senin terdengar gedoran kepala ke arah pintu, sementara itu jam menunjukkan pukul 00.30, saya mengabaikan gedoran ke arah tersebut.
Tak berselang lama Bang Muri mengetuk pintu kosan, memanggil nama saya, ia mengatakan apakah saya tadi menggedor suara pintu, saya pun menggelengkan kepala. Lebih lanjut ia menceritakan bahwa tidak bisa tidur dan meminta kepada saya untuk menemani. Saya pun akhirnya tidur di kosan Bang Muri.
Justru yang terjadi saya tidak bisa tidur, sedangkan Bang Muri tidur dengan sangat pulas. Hingga jam 1.30 saya belum bisa tidur. Saya pun memutuskan untuk chat Avidh yang sedang main di kosan temannya, meminta untuk segera pulang.
Jam 2.00 tepat Avidh datang ke kosan. Dia bersama dengan kawannya, Lafi namanya. Saya pun kemudian kembali ke kosan saya.
Avidh kemudian menceritakan kepada Lafi perihal kejadian horor yang ia alami di malam Sabtu, serta beberapa suara ketukan yang ia dengar.
Kami pun sepakat malam itu mengadakan uji nyali. Pintu kamar kosan saya buka lebar-lebar, sehingga apa yang terjadi di luar akan terdengar dan terlihat dengan jelas. Bukannya kami mengadakan pengajian atau apa, justru kami malah ngerumpi menceritakan pengalaman horor masing-masing.
Suara derap langkah lompatan, gedoran di tembok, gedoran pintu terdengar dengan jelas. Kalau kalian pernah menonton acara uji nyali di sebuah stasiun televisi, suasananya seperti itu. Bukannya menyerah dengan segera menutup pintu dan menghentikan obrolan, justru obrolan kami semakin seru perihal dunia gaib.
Tak berselang lama pada jam empat, sebelum suara tarhim masjid berkumandang, kami semua mencium aroma pandan bercampur dengan melati. Bau tersebut seolah mengakhiri suara-suara ketukan malam itu.
Pengalaman Bang Ijul
Di antara kami penghuni kompleks kosan belakang, Bang Ijul adalah yang paling lama, sudah lebih dari 10 tahun. Pas tahun pertama, ia tinggal di kosan paling belakang.
“Hawa di kosan belakang itu beda banget, panas. Saya pernah ada pengalaman horor di halaman kosan paling belakang itu, menjelang Maghrib kejadiannya, saya baru pulang dari tempat kerja,” ujar Bang Ijul.
“Nah, di halaman ada tiga orang anak sedang main kelereng, satu anak itu pakainya bagus, wajahnya bule, sinyo Belanda. Sementara yang dua itu pakaianya lusuh, wajah pribumi. Setelah saya masuk ke kosan, lalu keluar lagi sudah nggak ada,” lanjutnya.
Ia mengaku sudah biasa dengan kejadian-kejadian semacam itu dan tidak mempermasalahkannya, sebab di dunia ini tidak hanya ada manusia saja, tetapi juga makhluk halu. Di kosan yang sekarang ia tempati, Bang Ijal mengaku pernah didatangi sosok Kuntilanak.
“Sosok Kunkun, saya lagi tidur Kunkun di dekat kaki saya, menendang-nendang kaki saya. Saya abaikan lah, kehadirannya diawali dengan bau pandan bercampur dengan bau melati,” terangnya.
Bang Ijal juga menceritakan bahwa beberapa hari lalu ketika tengah malam ke mara mandi. Dia melihat di kosan belakang sosok pocong.
Bang Ijay Diganggu Pocong
Bang Ijay bekerja sehari-hari sebagai ojek online. Alhasil, dia sering pulang larut malam. Selain sering ditampaki sosok pocong di kosan belakang, ia juga pernah didatangi langsung oleh sosok tersebut.
Bang Ijay baru saja terlelap tidur, akan tetapi tarikan di kakinya membangunkan tidurnya. Pas dia bangun ternyata sosok pocong berwajah pucat berada di dekat kakinya, spontan Bang Ijay langsung membentaknya, sosok pocong tersebut pun bergegas pergi menembus tembok.
Berdasarkan pengamatan saya, mereka adalah penunggu lama (tiga anak kecil), jauh sebelum kosan berdiri, dulunya kosan ini merupakan rawa-rawa. Ketika kosan berdiri, tidak semua penunggu tersebut meninggalkan daerah yang ditempatinya, tetapi ada beberapa yang masih tetap tinggal. Mereka tidak suka mengganggu, tidak pernah menampakan wujudnya.
Sementara itu sosok kuntilanak dan pocong adalah pendatang, seperti yang kita tahu bahwa mereka ini suka sekali dengan bangunan kosong tak berpenghuni. Berhubung di kompleks kosan belakang kosan terdapat dua kosan yang kosong lama, sudah barang tentu mereka menyukainya.
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:
Posting Komentar