Selasa, 20 Mei 2025

Hantu Perempuan Jawa dalam Alaming Lelembut Sebagai Representasi Femme Fatale

 


Hantu Perempuan Jawa dalam Alaming Lelembut Sebagai Representasi Femme Fatale Umi Halimah Alumna Program Studi Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro Abstract This study entitled “The Javanese Female Ghost in „Alaming Lelembut‟ as a Representation of Femme Fatale”aims to show the feminist value in Javanese horror stories with female ghost as a villain and men as most of their victims. This study uses feminism as a main approach and femme fatale theory as the specific approach theory. This study shows that there are three kinds of of female ghost, they are female ghosts who experienced a miserable life before her death, sensual women and women whose background is not known. For the three kinds of women it can be revealed the causes of the female spirits to become evil spirits, the modes of female ghosts to ensnare and trap victims, the female ghost‟s harmful effects to men, and the solutions as the anti-climac in the story. Key Words: ghost, woman, feminism, femme fatale, patriarchal. 1. Pendahuluan: Panjebar Semangat dan Perkembangan Sastra Jawa Sastra majalah merupakan penyalur informasi dan sastra berbahasa Jawa masih produktif hingga saat ini. Novel berbahasa Jawa terbit silih berganti namun majalah menawarkan pengalaman yang lebih ringan, beragam, menghibur dan instan. Majalah Panjebar Semangat yang pertama kali terbit pada tahun 1933 di Surabaya adalah majalah berbahasa Jawa tertua dan masih terbit tiap minggu hingga sekarang meski pernah dilarang terbit oleh pihak penguasa antara tahun 1942 hingga 1949 (Rass, 1985: 19). Karya sastra dalam bahasa Jawa pada awalnya memiliki aturan yang ketat mengenai tata tulis dan isi tulisan, seperti harus berbentuk tembang, dengan jumlah suku kata, jumlah baris, jumlah bait dan persajakan yang baku. Aturan yang tak kalah ketat juga diterapkan dalam hal isi dari karya sastra berbahasa Jawa. Kebanyakan berisi tentang ajaran-ajaran hidup, yang menunjukkan bahwa pada awalnya, yang paling dominan dari karya sastra Jawa adalah nilai didaktis dan pragmatisnya. Bahasa Melayu yang karya sastranya memindahkan bahasa lisan ke dalam tulisan tentu jauh berbeda dengan karya sastra Jawa yang merupakan hasil dari tradisi sastra tulis yang telah berusia ratusan tahun yang sejak semula berasal dari kraton dan tentu tidak digunakan untuk kebutuhan praktis sebagai bahasa lisan (Damono, 1993:15). Tata aturan yang ketat yang berlaku pada karya sastra Jawa pada saat itu membuatnya menjadi bacaan untuk kalangan yang sangat terbatas. Setelah Belanda datang ke Indonesia dan ratusan tahun berinteraksi, menghasilkan percampuran kebudayaan, yang salah satunya adalah perkembangan karya sastra Jawa. Karya 2 sastra yang dahulu berbentuk tembang dan berisi ajaran hidup kini berbentuk prosa dan terbebas dari aturan-aturan penulisan dan isi yang semakin sederhana dan ringan. Karya sastra berbahasa Jawa pertama yang berbentuk prosa adalah Serat Rijanta, ditulis oleh R. Sulardi (diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1920 setebal 139 halaman). Serat Rijanta mengawali tulisan yang tidak memiliki misi untuk menyampaikan ajaran moral tertentu (Ras, 1985: 13). Selanjutnya, sastra majalah lebih berkembang setelah bermunculan majalah berbahasa Jawa, salah satunya adalah Panjebar Semanagat. Hutomo (1976) menjelaskan bahwa pada awalnya, Dr. Soetomo menerbitkan majalah mingguan bernama Soeloeh Ra‟jat Indonesia dan majalah bulanan Kromo Duto yang berbahasa Melayu. Kromo Duto kemudian berubah menjadi Soeara Oemoem yang kemudian terbit tiap minggu. Pada tahun 1931, majalah mingguan Soeloeh Ra‟jat Indonesia dan Soeara Oemoem bergabung menjadi Soeara Oemoem yang memiliki 12 halaman, delapan lembar yang berbahasa Melayu dan empat lembar berbahasa Jawa. Pada 2 September 1933 berubah menjadi Panjebar Semangat dan mulai berbentuk buku pada 7 September 1935 (Hutomo, 1976: 12-13). Panjebar Semangat yang hingga kini masih bertahan, tetap menampilkan berita dan pengetahuan-pengetahuan lain serta geguritan (puisi berbahasa Jawa) dan cerita-cerita fiksi berupa cerbung (cerita bersambung) dan cerkak (cerita cekak atau cerita pendek) untuk dewasa, horor, remaja dan anak-anak). Karya sastra berbahasa Jawa memiliki peminat yang segmentif dengan kegemaran membaca masing-masing rubrik yang disukai, salah satunya adalah rubrik “Alaming Lelembut.” Tidak diketahui kapan pertama kali rubrik ini muncul dalam majalah Panjebar Semangat. “Alaming Lelembut” menampilkan cerita yang menegangkan dan kadang-kadang berisi narasi-narasi yang seksi serta dihiasi romantisme sepasang kekasih. Hantu-hantu yang ditampilkan dalam rubrik ini juga beragam, mulai dari hantu-hantu lokal seperti kuntilanak dan genderuwo hingga zombie (Panjebar Semangat, 3 Oktober 2014). Penelitian ini menggunakan objek material cerita-cerita “Alaming Lelembut” yang terdapat dalam majalah Panjebar Semangat tahun 2013. Terdapat 52 cerita pendek pada rubrik “Alaming Lelembut” dan 27 cerita yang menampilkan hantu perempuan sebagai tokoh utama dan enam cerita yang dijadikan sampel pada penelitian ini. Keenam cerita tersebut adalah “Peri Pasar” tulisan Sutramanto, “Kumarane Komariah” tulisan Sriyono R, “Kijing Miring” tulisan Winongwong Sih, “Mantenan Lan Maesan” tulisan Sri Adi Harjno, “Kubur Nyai Jingkrak” tulisan FX Subroto dan “Wanita Ayu Ing Njero Sumur” tulisan FX Subroto. 2. Horor Alaming Lelembut 3 Cerita horor merupakan salah satu genre cerita yang digemari oleh kalangan terbatas namun dengan fanatisme yang tinggi. Penikmat cerita horor menyukai perasaan takut dan bergidik yang mereka alami ketika mengapresiasi cerita yang menakutkan bahkan tentang sesuatu yang belum pernah mereka alami dan ketahui sebelumnya. Cawelti mengemukakan pendapatnya seperti berikut ini. “ … horror is the most puzzling sort of entertainment, yet, judging from immense popularity of the formula and the great enjoyment audience derive from it, people take enormous delight in being scared out of their wits, at least in fantasy (Cawelti, 1976: 47). “Alaming Lelembut” menampilkan hantu perempuan dalam wujud yang berpola, yaitu terlihat begitu cantik dan menarik pada awalnya kemudian seketika berubah menjadi seram dan membawa kemalangan. Interaksi mereka dengan manusia disebabkan oleh hal yang beragam, seperti yang dijelaskan oleh Djokosujatno berikut ini. “Cerita hantu menekankan interaksi antara manusia dan hantu atau makhluk supranatural lainnya, biasanya karena ada urusan: ada hal yang tak dapat diselesaikan oleh manusia sebagai manusia atau hantu sebagai hantu. Mereka berinteraksi karena terpaksa, terjebak dalam suatu keadaan yang salah tetapi bisa juga karena suatu perasaan tertentu si hantu terhadap manusia. … umumnya adalah mantan manusia. Manusia yang mati tidak sewajarnya atau yang ketika hidup bergelimang dosa” (Djokosujatno, 2005: 77-78). Kutipan di atas diungkapkan oleh Apsanti Djokosujatno dalam bukunya Cerita Fantastik yang juga membahas tentang cerita horor. Interaksi yang terjadi antara hantu perempuan dan manusia laki-laki dalam cerita “Alaming Lelembut” kebanyakan terjadi karena hantu perempuan menampakkan diri atau menjelma menjadi sosok manusia terdekat yang telah dikenal. “Dalam cerita hantu Indonesia umumnya berbentuk manusia atau mendekati manusia … . Tokoh hantu dalam cerita hantu biasanya tampil mempunyai unsur-unsur fisik yang menakutkan, bertampang buruk atau menakutkan tetapi bisa juga sebaliknya luar biasa cantik atau tampan atau tidak berwujud sama sekali” (Djokosujatno, 2005: 79). Dalam penelitian ini, hantu perempuan pada awalnya menjelma menjadi sosok yang cantik dan menarik kemudian seketika berubah menjadi mengerikan bahkan membawa kemalangan. Sosok perempuan mengerikan yang muncul merupakan perwujudan dari alam bawah sadar manusia tentang hal-hal yang selama ini terpendam. Seperti yang dikatakan oleh Noel Carroll dalam esainya yang berjudul “The Phillosophy of Horror” sebagai berikut. “ … virtually, axiomatically that if a horrific creature can be designated as a figure of a repressed physic material that will, in turn, support an explanation of the way in which the figure yields pleasure through manifesting what is repressed” (Ashley, 1997: 182). 4 3. Arwah dalam Budaya Jawa Niels Mulder menjelaskan bahwa pikiran kejawen mempunyai suatu ciri religius mendalam, yaitu kesadaran bahwa semua yang ada turut ambil bagian dalam kesatuan eksistensi serta ketergantungan pada suatu prisip kosmis yang meliputi segala-galanya dan yang mengatur hidup manusia (Mulder, 1983: 61). Hal ini terbukti pada slametan (slametselamat, sebutan untuk upacara tradisional Jawa) yang dilakukan oleh orang Jawa. Menurut Beatty “the slametan, a ceremonial meal consisting of offerings, symbolic foods, a formal speech, and a prayer … “ (Beatty, 2003: 25). Slametan dilakukan dengan segenap pengharapan untuk memperoleh keselamatan dan kelancaran dalam kehidupan sehari-hari. Ketika slametan berlangsung, masyarakat diharuskan untuk menjaga lisan dan sikap. Menurut Clifford Geertz … There is always the polite, embarrassed, muted manner which suggests that, despite the brevity and lack of drama the ritual displays, something important is going on (1976: 11-12). Dia menambahkan bahwa yang mendasari masyarakat Jawa melakukan slametan adalah seperti dalam kutipan di bawah ini. “ … at slametan, everyone is treated the same. The result is that no one feels different from anyone else, no one feels lower than anyone else, and so no one has a wish to split off the other person. Also after you have given slametan, the local spirits will not bother you, will not make you feel ill, unhappy or confussed” (Geertz, 1976: 14). Oleh karena itu, slametan menjadi salah satu tanda masyarakat Jawa yang menginginkan terciptanya kerukunan, baik dengan sesama manusia atau dengan arwah yang hidup di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Masyarakat Jawa juga mempercayai waktu-waktu tertentu ketika arwah keluar dari tempat tinggalnya. “This (sunset), perhaps reflects the belief that the period during which the sun is setting is an especially dangerous one so far as the spirits are concerned, for, like the Javanese themselves, the spirits are all out wandering about and visiting their friends at this time … .“ (Geertz, 20: 1976). Masyarakat Jawa secara garis besar mempercayai jenis-jenis arwah berikut ini. 1). Memedi (frightening spirits) adalah arwah yang menakut-nakuti tanpa meninggalkan kerusakan yang berarti. Genderuwo, wewe, jrangkong, wedon, banaspati, jin, pisacis, uwil, setan gundul, sundel bolong (Geertz, 1976: 17-18). 2). Lelembut (posessing spirits) adalah arwah yang mampu merasuki atau menyebabkan sawan (sakit yang tidak jelas penyebabnya), kegilaan bahkan kematian (Geertz, 1976: 19-21). 3). Tuyul (familiar spirits) adalah arwah yang berwujud sebagai anak kecil gundul yang ditugaskan oleh manusia untuk mencuri uang (Geertz, 1976: 21-23). 5 4). Demit (place spirits) adalah jenis arwah yang menghuni sebuah tempat keramat tertentu (Geertz, 1976: 23-25). 5). Danyang (guardian spirits) hampir mirip seperti demit, menguasai suatu tempat keramat tertentu. Ia adalah yang pertama kali membuka lahan (mbabad) yang kelak digunakan untuk pemukiman warga (Geertz, 1976: 26-28). 4. Perempuan dalam Budaya Jawa Masyarakat kebanyakan mempercayai jika perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, seperti yang telah diceritakan dalam kitab suci. Hal ini mengakibatkan perempuan menjadi pihak yang dinomorduakan sampai pada bentuk-bentuk aktivitasnya pun berada di bawah kekuasaan laki-laki. Dalam tradisi patriarkal, perempuan adalah milik (tanggung jawab) dari konsep laki-laki tertinggi yang ada di dekatnya, apakah itu ayah, suami, saudara laki-laki bahkan anak. Perempuan dalam bahasa Jawa disebut wanita yang merupakan jarwa dhosok (akronim) wani ditata, (tata-titi, tatas-titis, tatag-tutug), wani tapa (tapa-tapaktelapak), dengan kata lain, telapak kaki wanita diartikan sebagai eksistensi surga (Purwadi, 2005: 560). Wani yang berarti berani, ditata berarti diatur. Dalam hal ini perempuan adalah, sosok yang diobjektifikasi untuk memenuhi harapan-harapan dan keinginan dari budaya yang melingkupinya. Wani (berani) tapa (menderita) (Damardjati Supadjar melalui Handayani, 2004: 24) memiliki pengertian jika perempuan adalah sosok yang berani menderita bahkan demi orang lain (keluarganya). Perempuan menjadi pihak yang (dipaksa) paling berusaha untuk membahagiakan orang (keluarga) telah menjadi hal yang normal dalam masyarakat patriarkal. Sebagai contoh, perempuan tidak memiliki ruang dan kesempatan untuk mengembangkan diri karena telah disibukkan dengan urusan rumah tangga. Perempuan berada dalam kebudayaan Jawa yang memakaikan “baju kebesaran” sebagai pihak yang berjalan di atas surga keluarganya dengan catatan menjadi anak perempuan yang baik, istri yang baik dan ibu yang baik yang mengesampingkan keinginan dan potensi dirinya sendiri. Dalam hal ini perempuan memiliki peran dalam masyarakat hanya dititikberatkan dari segi kewanitaannya dan melupakan segi kemanusiaan. Perempuan yang baik (dalam budaya patriarkhal) adalah perempuan yang menjadikan keluarga sebagai hal yang utama. Bahkan, perempuan dianggap sempurna jika telah melahirkan seorang anak dalam sebuah institusi perkawinan yang sah. Perempuan yang melahirkan anak di luar perkawinan yang sah (korban perkosaan, perempuan simpanan, pekerja seks) dianggap tidak memiliki kehebatan seperti yang dimiliki oleh seorang istri yang sah. Dapat dikatakan, bahwa perempuan dan anak bukanlah yang menjadi fokus pemberian gelar kesempurnaan kepada 6 perempuan itu sendiri namun budaya patriarkhal-lah yang telah memberi batasan-batasan tertentu bagi perempuan, yang memisahkan mereka ke dalam status baik atau buruk. Perempuan Jawa sering dilabeli dengan istilah kanca wingking (teman belakang) dan area belakang rumah yang lebih diasosiasikan dengan area untuk memproduksi makanan atau dhapur. Selain sebagai tempat untuk memproduksi makanan, dhapur juga berarti wajah (Utomo, 2009: 69). Dengan demikian, hal ini menggambarkan bahwa perempuan dalam rumah tangga merupakan refleksi wajah dari sebuah keluarga. Para perempuan terutama ibu dipandang sebagai simbol moralitas keluarga karena laki-laki telah menjadi simbol dunia luar yang harus ditaklukkan (Handayani, 2004:46). Hal ini merupakan hasil dari cara membesarkan anak, di mana orang Jawa terbiasa memanjakan anak laki-laki sembari mendisiplinkan anak perempuan (Mulder, 2006: 110). Wanita Jawa memiliki julukan kanca wingking (menjadi teman saat di belakang rumah), masak (tugasnya memasak), manak (melahirkan anak), macak (berhias untuk suami), mlumah lan momong bocah (mlumah-terlentang, memenuhi kebutuhan seksual suami; serta mengasuh anak). Namun terdapat kata yang tidak disebut pada ungkapan tersebut, yaitu sakprayoganipun (prayoga = baik, pantas; sakprayoganipun = ketersepakatan, sepantasnya, disarankan agar baik, seyogyanya) (Utomo, 2009: 385). Oleh karena itu, aturan tersebut pada kenyataannya tidak dapat diterapkan secara kaku karena akan merusak tatanan (yang dipercaya oleh orang Jawa sebagai keselarasan hidup), ditambah lagi dengan daya terima orang Jawa yang tinggi. Jadi, pembagian tugas secara seksual menjadi bias hingga tak jarang pula menjumpai laki-laki yang turut mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau perempuan yang membantu perekonomian keluarga. Perempuan yang memiliki peran secara ekonomi dalam keluarga akan memiliki posisi yang sejajar dengan laki-laki. Pada jaman dahulu, hanya perempuan dari kalangan menengah ke bawah yang berhak (bahkan merasa wajib) untuk berpartisipasi dalam perekonomian yang distereotipkan hanya menjadi urusan laki-laki. Hal ini menyebabkan tidak ada lagi jurang pemisah antara laki-laki dan perempuan. Berbeda dengan perempuan kelas priyayi, yang tidak berkontribusi dalam perekonomian (karena sudah kaya) namun tidak mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki. Anak perempuan kelas priyayi mendapatkan kesempatan untuk sekolah (seperti R. A. Kartini), sementara perempuan kelas bawah bekerja di pasar, perkebunan, sawah atau membuat peralatan dan kerajinan. Perempuan pada kelas bawah terbebas dari dominasi laki-laki bahkan dikatakan oleh Rogers (dalam Handayani, 2004: 5-6) bahwa dominasi laki-laki pada akhirnya hanya berhenti pada ideologi saja. Ketika 7 dihadapkan dengan kenyataan maka dominasi laki-laki ini menjadi mitos. Dalam hal ini sekali lagi perempuan diukur keberhasilannya dari perannya dalam keluarga. Dalam budaya Jawa terdapat mistifikasi terhadap sosok ibu, yang dianggap memiliki kekuatan magis karena darinyalah sumber kehidupan (rahim dan air susu) berasal. Oleh sebab itu, perempuan dilambangkan sebagai sosok kesuburan (Dewi Sri, Ibu Pertiwi dan lain-lain). Hal yang sama tidak terjadi kepada perempuan yang belum memiliki anak apalagi perempuan yang belum menikah. Masyarakat Jawa mempercayai bahwa perempuan adalah tanggung jawab dari sosok laki-laki terdekatnya, bisa suami, kakak, ayah atau anak mereka yang telah dewasa (dalam kaitannya dengan studi ini, semua tokoh hantu perempuan adalah lajang). Perempuan yang telah berada pada usia menikah namun belum juga menikah merupakan ancaman bagi tatanan (yang dijalankan oleh laki-laki) karena perempuan tersebut akan dianggap belum Jawa, belum memenuhi salah satu darmanya sebagai manusia (metu-lahir, manten-menikah, mati-meninggal) (Mulder, 1983: 35) karena kelajangannya. 5. Femme Fatale Istilah femme fatale berasal dari bahasa Perancis femme dan fatale. Femme berarti (orang) perempuan, wanita (KPI, 2009: 430) dan fatale adalah mematikan, membawa kematian, membawa maut, mencelakakan, bencana, kemalangan (KPI, 2009: 425). Menurut kamus Webster (diakses 12 April 2014) femme fatale adalah “irresistibly attractive woman, especially one who lead men into danger or disaster”. Bade (1979: 9) menggambarkan tentang femme fatale sebagai “woman as malignant, threatening, destructive and fascinating”, sedangkan menurut Allen femme fatale adalah “she is a woman who lures man into danger, destruction, even death by means of her overwhelming seductive charms” (Allen, 1983: vii). Pengertian di atas memberikan gambaran yang singkat tentang femme fatale, ciri-ciri dan akibat yang ditimbulkan terhadap laki-laki tanpa menyebut sebab, mengapa perempuan dapat digambarkan sebagai sosok yang membahayakan dan mencelakakan. Hal ini bisa disebabkan karena anggapan bahwa “perempuan adalah bahaya” telah berada dalam kesadaran masayarakat sejak waktu yang lama. Konsep femme fatale diungkapkan pertama kali oleh Mario Praz (1933: 189-190) sebagai berikut. “there always existed fatale women both in mythology and literature, since mythology and literature are imaginative reflections of various aspect of real life, and real life has always provided more or less complete examples of arrogant and cruel females characters and that her image is more numerous during times in which the springs of inspiration were troubled.” 8 Femme fatale dapat dilihat dari dua perspektif yang berbeda, yaitu dari perspektif lakilaki dan perspektif perempuan. Femme fatale berperspektif perempuan kerap muncul dalam novel-novel Nawal El Saadawi seperti Perempuan Di Titik Nol (Saadawi, 2010), Memoar Seorang Dokter Perempuan (Saadawi, 1990), dan Two Woman In One (Saadawi, 1985). Tokoh Firdaus dalam Perempuan Di Titik Nol, tokoh utama wanita yang anonim dalam Memoar Seorang Dokter Perempuan dan Bahiah Shaheen dalam Two Women In One digambarkan sebagai perempuan cantik dengan masa kanak-kanak yang berat. Mereka hidup di lingkungan masyarakat yang menganggap kewanitaan sebagai aib dan merupakan hal yang patut untuk disembunyikan. Dalam perspektif perempuan, femme fatale adalah buah dari represi yang diterima perempuan sejak masih anak-anak. Kewanitaan dinilai sebagai sesuatu yang sudah seharusnya disembunyikan agar tidak ada hal buruk yang terjadi. Sekalipun ada hal buruk yang terjadi, kesalahan dilimpahkan kepada perempuan yang dianggap liar, menggoda dan tidak mampu menjaga dirinya (misalnya dalam kasus pelecehan seksual dan perkosaan). Selanjutnya akan dijabarkan tentang femme fatale dalam perspektif laki-laki, mengingat cerita yang dianalisis hampir semuanya adalah hasil dari tulisan laki-laki. Dalam mitos dan sastra, sosok perempuan pembawa bencana kerap sekali muncul seperti yang telah Praz katakan. Ibu dari semua femme fatale adalah Hawa (Edwards, 2010: 35) yang diperdaya oleh ular iblis untuk memakan buah terlarang. Ketidakpatuhan Hawa dan Adam, mengakibatkan mereka diusir dari surga untuk menjalani hidup di dunia. Oleh karena itu perempuan, dalam hal ini Hawa, dipersalahkan sebagai penyebab kesengsaraan yang dialami oleh mereka berdua. Representasi lain dari Femme Fatale adalah Judith, Jezabele, Delillah dan Salome. Dalam budaya Romawi terdapat nama-nama seperti Helen of Troy, Pandora, Circe, Medusa, Medea dan Sirens. Siren adalah mahluk mitologi yang beada di laut yang mengacaukan arah pelaut kemudian menenggelamkannya. This fate (drowning) can be interpreted and councious metaphor for a men‟s fear of being overwhelmed by female sexuality, or for lost of identity and self control in sexual intercourse (Bade, 1979:8). Helen of Troy diceritakan sebagai penyebab perang Troy karena menjadi sengketa atas raja Sparta dan Troy. Venus hidup di abad pertengahan sebagai seorang penjahat pada legenda Tanhauser. Pandora diceritakan mirip dengan Hawa, Pandora membuka kotak terlarang pemberian Zeus yang berisi penderitaan, penyakit dan kesengsaraan yang akhirnya jatuh menimpa manusia. Sosok femme fatale dalam budaya Jawa terdapat pada Shinta, Ken Dedes, dan Rara Jonggrang. Shinta diceritakan sebagai sumber malapetaka, yang menimpa Rama, suaminya 9 dengan Rahwana yang jatuh cinta kepadanya. Pertarungan ini menyebabkan matinya Rahwana dan hancurnya kerajaan Alengka oleh Rama yang dibantu oleh pasukan kera (Sudibyoprono, 1991: 480-482). Kisah lainnya, Ken Dedes anak pendeta Budha yang dinikahi secara paksa oleh Tunggul Ametung. Tunggul Ametung terbunuh oleh pengawalnya sendiri, Ken Arok karena memperebutkan Ken Dedes. Ken Arok pun akhirnya terbunuh oleh anak Tunggul Ametung, Anusapati yang masih dalam kandungan Ken Dedes saat Tunggul Ametung terbunuh. Kisah lainnya adalah Rara Jonggrang, putri raja raksasa bernama Raja Baka yang terbunuh oleh Pangeran Bandung Bandawasa, putra mahkota kerajaan Pengging. Bandhung Bandawasa kemudian ingin menikahi Roro Jonggrang, tapi diberi syarat untuk membangun seribu candi sebelum matahari terbit, Bandhung Bandawasa menyanggupinya. Rara Jonggrang berusaha menggagalkan usaha Bandhung Bandawasa dengan membangunkan para perempuan desa. Mereka segera memukul lesung untuk membangunkan ayam yang kemudian segera berkokok tanda pagi. Sosok femme fatale yang selain diceritakan hidup sebagai manusia ada pula yang hidup di luar dunia manusia. Mereka adalah Sphinx, Siren, Medusa di barat dan Nyi Rara Kidul, Sundelbolong dan Kuntilanak di Jawa. Sphinx adalah perempuan berkepala dan berdada manusia, sedangkan bagian bawah tubuhnya adalah serangga, ular, reptil atau sejenis kucing. Menurut Bade, Siren adalah perempuan setengah burung atau setengah duyung bersuara merdu. Jika para pelaut mendengar suara Siren maka kapal akan karam dan mereka akan mati (Bade, 1979: 8). Sedangkan Medusa adalah dewi rupawan yang diharuskan hidup selibat, namun dia bersama Poseidon melakukan hubungan suami istri di kuil Athena. Oleh karena itu, Medusa kemudian dihukum menjadi monster mengerikan berambut ular (greekmythology.com). Dalam budaya Jawa, Nyi Roro Kidul diceritakan sebagai penguasa pantai selatan, dan disejajarkan dengan sosok Dewi Sri. Bahkan Nyi Roro Kidul dikisahkan sebagai pasangan spiritual raja-raja Jawa. Nyi Roro Kidul saat menjadi istri raja Jawa berwujud sebagai perempuan cantik di siang hari dan perempuan tua di malam hari. Namun ketika muncul di laut, sering muncul juga dengan seekor ular raksasa (Triwikromo, 2006:146). Sundelbolong dikisahkan sebagai pelacur semasa hidupnya atau perempuan hamil yang bunuh diri (Siddique, 2002: 26). Setelah meninggal arwahnya gentayangan dan menakutnakuti manusia terutama laki-laki. Sedangkan Kuntilanak adalah perempuan yang meninggal saat atau setelah melahirkan. Ia mencuri bayi baru lahir lalu membawanya terbang dari satu pohon ke pohon lain. Helen of Troy, Ken Dedes, Shinta dan Rara Jonggrang dilanggengkan oleh sejarah menjadi penyebab perselisihan laki-laki. Perempuan dijadikan piala atau simbol kekuasaan 10 hingga patut untuk diperebutkan. Selain kekuasaan, perempuan juga menjadi properti yang digunakan laki-laki untuk menunjukkan kejantanannya. Pihak yang pada akhirnya memiliki kuasa atas perempuan maka ialah pemenangnya. Apakah Sparta atau Troy, Tunggul Ametung atau Ken Arok, Rahwana atau Rama, atau kah Raja Baka atau Bandhung Bandawasa. Sphinx, Siren dan Medusa, diwujudkan sebagai mahkluk setengah manusia dengan setengah lagi hewan. Hal ini menunjukkan bahwa makhluk tersebut adalah representasi dari sisi kebinatangan dari perempuan yaitu liar, ganas dan tidak berperasaan (Bade, 1977: 9). Hal tersebut juga berlaku pada Nyi Roro Kidul, yang muncul bersama ular raksasa. Ular adalah lambang dari alat kelamin laki-laki, juga berarti phallus. Medusa. Sphinx, Siren dan Nyi Roro Kidul adalah representasi dari ketakutan laki-laki dengan nafsunya sendiri, takut untuk kehilangan kendali dan menanggung konsekuensi yang terjadi. Perempuan dengan air juga menjadi metafora alam bawah sadar laki-laki atas ketakutannya menjadi tenggelam dalam menghadapi seksualitas perempuan atau kehilangan identitas serta kuasa saat berhubungan seksual (Bade, 1977: 9). Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada Sudelbolong yang menjadi citra perlawanan perempuan terhadap tatanan masyarakat. Sundelbolong memiliki kuasa atas dirinya sendiri, dengan kata lain tidak bergantung pada sosok laki-laki. Idealnya, perempuan selalu berada dalam hubungannya dengan sesuatu (keluarga, komunitas, negara) atau seseorang (anak, suami, bapak) (Suryakusuma, 2011: 3). Sundelbolong (dan hantu perempuan lainnya) adalah oposisi biner dari sosok perempuan ideal di mata laki-laki, dia bebas mengekspresikan diri, abai dengan penampilan, menuruti hawa nafsu, sensual dan menggoda. Dalam penelitian ini, yang menjadi titik perhatian adalah femme fatale yang sejenis dengan Sudelbolong. Seksualitas perempuan yang terbebaskan ketika telah menjadi arwah menunjukkan bahwa semasa perempuan tersebut hidup, selamanya berada dalam budaya yang mengharuskan perempuan untuk menyembunyikan seksualitasnya. Sementara laki-laki menggunakan aturan ini untuk melanggengkan kekuasaan dan kontrol atas perempuan. Mulai dari kehidupan sehari-hari, anak perempuan diberi pengertian bahwa perbedaan kelamin membawa perbedaan hak dan kewajiban (bertentangan dengan teori feminisme yang memperjuangkan kesetaraan). Tidak hanya aturan, perempuan juga diikat dengan pelbagai mitos tabu mengenai seksualitasnya, salah satunya adalah tabu keperawanan dan menstruasi. Sanksi paling berat adalah hukuman masyarakat, berlaku jika perempuan melanggar aturan tersebut. Perempuan dianggap melanggar kodratnya (yang diciptakan oleh laki-laki) dan diganjar dosa yang amat besar. Idealnya (di mata laki-laki) perempuan adalah yang frigid, yang meredam nafsunya dan patuh dengan norma sosial. Di mata masyarakat, perempuan 11 yang melanggar norma-norma sosial adalah perempuan nakal dan mendapatkan posisi yang paling rendah dalam strata sosial masyarakat. Dalam hal ini, seksualitas menjadi hal yang paling dilihat karena menyita perhatian laki-laki atas perempuan, seakan-akan mereka lupa bahwa perempuan juga manusia. Nilai perempuan sebagai manusia direduksi sebagai payudara, vagina atau rahim yang mampu berbicara. Hal ini disebabkan oleh ketakutan laki-laki atas nafsunya sendiri jika dihadapkan dengan seksualitas perempuan. Ketakutan laki-laki jika sampai tenggelam dalam seksualitas perempuan, dan hilangnya status laki-laki sebagai penakluk perempuan. Dengan demikian, femme fatale adalah perlawanan perempuan atas dominasi laki-laki yang direpresentasikan oleh hantu perempuan. 6. Tipe-tipe Hantu Perempuan 6. 1. Hantu Perempuan yang Semasa Hidupnya Baik Tipe perempuan baik dalam “Alaming Lelembut” tahun 2013 terdapat dalam beberapa cerita, di antaranya adalah “Kumarane Komariah” tulisan Sriyono R dan “Mantenan Lan Maesan” tulisan Sri Adi Harjono. Kedua cerita dianalisis berdasarkan pemicu hantu perempuan menjadi femme fatale melalui kutipan yang dirasa paling mewakili. Berikut ini adalah kutipan dari cerita yang berjudul “Kumarane Komariah.” Wekasane Mat Rojali kawin meneh karo prawan asal Tasik. Jenenge Sukesih. Durung gantalan taun dadi bojone Mat Rojali, Sukesih mbobot, sing njalari Mat Rojali nglalekake Kokom” (Sriyono, 2013: 5). (“Sudah lima tahun berumah tangga namun tak kunjung dikaruniai momongan. Hal itu yang menjadi alasan bagi Mat Rojali untuk menikah lagi dengan perawan asal Tasik. Namanya Sukesih. Belum sempat tahun berganti Sukesih menjadi istri Mat Rojali, Sukesih hamil. Hal itu yang menyebabkan Mat Rojali melupakan Kokom.”) Komariah hanya dihargai sebagai patner seksual dan penerus keturunan. Komariah mandul, oleh karena itu dia dinilai pantas oleh suaminya yang bernama Mat Rojali untuk dimadu. Setelah menikah dengan Sukesih yang dengan cepat dapat memberikan keturunan, fungsi Komariah sebagai patner seks Mat Rojali telah tergantikan oleh istri barunya. Menikah lagi dinilai sebagai jalan keluar untuk memperoleh keturunan namun perlu dipertanyakan motivasi Mat Rojali menikah dengan perawan yang belum terbukti dapat memberikan keturunan. Indikasi yang paling besar adalah Mat Rojali ingin membuktikan maskulinitas atau kejantanannya dengan menaklukkan tidak hanya satu perempuan




👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND dan membuktikan bahwa dirinya dapat melanjutkan dominasi tidak hanya atas perempuan-perempuan tapi atas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar