Sabtu, 17 Mei 2025

Kisah Nyata: Kuntilanak Merah

 


Saat sekolah, kegiatan pramuka pasti memiliki agenda Jurit Malam. Jurit Malam sendiri bukan hanya ajang senior menakut-nakuti adik kelas, namun juga membantu agar siswa dapat membangun keberanian dari dirinya.


“Anton.” Panggilku padanya yang baru saja tiba. “Tahu nggak kalau kelas satu wajib ikut Jurit Malam?” 


Anton mengangguk. “Iya tadi udah lihat di mading.”


“Kelas kita kebagian hari apa?” Tanyaku.


“Kamis, pas banget malam Jumat.”


“Kalau Cindy?” 


“Sabtu dia mah, nggak asyik banget dipisah-pisah gini.” Jawab Anton lesu, sebab dari awal dia ingin satu tim bersama gebetannya ketika Jurit Malam.


.

Hari Kamis pun tiba, Ibu sudah menyiapkan berbagai macam keperluan yang kubutuhkan untuk menginap semalam di sekolah. Dari baju ganti, mi instan, obat nyamuk, hingga senter untuk kegiatan Jurit Malam.

Awalnya aku tidak antusias saat tahu acara Jurit Malam hanya diadakan di sekolah, sebab sekolahku memang tidak begitu luas, dan tidak ada kesan seramnya sama sekali ketika pagi hari.


Namun ketika malam tiba dan lampu dipadamkan, aku seolah tidak mengenali lagi sekolahku.

“Selamat malam semua.” Sapa Kak Ridho menyapa kami. Kak Ridho merupakan ketua Osis, sekaligus bertugas menjadi pembimbing kami untuk malam ini. “Hari ini kalian akan melakukan Jurit Malam, udah tahu belum aturannya?”


“Belum Kak.” Jawab anak kelas 1 bersamaan.


“Emangnya kalian belum dapat bocoran dari anak kelas lain?” Goda Kak Ridho.


Kami tertawa. Sebenarnya sudah banyak desas-desus beredar kalau acara Jurit Malam nanti para siswa diminta pergi berdua keliling sekolah tanpa penerang apa pun, dan diminta melakukan list pada hantu apa saja yang ditemukan dan di ruangan apa. Hal ini dilakukan agar siswa benar-benar keliling.

“Nah sekarang kalian cari satu teman untuk bekerja sama.” Lanjut Kak Ridho menjelaskan.



Aku dan Anton langsung mengangkat tangan kami yang sudah bergandengan, agar menunjukkan bahwa kami rekan satu tim. 

Setelah lima menit menunggu, akhirnya satu per satu kelompok diminta berjalan keliling.

“Kita giliran ke berapa Ton?” 


“Lima dari terakhir.” Jawab Anton.


“Ya ampun sial amat.” Balasku tertawa. “Satu kelompok 10 menit, jadi kita baru start jalan jam 2 nih?”


Anton mengangguk. “Iya, anjay banget dah!”


.

Setelah beberapa jam, akhirnya tiba giliranku dan Anton. Kami diminta berjalan bersama, namun semua alat penerangan dan ponsel harus dititipkan di kakak kelas.

Saat masih berada di garis start, aku ingin cepat-cepat memulai uji nyali ini. Ingin saja membuktikan kepada yang lain bahwa aku berani. Namun ini tidak seperti sekolahku ketika siang hari, rasanya tangga menuju lantai dua menjadi mencekam seolah ada seseorang yang siap menyapa kami ketika tiba di ujung.



Srr ~

Sebuah angin kecil melewati tengkuk leherku begitu saja. Aku masih terdiam, tidak ingin menunjukkan bahwa sebenarnya ada rasa takut mengganggu hatiku.

“Sat.”


“Kenapa Ton?”


“Kita harus ke mana dulu nih?”


“Harus cek satu-satu kan ruangan di lantai 2 ini.” Jawabku mengingatkan perintah dari Kakak kelas. “Suara kamu kenapa gemetaran gitu sih?”


“Nggak enak aja perasaanku.” Balas Anton tanpa menutupi rasa khawatirnya.


“Aku juga sih, kayak banyak orang sedang melihat kita.” 


Anton mengangguk.

.

Kami terus berjalan dan memasuki ruang demi ruang untuk mencari sosok hantu yang diperankan oleh kakak kelas. Sebenarnya semua juga tahu bahwa hantu di sini adalah manusia, namun suasana mencekam di lorong membuat seluruh bulu kudukku berdiri.


Informasi penting disajikan secara kronologis

“Kelas 11 A.” Seru Anton ketika melihat papan petunjuk yang ada di atas pintu.


“Masuk nggak?” Tanyaku memastikan.


“Yuk bareng.”


Krieeet ~

Suara derit pintu menggema di seluruh ruang. Aku menatap sekeliling, sebelum dikagetkan dengan pocong yang melompat ke depan wajahku.

“Anji**” Pekik Anton dan membuat Kak Binar yang menjadi pocong tertawa ngakak.


Aku masih terdiam karena terkejut.

“Kaget ya?” 


“Banget Kak.” Jawabku dan Anton bersamaan.


“Ya udah lanjut keliling lagi gih, jangan lupa catat ya ketemu hantu apa saja dan nomernya.” Ingat Kak Binar.


Aku dan Anton mengangguk bersama, kami pun segera keluar dan mencari di ruangan lain.

“Hhh.” Dengusku lelah. “Baru satu ruangan aja capek banget ya.”


Anton mengangguk. “Lemas aku.”



Kami pun kembali berjalan melewati lorong panjang yang gelap. Setelah berkeliling dan memasuki satu per satu ruang, kami sudah mendapatkan total lima hantu. 

“Kita perlu ke kamar mandi nggak sih?”


“Dibilang semua ruangan di lantai 2 kan?” Tanyaku memastikan.


“Iya sih, ya udah kamu aja deh Sat capek aku.”


“Ih Cemen.” Jawabku tertawa.


Aku memberanikan diri berjalan mendekat ke arah kamar mandi, letak ruangan ini berada di paling ujung dan membuatnya sama sekali tidak mendapatkan cahaya apa pun. Gelap, pekat, dan pengap itu yang kurasakan ketika memasuki kamar mandi.

Aku melihat kanan kiri, memastikan apakah aku harus berjalan maju atau tidak.

Brak!

Pintu kamar mandi paling ujung terbuka dan seseorang berjalan keluar.


Kak?” Panggilku.


Hening.

Aku hendak mendekat untuk mencari tahu nomer di bajunya, namun ‘dia’ hanya terdiam dan membelakangiku. 

Entah kenapa hal ini membuatku tidak berani mendekat. Aku memutuskan untuk berjalan keluar, setidaknya grup kami mendapatkan informasi bahwa di kamar mandi ada kakak kelas yang menyamar menjadi kuntilanak merah.

.

Aku dan Anton sudah tiba kembali di garis finish. Rasanya lega melihat lampu penerangan setelah sepuluh menit berada di kegelapan.

“Gimana?” Sapa Kak Melati setelah melihat kami. “Aman nggak?”


“Aman Kak.” Sahut kami bersamaan.


“Yuk kasih list ya hantu apa saja yang kalian temukan.”


“Ruang kelas 11 A ada Pocong, nomer 73.”


“Ruang kelas 11 C ada Buto Ijo, nomer 44.” 




Ruang Lab Biologi ada Kuntilanak putih, nomer 13.”


“Ruang Komputer ada Hantu Satpam, nomer 54.”


“Ruang Kesenian ada Tuyul, nomer 66.”


“Terakhir saya lihat di kamar mandi, ada Kuntilanak merah tapi nomornya nggak kelihatan kak.” Lanjutku melengkapi list kami.


“Ha?” Tanya Kak Melati bingung. “Di Kamar Mandi?”


Aku mengangguk. 

“Kamar mandi?” Tanya Kak Melati berusaha memastikan kembali.


“Iya Kak.”


“Tapi kan kita nggak ada taruh hantu di sana Satria.”


“Ha?” Kataku bingung, sebab aku benar-benar melihat jelas seseorang keluar dari bilik terakhir dan berdiri membelakangiku. “Tapi saya benar-benar lihat Kak.”


“Kamu nggak lihat nomornya?”


Aku menggeleng. “Nggak Kak, karena dia diam saja yang jadi nggak berani mendekat.”


“Ya udah nggak usah kamu pikirkan lagi ya.” 



Tapi dia manusia kan kak?” Tanyaku memastikan.


“Udah malam, Kakak harus urus anak-anak yang lain.” Jawabnya seolah enggan menjawab pertanyaanku.


Sejak saat itu, aku tidak berani ke kamar mandi di lantai 2 sekalipun sedang mengikuti kegiatan di sana. Aku akan memilih turun ke lantai 1, dan menggunakan kamar mandi di dekat kantin. 

Entah walau tidak ada yang menjelaskan padaku sosok tersebut hantu atau tidak, namun aku tahu bahwa ‘dia’ bukan manusia, karena hanya aku yang melihatnya.


👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar