Teror di Mes Karyawan
Mes karyawan pabrik tekstil itu berdiri di pinggir kota, bangunannya tua dan lembap. Banyak karyawan baru yang enggan tinggal di sana karena sering terdengar cerita tentang suara-suara aneh di malam hari. Namun bagi Arman, karyawan shift malam, tidak ada pilihan lain selain tinggal di mes itu untuk menghemat pengeluaran.
Malam pertama berjalan tenang… hingga pukul 02.13, ketika listrik tiba-tiba mati.
Arman terbangun karena mendengar suara ketukan pelan di pintu kamarnya.
Tok…
Tok…
Tok…
Ia mengernyit. “Siapa malam-malam begini?”
Tidak ada jawaban.
Ketukan kedua terdengar lebih keras, seolah seseorang menempelkan telapak tangannya di pintu dan menyeretnya ke bawah. Arman meraih senter, mendekati pintu, dan mengintip lewat lubang kecil. Tidak ada siapa pun, hanya lorong gelap dan lampu emergency yang berkedip-kedip.
Ketika ia hendak balik badan, tiba-tiba terdengar bisikan dari balik pintu:
“Jangan buka…”
Arman mematung. Suara itu seperti suara perempuan… tapi tidak seperti suara manusia yang biasa ia dengar—lebih seperti berasal dari perut, berat dan pecah-pecah.
Keesokan paginya, ia menanyakan kepada penghuni mes lain. Semua hanya saling pandang, dan salah satu dari mereka, Rudi, akhirnya bersuara.
“Kau dengar itu juga? Di sini memang begitu. Dulu pernah ada karyawan perempuan meninggal di lorong itu. Katanya dia terus mengetuk pintu-pintu mencari bantuan…”
Arman menelan ludah.
“Tapi… kenapa dia bilang jangan buka?”
Rudi hanya mengangkat bahu. “Mungkin karena kalau pintu dibuka… dia bukan yang masuk.”
Malam berikutnya, Arman sengaja begadang. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tepat pukul 02.13, listrik kembali mati. Lorong menjadi sunyi.
Lalu—ketukan itu datang lagi.
Tok…
Tok…
Tok…
Arman sudah siap memegang gagang pintu, namun suara bisikan itu muncul lagi.
“Jangan… buka…”
Tapi kali ini, dari arah lorong terdengar suara langkah kaki lain—berat, menyeret, dan jauh lebih besar dari suara perempuan tadi. Langkah itu berhenti tepat di depan pintunya.
Arman menahan napas.
Lalu sesuatu menggaruk pintu dari luar, panjang dan lambat, seolah memiliki kuku yang tidak wajar.
Sssscrrrtttt…
Arman memundurkan diri. Suara perempuan itu terdengar panik:
“Pergi! Jangan biarkan dia masuk!”
Pintu mulai bergetar, seakan seseorang—orang lain—mencoba memaksa masuk. Arman menahan gagang pintu dengan seluruh tenaganya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti seabad, semuanya mendadak berhenti.
Tidak ada suara. Tidak ada ketukan. Tidak ada bisikan.
Esoknya, ketika listrik sudah menyala penuh, Arman memberanikan diri memeriksa pintu.
Di permukaan kayu itu terdapat tiga bekas cakaran panjang, dalam, dan hangus seperti terbakar.
Sejak malam itu, Arman tidak pernah lagi tidur di mes.
Tapi kadang, ketika lewat dekat gedung itu sepulang kerja, ia masih mendengar suara ketukan dari lantai dua.
Tok…
Tok…
Tok…
Seolah seseorang… atau sesuatu… masih mencari pintu yang mau dibuka.
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND
.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar