“Pocong Muka Hancur dari Kebun Belakang”
Malam itu, hujan turun perlahan di kampung Banyumas. Angin dingin merayap masuk lewat celah jendela rumah Raka. Ia baru pindah ke kampung itu seminggu lalu, menempati rumah peninggalan kakeknya. Warga sekitar sudah mengingatkannya:
“Jangan keluar ke kebun belakang setelah Isya. Ada yang suka menampakkan diri,” kata Pak RT dengan wajah serius.
Raka mengira itu hanya cerita untuk menakut-nakuti pendatang baru. Tapi malam itu, setelah lampu berkedip dua kali dan listrik mati, ia mendengar sesuatu — suara kain diseret dari arah kebun belakang.
Serut... serut... serut…
Raka mencoba mengabaikan, tetapi suara itu makin dekat, seolah merayap menuju pintu belakang rumah. Ia menyalakan senter ponsel dan mendekati jendela. Hujan membuat kaca sedikit berkabut, tetapi ia bisa melihat sesuatu berdiri di antara pepohonan pisang.
Sosok putih terikat kain kafan.
Namun yang membuat napas Raka tercekat bukanlah sosok pocong itu…
Melainkan wajahnya yang gelap, cekung, dan seperti tidak utuh. Tidak jelas bentuknya, seperti ada bagian yang hilang, tetapi tetap terlihat seperti menatap Raka tanpa mata.
Pocong itu miring, tubuhnya bergetar, dan kepala yang rusak itu perlahan menengok ke arah jendela Raka.
Suara serut-serut itu ternyata berasal dari kain kafannya yang basah, diseret tanah.
Tiba-tiba suara hujan mereda.
Yang terdengar hanyalah…
duk… duk… duk…
Pocong itu mulai meloncat. Pelan, tapi teratur. Menuju rumah Raka.
Raka terpaku. Senter di tangannya gemetar.
Ketika pocong itu sudah berada tepat di depan jendela, kepalanya menunduk. Dari bagian wajah yang tak berbentuk itu muncul suara rendah, serak, seperti seseorang yang berbicara dari dalam tanah:
“Kau… menempati… tempatku…”
Lampu rumah mendadak menyala kembali. Dan dalam sekejap, pocong itu menghilang.
Namun sejak malam itu, setiap jam dua dini hari, Raka selalu mendengar suara kain diseret di luar jendela… seakan sosok itu belum pergi.
Hanya menunggu saat Raka membuka pintu belakang—sekali saja.
๐ Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:
Posting Komentar