Selasa, 27 Januari 2026

Misteri Kandang Bubrah ( PART 2 )



                                            Misteri Kandang Bubrah (  PART 2  )




@SUARITOTO - Sejak malam pemakaman ibu, rumah itu tidak pernah benar-benar tidur lagi. Kesunyian yang sebelumnya terasa damai kini berubah menjadi tekanan yang menghimpit dada. Novia merasa setiap dinding mengawasi, setiap sudut menyimpan bisikan yang tidak ingin ia dengar. Aroma tanah basah dan anyir darah seakan menetap di udara, meski hujan telah berhenti dan lantai telah dibersihkan berkali-kali.


Ayah menjadi JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH  : Misteri Kandang Bubrah (  PART 1  ) sosok yang asing. Ia jarang berbicara, jarang menatap mata anak-anaknya, dan semakin sering menghilang saat malam tiba. Setiap kali pulang menjelang subuh, wajahnya tampak kusut, matanya merah seperti habis menangis atau tidak tidur sama sekali. Bajunya sering kotor, berlumur tanah, dan bau yang menempel padanya membuat Novia mual.


Bau itu bukan bau kandang biasa. Ada sesuatu yang lebih berat, lebih menusuk, seolah berasal dari tempat yang tidak seharusnya tersentuh manusia.


Andi, yang biasanya lebih berani, mulai berubah. Ia menjadi pendiam, mudah tersulut emosi, dan sering terbangun di tengah malam dengan napas memburu. Beberapa kali Novia mendengar kakaknya berteriak memanggil ibu dalam tidur.


Suatu malam, Andi duduk di teras belakang sambil menatap kandang tua yang berdiri tidak jauh dari kebun.


“Nov,” katanya tiba-tiba, suaranya rendah, “kamu pernah dengar suara dari sana?”


Novia mengikuti arah pandang Andi. Kandang itu tampak gelap, papan-papannya lapuk, atapnya berlubang. Tempat itu sudah lama tidak dipakai sejak sebelum mereka pindah ke rumah tersebut.


“Suara apa?” tanya Novia.


“Kayak… orang bernafas,” jawab Andi pelan. “Tapi berat. Bukan manusia.”


Novia merinding. Ia teringat malam saat mereka mengintip ayah di sana. Kepala kambing, lilin, dan bisikan-bisikan yang tak bisa dilupakan.


Sejak malam itu, rasa ingin tahu bercampur ketakutan mulai menggerogoti Novia. Pesan terakhir ibu terus berputar di kepalanya: ikuti ayah, jangan melawan. Namun semakin lama, kalimat itu justru terasa seperti peringatan, bukan nasihat.


Pada malam keempat setelah pemakaman, Novia terbangun sekitar pukul dua dini hari. Rumah gelap, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan. Dari luar, terdengar suara pintu belakang dibuka perlahan.


Langkah kaki.


Novia bangkit, jantungnya berdegup kencang. Ia mengintip dari celah pintu kamar dan melihat bayangan ayah melintas, membawa sesuatu yang dibungkus kain kasar.


Tanpa membangunkan Andi, Novia mengikuti dari jarak aman. Kakinya gemetar, telapak tangannya basah oleh keringat. Ayah berjalan menuju kebun belakang, melewati pepohonan, lalu berhenti di depan kandang tua.


Pintu kandang dibuka. Engselnya berdecit pelan.


Novia bersembunyi di balik semak, mengintip melalui celah papan yang renggang. Cahaya lilin menerobos kegelapan, memantul pada benda-benda aneh di dalam.


Di tengah kandang, ayah berlutut. Kain yang dibawanya dibuka perlahan. Di dalamnya, tergeletak kepala kambing, matanya masih terbuka, lidahnya menjulur, darah menetes ke tanah.


Novia menahan napas.


Ayah menata sesajen: bunga layu, beras, kemenyan, dan mangkuk tanah bercampur darah. Ia menyalakan lilin satu per satu, lalu mulai berkomat-kamit dalam bahasa yang tidak dimengerti Novia. Suaranya serak, penuh ketakutan dan kepasrahan.


“Sudah kuberikan,” bisiknya. “Satu sudah pergi. Jangan minta lebih cepat dari waktunya.”


Angin berhembus tiba-tiba, membuat api lilin bergoyang liar. Bayangan ayah di dinding kandang tampak memanjang, terdistorsi, seolah ada sosok lain berdiri di belakangnya.


Novia menutup mulutnya. Air mata mengalir tanpa suara.


Tiba-tiba, terdengar suara lain. Nafas berat. Dalam.


Bukan dari ayah.


Novia menoleh ke arah sudut kandang. Kegelapan di sana tampak lebih pekat, seperti menyerap cahaya. Dari balik bayangan, sepasang mata merah menyala muncul perlahan.


Ia hampir berteriak.


Ayah terdiam. Tubuhnya kaku. Ia menunduk lebih dalam, dahinya menyentuh tanah.


“Belum waktunya,” katanya gemetar. “Masih sepuluh tahun.”


Bayangan itu bergerak mendekat. Bau busuk bercampur darah dan kotoran menyeruak, membuat Novia hampir muntah. Dari balik kegelapan, terdengar suara rendah, berat, seperti gesekan batu.


“Janji… adalah janji…”


Novia mundur perlahan, takut ketahuan. Ia berlari kembali ke rumah dengan napas tersengal, tubuhnya gemetar hebat.


Keesokan paginya, Andi memperhatikan wajah Novia yang pucat.


“Kamu lihat sesuatu, ya?” tanyanya tajam.


Novia ragu. Namun akhirnya ia menceritakan apa yang dilihatnya. Wajah Andi mengeras. Rahangnya mengatup kuat.


“Jadi benar,” gumamnya. “Bukan cuma mimpi.”


Sejak saat itu, Andi mulai mencari tahu. Ia bertanya pada orang-orang tua di desa, membaca buku-buku lama yang tersimpan di perpustakaan kecil kecamatan, bahkan menemui seorang dukun tua yang dikenal tertutup.


Dari potongan-potongan cerita, Andi menemukan istilah yang membuat darahnya dingin: kandang bubrah.


Pesugihan terlarang yang menjanjikan kekayaan dan kelancaran hidup, dengan satu syarat mutlak: tumbal dari darah keluarga sendiri, setiap sepuluh tahun sekali. Ritualnya dilakukan di kandang atau tempat kotor, menggunakan kepala kambing sebagai pemanggil dan penanda perjanjian.


Dan yang paling mengerikan, perjanjian itu tidak bisa dibatalkan. Hanya bisa ditunda.


Andi pulang dengan wajah pucat. Malam itu, ia mengunci pintu kamar dan berbicara pada Novia dengan suara bergetar.


“Ibu bukan yang terakhir,” katanya. “Dan bukan yang pertama.”


Novia terisak. “Terus… siapa berikutnya?”


Andi terdiam lama sebelum menjawab. “Salah satu dari kita.”


Sejak mengetahui kebenaran itu, gangguan semakin menjadi. Novia mulai mendengar suara kambing mengembik di malam hari, padahal tidak ada ternak di sekitar rumah. Dinding kamar terkadang terasa berdenyut, seolah bernafas. Cermin memantulkan bayangan yang tidak sesuai dengan gerak tubuhnya.


Andi mulai sering bermimpi buruk. Dalam mimpinya, ia berdiri di depan kandang, sementara sosok tinggi berkepala kambing memanggil namanya.


“Aku yang berikutnya,” kata Andi suatu pagi dengan mata merah. “Aku tahu.”


Ia mencoba melawan. Andi berusaha menghancurkan kandang itu di siang hari. Ia membawa kapak dan memukul papan-papan lapuknya. Namun setiap kali kapak menghantam, ia merasakan nyeri hebat di kepalanya, seolah tulangnya sendiri yang retak.


Ayah menemukan Andi pingsan di depan kandang.


“Jangan pernah sentuh tempat itu!” teriak ayah, emosinya meledak untuk pertama kali. “Kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi!”


“Anda yang memulai semua ini!” Andi membalas dengan mata penuh amarah. “Ibu mati karena itu!”


Ayah terdiam. Wajahnya runtuh. Ia jatuh berlutut, menangis tanpa suara.


“Kalau tidak kulakukan,” katanya lirih, “kita semua sudah mati sejak lama.”


Sejak hari itu, Andi berubah drastis. Ia semakin sering mendengar bisikan, semakin jarang tidur, dan tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda yang sama seperti ibu dulu: pucat, keringat dingin, dan luka-luka kecil yang muncul tanpa sebab.


Novia menyadari satu hal mengerikan:

ritual di kandang itu bukan sekadar pemanggilan,

melainkan penanda waktu.


Kepala kambing yang dipersembahkan bukan untuk meminta,

tetapi untuk mengingatkan.


Dan setiap kali ritual dilakukan, hitungan menuju tumbal berikutnya dimulai kembali.


Di balik rumah, kandang tua itu berdiri diam, menyimpan darah, janji, dan dosa yang belum selesai. Setiap papan, setiap tanah di bawahnya, seolah berdenyut menunggu saatnya kembali menagih.


Dan jauh di dalam kegelapan, sesuatu telah menandai Andi.


Sementara Novia, tanpa disadari, telah mulai diperhatikan sebagai penerus berikutnya.

JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH  : Misteri Kandang Bubrah (  PART 1  )

Kemakmuran Aneh dan Teror yang Tak Pernah Usai

Kematian ibu bukan hanya meninggalkan luka batin yang menganga, tetapi juga menghadirkan perubahan yang ganjil dalam kehidupan keluarga mereka. Perubahan itu tidak datang sebagai musibah tambahan, melainkan sebagai kemakmuran yaitu sesuatu yang terasa salah sejak awal.

Beberapa bulan setelah pemakaman, ayah mulai membawa pulang uang dalam jumlah yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Utang-utang lama lunas satu per satu. Atap rumah diperbaiki. Perabotan baru menggantikan yang usang. Bahkan kebun kecil di belakang rumah diperluas dan menghasilkan panen yang berlimpah, meski tanahnya tidak pernah diberi pupuk khusus.

Warga desa mulai berbisik-bisik.

“Rezekinya lancar betul sejak istrinya meninggal,” kata seseorang di warung.

“Mungkin sudah waktunya dia naik,” jawab yang lain, setengah iri, setengah curiga.

Namun di balik kelancaran itu, rumah Novia tak pernah benar-benar tenang. Setiap rezeki yang datang terasa seperti imbalan dari sesuatu yang tidak terlihat, dan sesuatu itu terus menuntut balasan.

Ayah semakin jarang di rumah pada malam hari. Setiap sepuluh hari sekali, hampir selalu di tanggal yang sama, ia pergi ke kandang tua. Kadang membawa karung, kadang membawa wadah tanah liat tertutup kain hitam. Novia dan Andi tidak lagi mengintip. Mereka tahu, melihat terlalu banyak hanya akan mempercepat kegilaan.

Andi menjadi yang paling terdampak.

Ia mulai mengalami mimpi yang sama berulang-ulang. Dalam mimpinya, ia berdiri di depan kandang tua, sementara tanah di bawah kakinya retak dan mengeluarkan bau busuk. Dari dalam kegelapan, sosok tinggi berkepala kambing melangkah pelan mendekat. Setiap langkahnya diiringi bunyi tulang beradu.

“Masih ada waktu,” suara itu selalu berkata.

“Sepuluh… sembilan… delapan…”

Andi selalu terbangun sebelum hitungan itu selesai, tubuhnya basah oleh keringat, jantungnya berdegup seolah ingin keluar dari dada.

Pagi hari, ia duduk termenung menatap tangannya sendiri, seakan menunggu tanda yang belum muncul.

“Aku dengar suaranya waktu bangun,” katanya suatu hari pada Novia. “Bukan cuma di mimpi.”

Novia mencoba menguatkan, meski ketakutan yang sama telah bersarang di dadanya.

“Jangan dengarkan,” katanya lirih. “Kita cari cara.”

Namun mencari cara berarti menghadapi ayah dan itu bukan sesuatu yang mudah.

Ayah berubah menjadi sosok yang semakin keras dan tertutup. Setiap kali Andi menyinggung kandang atau kematian ibu, ayah langsung menutup pembicaraan dengan amarah yang tak terkendali.

“Kalian hidup karena itu!” bentaknya suatu malam. “Kalian makan dari hasil itu!”

Andi berdiri, wajahnya merah menahan emosi. “Kami hidup dari darah ibu!”

Kalimat itu menggema di ruang tamu seperti palu menghantam dinding. Ayah terdiam. Tangannya gemetar. Namun alih-alih meminta maaf, ia hanya membalikkan badan dan pergi.

Sejak pertengkaran itu, Andi semakin sering menghilang. Ia tidak pulang berhari-hari, lalu kembali dengan wajah lebam dan mata kosong. Ia mencoba segala cara untuk melepaskan diri dari kutukan: puasa, doa, mendatangi orang pintar dari desa lain, bahkan mencoba membuang jimat-jimat yang ia temukan tersembunyi di rumah.

Namun setiap usaha berakhir sama.

Suatu malam, Novia terbangun oleh suara jeritan keras dari luar rumah. Ia berlari ke halaman belakang dan menemukan Andi terjatuh di tanah, memegangi kepalanya.

“Dia ada di sini,” teriak Andi histeris. “Dia berdiri di atas kandang!”

Novia menatap ke arah kandang. Tidak ada siapa-siapa. Hanya gelap dan sunyi. Namun bau kambing yang menyengat membuat perutnya mual.

Andi mulai menunjukkan gejala yang sama seperti ibu dulu.

Kulitnya pucat. Nafsu makannya hilang. Kadang ia menemukan goresan kecil di lengannya saat bangun tidur, seolah ada sesuatu yang menyentuhnya di malam hari. Yang paling mengerikan adalah bisikan-bisikan yang semakin jelas.

“Kau sudah dipilih.”

Bisikan itu datang di tengah siang, di tengah keramaian pasar, bahkan saat ia berdoa.

Novia menyadari bahwa kemakmuran keluarga mereka tidak pernah gratis. Setiap keberhasilan ayah selalu diiringi kejadian buruk yang menimpa Andi. Saat ayah mendapatkan kontrak ternak besar, Andi jatuh sakit selama seminggu. Saat ayah membeli tanah baru, Andi mengalami kecelakaan kecil yang nyaris merenggut nyawanya.

Seolah ada timbangan gaib yang terus dijaga keseimbangannya.

Ayah, di sisi lain, semakin tampak seperti orang yang dikejar waktu. Rambutnya memutih lebih cepat dari usianya. Matanya cekung. Ia sering terbangun sambil berteriak, memanggil nama istrinya.

Suatu malam, Novia memberanikan diri mengikuti ayah ke kandang lagi. Kali ini, ia tidak mengintip. Ia masuk.

Kandang itu terasa berbeda dari sebelumnya. Udara di dalamnya berat, pengap, seolah setiap tarikan napas harus dibayar mahal. Di tengah ruangan, terdapat simbol-simbol yang digoreskan ke tanah seperti lingkaran, garis patah, dan tanda menyerupai tanduk.

Ayah terkejut melihat Novia.

“Kamu tidak boleh di sini,” katanya dengan suara lelah, bukan marah.

“Berapa lama lagi?” tanya Novia langsung. “Berapa lama sampai dia mengambil Andi?”

Ayah terdiam lama. Api lilin bergetar.

“Sepuluh tahun,” jawabnya akhirnya. “Sejak ibu kalian.”

Novia menelan ludah. “Jadi Andi…”

Ayah mengangguk perlahan. “Dia sudah ditandai.”

Kata itu membuat lutut Novia lemas.

“Kalau Andi mati,” suara Novia bergetar, “apakah semuanya selesai?”

Ayah tertawa pendek, tawa pahit yang lebih mirip isakan. “Tidak pernah selesai.”

Ia menjelaskan, dengan suara patah-patah, bahwa pesugihan kandang bubrah tidak pernah benar-benar puas. Tumbal hanya menunda murka, bukan mengakhirinya. Kekayaan akan terus datang selama perjanjian dijaga, dan perjanjian hanya bisa dijaga dengan darah keluarga.

“Itu sebabnya ibu kalian berpesan untuk menurut,” kata ayah. “Dia tahu melawan hanya akan mempercepat semuanya.”

Novia keluar dari kandang dengan kepala berputar. Dunia terasa runtuh. Tidak ada jalan keluar yang terlihat. Melawan berarti mempercepat kematian. Menurut berarti menunggu dengan pasrah.

Sementara itu, kondisi Andi semakin memburuk.

Ia mulai berbicara sendiri di kamar, seolah sedang berdebat dengan seseorang yang tidak terlihat. Kadang ia menangis, kadang tertawa tanpa sebab. Novia sering menemukan Andi duduk di depan cermin, menatap pantulan wajahnya sendiri dengan tatapan kosong.

“Kadang aku tidak melihat diriku,” katanya suatu sore. “Kadang aku melihat wajah lain.”

Warga desa mulai menyadari ada yang tidak beres. Beberapa orang enggan mendekat. Anak-anak kecil menghindari rumah itu. Ada yang berkata melihat bayangan besar berkepala kambing berdiri di atap rumah saat malam hujan.

Teror tidak hanya datang dalam bentuk penampakan. Benda-benda di rumah sering berpindah tempat. Lampu pecah tanpa sebab. Hewan peliharaan mati mendadak dengan leher terpuntir.

Namun setiap kali sesuatu yang buruk terjadi, uang selalu datang keesokan harinya.

Ayah seolah terjebak dalam lingkaran tak berujung: membayar dengan darah, menerima dengan harta.

Puncak teror terjadi pada suatu malam ketika Andi menghilang. Novia mencarinya ke seluruh desa, hingga akhirnya menemukan jejak kaki menuju kandang tua.

Di sana, Andi berdiri di depan pintu kandang, menatap ke dalam dengan senyum kosong.

“Aku capek lari,” katanya pelan. “Mungkin kalau aku masuk, semuanya berhenti.”

Novia menarik tangannya dengan panik. “Jangan! Kita cari cara lain!”

Andi menoleh. Matanya merah, namun ada ketenangan aneh di wajahnya. “Tidak ada cara lain. Kamu tahu itu.”

Malam itu, Novia menyadari satu kebenaran pahit:

kemakmuran yang mereka nikmati bukanlah anugerah,

melainkan umpan.

Dan teror yang tak pernah usai adalah cara kandang bubrah memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang lupa, 

setiap kekayaan yang mereka miliki telah dibeli dengan waktu, darah, dan nyawa.

Sementara hitungan sepuluh tahun terus berjalan,

dan Andi semakin dekat ke titik akhir,

Novia mulai merasakan tatapan lain,

tatapan yang belum menagih,

namun sudah memilih.

**** Bersambung ****

     Untuk cerita selanjutnya sambung besok yahh 😊😊😊....

JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH  : Misteri Kandang Bubrah (  PART 1  )

👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


1 komentar:

  1. JANGAN LUPA BACA PART SEBELUMNYA YAH : Misteri Kandang Bubrah ( PART 1 )

    BalasHapus