@SUARITOTO - Malam itu hujan turun seperti jarum-jarum kecil yang menancap ke tanah. Angin berdesir panjang melewati hamparan kebun jagung yang mengelilingi desa Sukamerta. Di ujung kebun itu berdiri sebuah rumah kayu tua yang sudah lama ditinggalkan. Atau setidaknya… itulah yang orang-orang kira.
Raka tidak percaya pada cerita-cerita mistis. Ia datang ke desa itu untuk meneliti urban legend demi konten kanal horornya. Kamera, senter, dan keberanian yang setengah dipaksakan menjadi bekalnya malam itu.
“Kalau ada yang nonton ini nanti, gue lagi ada di rumah paling angker di desa Sukamerta,” bisiknya ke kamera. Angin tiba-tiba berhenti. Sunyi menjadi terlalu sunyi.
Pintu rumah itu terbuka sedikit, berderit panjang seperti keluhan orang tua. Padahal Raka yakin tadi pintunya tertutup rapat.
Ia melangkah masuk.
Di dalam, bau lembap bercampur sesuatu yang amis menggantung di udara. Dinding kayu penuh goresan—seperti bekas kuku. Di lantai terdapat bekas seretan yang memanjang ke arah ruang belakang.
“Cuma efek psikologis,” gumamnya, walau tengkuknya terasa dingin.
Tiba-tiba terdengar suara langkah pelan di lantai atas.
Tok… tok… tok…
Langkah itu tidak terburu-buru. Seolah tahu ada tamu.
Raka menyorotkan senter ke tangga. Kosong.
Langkah itu berhenti.
Lalu terdengar suara anak kecil tertawa pelan.
Raka membeku.
Desas-desus mengatakan, dua puluh tahun lalu satu keluarga dibantai di rumah ini. Ayah, ibu, dan seorang anak perempuan. Tak ada pelaku yang tertangkap. Yang lebih aneh, tubuh mereka ditemukan dalam keadaan kaku di ruang makan—seolah mati karena ketakutan, bukan luka.
“Cuma cerita,” bisik Raka, tapi suaranya bergetar.
Tiba-tiba pintu di belakangnya tertutup keras.
BRAK!
Raka terlonjak. Ia mencoba membuka pintu itu, tapi tak bergerak sedikit pun. Seolah dikunci dari luar.
Lampu senter berkedip.
Dari lantai atas terdengar suara sesuatu yang diseret perlahan. Berat. Mendekat ke tangga.
Krekk…
Krekk…
Senter mati.
Gelap menelan semuanya.
Raka menyalakan kembali senternya dengan panik. Cahaya itu menyapu ruangan—dan berhenti di tangga.
Ada sesuatu berdiri di sana.
Sosok perempuan kecil dengan rambut panjang menutupi wajahnya. Pakaiannya putih kusam, bernoda gelap. Kepalanya miring tidak wajar, hampir patah.
“Pergi…” suara itu bukan keluar dari mulutnya. Suara itu seperti datang dari dinding, lantai, udara.
Raka mundur. Napasnya memburu.
“Aku tidak mengganggu!” teriaknya.
Sosok itu perlahan menuruni tangga, satu langkah setiap beberapa detik. Setiap kakinya menyentuh anak tangga, terdengar suara retakan kecil—bukan dari kayu… tapi seperti tulang yang digerakkan paksa.
Raka lari ke dapur. Ia menemukan jendela dan mencoba membukanya. Terkunci. Semua terkunci.
Suara langkah kini tepat di belakangnya.
Ia merasakan napas dingin di telinganya.
“Kau datang sendiri…”
Tangan kecil menyentuh bahunya.
Sentuhan itu bukan hanya dingin. Tapi berat. Seolah menekan jiwanya keluar dari tubuh.
Raka berbalik dan melihat wajah itu.
Wajah yang tidak memiliki mata.
Hanya rongga hitam kosong.
Tiba-tiba bayangan lain muncul di belakang sosok itu. Seorang pria dewasa dengan leher tertekuk aneh, wajah pucat kebiruan. Lalu seorang perempuan dengan senyum terlalu lebar, hingga hampir sobek.
Mereka berdiri mengelilinginya.
“Kenapa…?” Raka terisak.
Suara anak kecil itu menjawab, “Karena kami tidak mati sendiri.”
Dinding rumah mulai bergetar. Kayu-kayu retak. Dari celah-celahnya keluar tangan-tangan pucat, menjulur seperti akar yang mencari mangsa.
Raka menjerit saat tangan-tangan itu mencengkeram kakinya, menariknya ke lantai. Ia meronta, memukul, tapi setiap sentuhannya terasa seperti menembus kabut.
Sosok anak kecil itu mendekat dan menempelkan wajahnya yang kosong tepat di depan Raka.
“Kami butuh satu lagi.”
Tangan-tangan itu menyeretnya ke arah ruang makan.
Di sana ada meja tua.
Dan tiga kursi kosong.
Raka merasakan tubuhnya didudukkan paksa. Ia tidak bisa bergerak. Nafasnya berat. Dadanya sesak.
Sosok ayah dan ibu itu duduk di dua kursi lainnya.
Anak kecil itu berdiri di ujung meja.
Tiba-tiba suasana berubah sunyi total. Bahkan suara hujan hilang.
Raka ingin berteriak, tapi tidak ada suara keluar.
Perlahan, jantungnya berdetak semakin cepat… semakin keras… sampai terasa menyakitkan.
Anak kecil itu tersenyum.
Lalu semuanya gelap.
Keesokan paginya, warga desa menemukan pintu rumah itu terbuka.
Di dalam ruang makan, ada empat kursi.
Empat sosok duduk diam menghadap meja kosong.
Wajah mereka membeku dalam ekspresi ketakutan yang luar biasa.
Salah satunya adalah Raka.
Kamera miliknya ditemukan di lantai, masih menyala.
Rekaman terakhir menunjukkan Raka duduk sendirian di meja makan.
Tidak ada siapa-siapa di sekelilingnya.
Namun terdengar suara anak kecil berbisik sangat jelas di mikrofon:
“Kami tidak pernah membunuh. Kami hanya mengajak.”
Dan sejak hari itu, rumah di ujung kebun jagung tidak pernah benar-benar kosong.
Karena kursi kelima… masih tersedia.
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:
Posting Komentar