Kamis, 05 Februari 2026

MISTERI Pocong Alas Roban


 Pocong Alas Roban


@SUARITOTO - Tidak semua jalan diciptakan untuk dilewati dengan aman.

Ada jalan yang menyimpan jejak darah, tangis, dan doa yang tak pernah sampai ke langit.


Alas Roban adalah salah satunya.


Di siang hari, ia hanya hutan biasa di tepi Pantura.

Namun ketika malam turun, pepohonan menjadi saksi bisu dari kecelakaan, pengkhianatan, dan kematian yang tak pernah dipulangkan dengan layak.


Konon, arwah yang mati sendirian tak pernah benar-benar pergi.

Mereka menunggu.

Mengikuti langkah orang-orang yang melintas.

Mencari satu hal sederhana yang tak pernah mereka dapatkan semasa hidup:


dipulangkan.


Jika kau membaca cerita ini di tengah malam,

dan kebetulan jalan di depan rumahmu sunyi…

jangan menoleh ke belakang.


Karena mungkin…

ada yang ikut membaca bersamamu.


 *** Jalan Pantura yang Tak Pernah Sepi ***


Alas Roban bukan sekadar hutan.
Bagi warga Pantura, Alas Roban adalah pintu menuju dunia lain.

Malam itu, hujan turun tipis membasahi aspal jalan Pantura. Kabut turun rendah, menelan lampu-lampu kendaraan yang melintas. Randi mengemudi truk pengangkut beras dari Semarang menuju Jakarta. Ia sudah sering melewati Alas Roban, tapi entah kenapa malam ini dadanya terasa sesak.

Jam menunjukkan pukul 01.47 dini hari.

“Biasanya aman-aman aja… kenapa rasanya gak enak banget malam ini,” gumam Randi sambil menyalakan rokok.

Radio truk hanya memutar statik. Tak ada sinyal.

Tiba-tiba, di pinggir jalan, Randi melihat sesosok putih berdiri kaku di bawah pohon besar. Kepalanya terbungkus kain, tubuhnya lurus tanpa tangan terlihat.

Pocong.

Randi menginjak rem refleks.

Jantungnya berdegup liar.

“Ah… halu. Pasti kain jemuran orang,” ucapnya sambil menggeleng, memaksa pikirannya tetap rasional.

Ia melaju lagi.

Namun, saat kaca spion dilirik…

Sosok putih itu mengikuti truknya. Melompat.

Bukan berjalan.
Tapi melayang, mendekat.




Di pos istirahat kecil sebelum Alas Roban, Randi berhenti. Keringat dingin membasahi punggungnya. Di sana, duduk seorang sopir tua, rambutnya memutih, wajahnya penuh keriput.

“Kamu lihat juga ya?” tanya sopir tua tanpa menoleh.

Randi terdiam.
“Lihat apa, Pak?”

“Pocong Alas Roban. Yang cari balas dendam.”

Randi menelan ludah.
“Bapak tau dari mana?”

Sopir tua tersenyum pahit.

“Dulu, tahun 90-an… ada kecelakaan bus di tikungan maut. Bus jatuh ke jurang. Banyak yang mati, tapi satu penumpang masih hidup. Sopir bus kabur, ninggalin dia sekarat di tengah hutan.”

“Orang itu meninggal sendirian?”

“Lebih parah. Dia mati tanpa dikubur layak. Mayatnya baru ditemukan berhari-hari. Kain kafannya diikat asal. Sejak itu, pocongnya gentayangan. Katanya, dia cari sopir yang lari ninggalin dia.”

Randi merasa tengkuknya dingin.

“Terus… kalo pocong itu ngikutin?”

“Biasanya… orang itu gak pernah sampai tujuan.”



Randi tetap melanjutkan perjalanan. Ia butuh uang. Tidak ada pilihan.

Kabut semakin tebal. Lampu truk nyaris tak menembus gelap.
Tiba-tiba, di pinggir jalan, berdiri seorang pria muda dengan baju basah kuyup.

“Mas… boleh numpang?” teriaknya.

Randi ragu.
Tapi rasa kasihan mengalahkan takut.

Pria itu naik. Bau tanah basah langsung memenuhi kabin.
Wajahnya pucat. Matanya kosong.

“Kamu dari mana?” tanya Randi.

“Dari… bawah.”

“Bawah mana?”

Pria itu tersenyum.
Senyum yang terlalu lebar.

Lampu kabin tiba-tiba mati.

Saat menyala kembali…

Bangku penumpang kosong.
Yang tertinggal hanya bekas lumpur dan kain kafan robek.

Di kaca depan, muncul bekas telapak tangan…
Bukan telapak manusia.
Tapi jejak kain terikat.


Mesin truk mendadak mati di tikungan Alas Roban.

Hening.

Hutan seolah menahan napas.

Dari balik pepohonan, terdengar suara “duk… duk… duk…”
Seperti suara kain basah menghantam tanah.

Randi keluar, panik.
Dan ia melihatnya.

Pocong itu berdiri di tengah jalan.
Kepalanya miring.
Bagian lehernya tampak hitam membiru.
Kain kafannya robek, penuh tanah dan darah mengering.

Mata hitam kosong menatap Randi.

Lalu…
Pocong itu melompat semakin cepat.

Randi lari. Terpeleset.
Kakinya terjerat akar.

Pocong itu berhenti tepat di depan wajahnya.

Bau bangkai menyengat.

“A… aku bukan orang yang ninggalin kamu…” Randi menangis.

Pocong itu menunduk.

Lalu… terdengar suara lirih, seperti dari tenggorokan penuh tanah:

“Tolong… antar aku pulang.”


Randi sadar.

Ia terbangun di pinggir jalan.
Truknya masih hidup.
Subuh mulai merekah.

Di depan truk, tergeletak sepotong kain kafan tua.

Randi langsung ke desa terdekat. Ia menemui juru kunci Alas Roban. Bersama warga, mereka mencari lokasi kecelakaan lama. Di dalam jurang, ditemukan sisa-sisa tulang manusia yang tak pernah dimakamkan layak.

Mereka menguburkan tulang itu dengan doa.

Malam berikutnya, warga melihat sosok putih berdiri di pinggir Alas Roban.
Tapi kali ini…
Ia membungkuk, seperti mengucap terima kasih.
Lalu menghilang.


*** Epilog ***

 

Jalan yang Masih Panjang

Alas Roban masih gelap.
Masih penuh kecelakaan.
Masih penuh cerita hilang.

Tapi sejak malam itu, para sopir bilang:

Pocong Alas Roban tidak lagi mengejar.
Ia hanya berdiri diam, menunggu orang yang mau mengingatkan:
Bahwa di jalan gelap ini, masih ada arwah yang pernah dilupakan.






LINK TERPERCAYA SAAT INI

👉 SUARITOTO

👉 SUARITOTO

👉 DAFTAR SUARITOTO




👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND



Tidak ada komentar:

Posting Komentar