Rabu, 25 Februari 2026

MISTERI SEWU DINO

 

SEWU DINO


 “ Seribu Hari untuk Bertahan 


@SUARITOTO - Hujan turun tipis saat Wulan melangkah ke halaman rumah besar di ujung desa Sumberjati. Rumah itu tua, berpagar besi berkarat, dengan pohon beringin yang akarnya menjalar seperti ular mati. Tidak ada lampu, hanya cahaya rembulan yang membuat bayangan bergerak di dinding.


Wulan datang karena butuh uang.

Tawaran pekerjaan itu terlalu menggiurkan: gaji besar untuk menjaga seorang perempuan sakit selama seribu hari.

Satu syarat yang membuat bulu kuduk meremang:


Tidak boleh melanggar pantangan apa pun.


Di teras, seorang perempuan tua menunggu. Matanya hitam legam, seolah tak punya putih mata.


“Namamu Wulan?”

Wulan mengangguk.


“Mulai malam ini, kamu tidak lagi milik dirimu sendiri,” bisik perempuan itu.

“Kalau melanggar pantangan… bukan cuma kamu yang mati.”


Pintu kayu terbuka dengan suara panjang.

Bau anyir menyambut—seperti darah bercampur kemenyan.


Di dalam kamar, terbaring seorang perempuan muda di ranjang kayu. Tubuhnya kurus, matanya terpejam, dadanya naik turun sangat pelan. Kulitnya pucat kehijauan, seakan bukan milik orang hidup.


Di sudut ruangan, ada mangkuk tanah kuburan, bunga tujuh rupa, dan kendi berisi air keruh.


Perempuan tua itu menunjuk satu per satu pantangan:


Jangan pernah keluar kamar setelah magrib.


Jangan melihat wajah si sakit saat tengah malam.


Jika mendengar namamu dipanggil dari luar kamar, jangan menyahut.


Wulan menelan ludah.

“Kalau saya melanggar…?”


Perempuan tua itu tersenyum tipis.

“Yang datang bukan kematian. Yang datang… lebih kejam dari mati.”


Malam pertama terasa sunyi, terlalu sunyi.

Tidak ada jangkrik. Tidak ada angin.

Hanya detak jam tua di dinding: tik… tok… tik… tok…


Menjelang tengah malam, Wulan mendengar suara pelan.


“Wulan…”

Suaranya seperti suara ibunya.


Wulan reflek menoleh ke pintu.

“Bu…?”


Tiba-tiba seluruh ruangan menjadi dingin.

Lilin di meja padam sendiri.


Dari balik pintu, terdengar suara menggaruk pelan.

Krek… krek… krek…


“Wulan… bukakan pintunya…”


Napas Wulan tercekat.

Ia teringat pantangan ketiga.


Tangannya gemetar menutup mulut sendiri.

Ia tidak menjawab.


Suara di balik pintu berubah.

Tidak lagi seperti ibunya.

Menjadi suara parau, serak, penuh dengus marah.


“Kalau kau tidak buka…

aku akan masuk sendiri.”


Kaki Wulan lemas.

Ia menoleh ke ranjang.


Perempuan sakit itu…

pelan-pelan membuka matanya.


Matanya hitam seluruhnya.

Dan dari bibirnya keluar suara berbisik:


“Sewu dino durung rampung…

sing mati dudu aku.”


(Lima ratus hari belum selesai…

yang mati bukan aku.)


Di luar, pintu mulai bergetar.


DUARRR…


Pantangan Pertama Dilanggar”


Pintu kamar berguncang keras.


DUARR!

Kayunya berderit, seolah ada sesuatu yang menabrak dari luar dengan tubuh yang berat… terlalu berat untuk ukuran manusia.


Wulan terduduk lemas di lantai.

Matanya terpaku ke arah pintu.

Tangannya gemetar memeluk lutut.


Dari ranjang, perempuan sakit itu perlahan bangkit duduk.

Gerakannya kaku, tulangnya berbunyi pelan seperti bambu dipatahkan.


“Jangan… lihat aku,” bisiknya.


Wulan menahan napas.

Pantangan kedua: jangan melihat wajah si sakit saat tengah malam.


Ia memejamkan mata rapat-rapat.

Tapi suara napas dari ranjang makin dekat.

Terasa hangat… amis… seperti bau darah yang lama tak mengalir.


Tiba-tiba…


BRAK!


Pintu kamar terhenti berguncang.

Sunyi mendadak jatuh.

Terasa lebih menakutkan dari suara apa pun.


Wulan membuka mata perlahan.


Perempuan sakit itu kini berdiri di sampingnya.

Tubuhnya tinggi tak wajar, lehernya melengkung ke depan.

Rambut panjang menutupi wajah.


“Dia gagal masuk,” bisik perempuan itu.

“Untuk sementara.”


“Dia?” tanya Wulan dengan suara patah.


Makhluk itu mengangkat kepalanya sedikit.

Rambutnya terbelah, memperlihatkan mata hitam pekat tanpa putih mata.


“Yang menagih nyawa pengganti.”


Jantung Wulan serasa jatuh.

“Pengganti…?”


“Setiap penjaga sebelum kamu, melanggar pantangan,” ucapnya datar.

“Dan setiap pelanggaran… butuh tumbal.”


Wulan teringat suara ibunya di balik pintu.

Suaranya sendiri yang hampir menjawab.


“Berapa orang yang mati?” tanyanya gemetar.


Perempuan itu tersenyum.

Senyumnya terlalu lebar untuk wajah manusia.


“Enam.”


Angin dingin berhembus dari jendela yang tertutup.

Tirai bergerak sendiri.


Wulan berdiri, ingin menjauh, tapi kakinya terasa berat.

Tanah di lantai… mulai basah.


Bukan air.

Merah pekat.


Dari bawah ranjang, muncul tangan-tangan hitam kurus.

Jumlahnya banyak.

Kuku mereka panjang, menggores lantai, merayap ke arah kaki Wulan.


“Jangan lari,” kata perempuan sakit itu pelan.

“Yang lari, biasanya lebih cepat mati.”


Wulan teringat pantangan pertama:

jangan keluar kamar setelah magrib.


Namun rasa panik menguasai akalnya.

Tangisan tertahan di dadanya.


Salah satu tangan memegang pergelangan kakinya.

Dingin.

Lengket.


Wulan menjerit dan reflek menendang.


PLAK!


Pegangan terlepas.

Ia berlari ke arah pintu.


Satu langkah lagi…

dua langkah…


Tangannya menyentuh gagang pintu.


Dan di saat itulah…

Wulan sadar.


Di luar pintu…

terdengar langkah kaki pelan.

Bukan satu.

Banyak.


Disertai bisikan serempak:


“Keluar… keluar… keluar…”


Wulan teringat pantangan pertama.

Tapi tubuhnya sudah setengah di ambang pintu.


Perempuan sakit itu menjerit:


“KALAU KAMU KELUAR SEKARANG,

YANG MASUK BUKAN CUMA SATU!”


Terlambat.


Pintu terbuka sedikit.


Dan di celah pintu itu…

Wulan melihat bayangan berdiri terbalik di langit-langit lorong.

Lehernya memanjang, wajahnya menghadap ke belakang, matanya menatap langsung ke mata Wulan.


Bayangan itu tersenyum.


“Pantangan pertama…

dilanggar.”


Lampu minyak di kamar padam.

Ruangan tenggelam dalam gelap.


Di kegelapan itu, Wulan mendengar suara daging diseret.


Dan jeritan…

yang bukan berasal dari mulut manusia.



“Yang Menunggu di Hari ke-1000”


Gelap menelan segalanya.


Wulan terbangun di lantai kamar.

Kepalanya pusing, mulutnya terasa pahit seperti darah basi.

Lampu minyak menyala lagi—redup, goyah, seolah napas terakhir cahaya di ruangan itu.


Jam tua di dinding berbunyi pelan.


Tik… tok…


Wulan menoleh.

Angkanya berubah sendiri.

Bukan lagi hitungan hari biasa.


Hari ke-999.


Dadanya sesak.

“Tidak… ini belum mungkin…”


Perempuan sakit itu terbaring kembali di ranjang, napasnya kini berat dan terputus-putus. Kulitnya makin gelap, urat-urat hitam menjalar di leher dan pipinya seperti akar.


“Sudah hampir selesai,” bisiknya lirih.

“Seribu hari… dan aku bebas.”


“Bebas dari apa?” suara Wulan bergetar.


Perempuan itu tertawa pendek.

“Tapi bukan aku yang bebas…

yang bebas adalah yang menunggu di luar dunia ini.”


Tiba-tiba dinding kamar dipenuhi bayangan.

Bayangan para penjaga sebelumnya.


Enam sosok berdiri mengelilingi Wulan.

Wajah mereka rusak, sebagian tanpa mata, sebagian tanpa rahang.

Semua menatap Wulan dengan kebencian yang beku.


“Kami gagal,” bisik mereka serempak.

“Dan kau… akan menggantikan kami.”


Wulan mundur sampai punggungnya menyentuh tembok.


“Tidak… aku tidak mau mati di sini…”


Perempuan sakit itu duduk perlahan.

Kini wajahnya terlihat jelas.

Kulitnya pecah-pecah, di balik retakan itu bukan daging…

melainkan tanah kuburan.


“Yang kau jaga selama ini bukan manusia,” katanya datar.

“Aku wadah.”


“Wadah… untuk apa?”


Suara ketukan terdengar dari luar.

Bukan lagi pintu.

Dari tembok.

Dari langit-langit.

Dari lantai.


Tok… tok… tok…


“Untuk sesuatu yang dikubur hidup-hidup seribu hari lalu,” bisiknya.


Tiba-tiba ingatan asing menyerbu kepala Wulan.

Ia melihat kilasan masa lalu:


— Seorang anak kecil dikurung dalam peti kayu.

— Mantra dibacakan.

— Darah diteteskan di tanah.

— Tangisan teredam hingga berubah menjadi dengusan marah.


“Ritual Sewu Dino,” gumam perempuan itu.

“Untuk menumbuhkan penjaga kutukan.

Seribu hari ditahan…

seribu hari dendam dikumpulkan.”


Jam berdentang pelan.


Hari ke-1000.


Seluruh ruangan bergetar.

Lantai retak.

Dari celahnya, keluar tangan raksasa hitam penuh tanah.

Bau kuburan menusuk hidung.


Bayangan di dinding menjerit.


“Dia bangun…

dia bangun…!”


Perempuan sakit itu tersenyum, tapi kali ini…

wajahnya runtuh.


Kulitnya jatuh ke lantai seperti kain basah.

Di baliknya…

bukan tubuh manusia.


Melainkan sosok hitam besar dengan tulang-tulang menonjol, mata merah menyala dari dalam rongga gelap.


“Aku hanya pintu,” suaranya kini berlapis, bukan satu.

“Dan kau… kuncinya.”


Wulan teringat simbol kecil di lehernya—tanda yang diberikan di hari pertama bekerja.

Simbol itu kini terbakar panas.


Ia sadar kebenarannya:


Sejak awal, dirinya dipilih bukan untuk menjaga…

tapi untuk menggantikan.


Makhluk dari bawah lantai bangkit setengah badan.

Langit-langit runtuh.

Rumah tua itu menjerit seperti makhluk hidup.


“Seribu hari…

satu jiwa,” dengus makhluk itu.


Wulan menangis.

Tubuhnya terangkat tanpa disentuh.

Bayangan para penjaga lama memegang kakinya, tangannya, seolah menyerahkannya sebagai persembahan.


Dalam detik terakhir kesadarannya, Wulan melihat perempuan tua di teras rumah—tersenyum puas.


Kesadaran Wulan tenggelam.

Tubuhnya menyatu dengan kegelapan.


Pagi datang di desa Sumberjati.


Rumah tua itu tampak sepi seperti biasa.

Di teras, berdiri seorang perempuan muda baru.

Wajahnya pucat, matanya kosong.


Perempuan tua menyodorkan kunci.


“Namamu?” tanyanya.


Perempuan itu tersenyum tipis.

Senyum yang bukan milik manusia.


“Wulan.”


Dan di dalam kamar…

sesuatu kembali tertidur.


Sewu Dino dimulai lagi.




LINK TERPERCAYA SAAT INI

👉 SUARITOTO

👉 SUARITOTO

👉 DAFTAR SUARITOTO




👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND



Tidak ada komentar:

Posting Komentar