Minggu, 01 Februari 2026

MISTERI POCONG SUMBING


 MISTERI POCONG SUMBING


 POCONG SUMBING


@SUARITOTO - Hujan turun sejak magrib, membasahi jalan sempit menuju Desa Sumbing. Desa itu terkenal sepi, bahkan sinyal ponsel pun sering hilang. Orang-orang kota jarang mau mampir, apalagi menginap. Bukan karena jalannya rusak—tapi karena cerita pocong yang katanya selalu muncul tanpa mulut.


Namaku Raka. Aku datang ke desa itu untuk meliput bangunan tua bekas rumah sakit kolonial yang sudah puluhan tahun terbengkalai. Warga menyebutnya Rumah Sunyi.


“Kalau dengar suara kain diseret, jangan nengok,” kata Pak Lurah sebelum aku berangkat.

“Kenapa?”

“Karena yang diseret bukan kain…”


Aku menginap di rumah Pak Wiryo, tepat di depan jalan menuju rumah sakit tua itu. Malam pertama, jam menunjukkan pukul 01.17.


SRRRKK… SRRRKK…


Suara itu terdengar jelas. Seperti kain basah diseret di tanah.


Aku menelan ludah. Ingin rasanya menutup telinga, tapi rasa penasaran lebih besar. Aku membuka jendela perlahan.


Kosong.


Namun bau tanah basah bercampur anyir menyengat hidungku. Saat hendak menutup jendela—


DUAAAK!


Sesuatu menghantam dinding rumah. Dari sudut mataku, kulihat bayangan putih melompat tidak sempurna. Lompatannya aneh… miring… seperti tubuhnya bengkok ke satu sisi.


Pagi harinya aku bertanya pada Pak Wiryo.


“Itu pocong sumbing,” katanya lirih.

“Sumbing?”

“Iya. Mulutnya robek sampai pipi. Dulu… ada pasien yang dipaksa dijahit hidup-hidup karena teriakannya dianggap gangguan.”


Jantungku berdegup keras.


Malam kedua aku nekat ke Rumah Sunyi. Kamera menyala, senter menyorot lorong panjang penuh noda hitam. Di dinding, masih ada bercak seperti bekas darah kering.


Tiba-tiba kamera mati.


Udara jadi dingin. Terlalu dingin.


Dari ujung lorong terdengar napas berat… terengah… disertai suara kain.


SRRRKK… SRRRKK…


Aku mundur pelan. Tapi kakiku menyentuh sesuatu yang lembek.


Aku menyorot senter ke bawah.


Tanah. Basah. Berbekas lompat… satu… dua… tiga…


Lalu dari atas langit-langit—


BRUK!


Sesosok pocong jatuh tepat di depanku.


Wajahnya rusak. Mulutnya sobek lebar, jahitan hitam terlepas, darah mengalir ke kain kafannya. Matanya melotot, menatapku sambil tersenyum… atau mencoba tersenyum.


Ia tidak melompat.


Ia merangkak.


Tangan terikatnya menggesek lantai, mendekat sambil berbisik dengan suara parau:


“Ka… mu… li… hat… mu… lut… ku…?”


Aku berteriak. Kaki terasa lumpuh. Saat wajahnya hanya sejengkal dariku, tiba-tiba semuanya gelap.


Aku terbangun di rumah Pak Wiryo. Pagi.


“Mas masih hidup… syukurlah,” kata Pak Wiryo.

“Apa… apa yang terjadi?”

“Kamu ditemukan pingsan di depan Rumah Sunyi. Tapi…”


Ia menunjuk ke cermin.


Di sudut bibirku…

ada bekas jahitan hitam tipis.


Sejak hari itu, setiap jam 01.17, aku selalu terbangun dengan bau tanah basah.


Dan dari dalam kamar…

aku mendengar napas berat…

bukan dari luar.


Melainkan…

dari belakangku.

MISTERI POCONG SUMBING: KUTUKAN YANG MENULAR


 KUTUKAN YANG MENULAR


Sejak malam itu, aku tidak pernah tidur nyenyak.


Jam 01.17 selalu menjadi batas antara mimpi dan kenyataan. Setiap kali mataku terbuka, bau tanah basah langsung menyergap. Dan suara napas itu… kini semakin jelas.


Hhhrrr… hhhrrr…


Bukan dari luar kamar.

Bukan dari bawah ranjang.


Tapi… dari dalam kepalaku sendiri.


Aku pulang ke kota. Berharap semua berakhir. Namun di apartemen lantai 9, suara itu tetap datang. Bahkan lebih sering.


Suatu malam aku menatap cermin kamar mandi. Bekas jahitan di sudut bibirku semakin jelas. Bukan luka biasa—benangnya muncul dari dalam kulit, seperti dijahit dari balik mulutku sendiri.


Aku mencoba menariknya.


“JANGAN.”


Suara itu keluar dari mulutku.

Bukan suaraku.


Aku terjatuh. Mulutku terasa panas. Saat aku teriak, yang keluar hanya napas berat dan bau tanah.


Besoknya, tetanggaku—seorang ibu—meninggal. Katanya jatuh di kamar mandi. Tapi anaknya bersumpah…


“Ibu ngomong sama tembok semalaman. Katanya ada orang pakai kain putih, mulutnya robek, merangkak di langit-langit.”


Aku mulai mengerti.


Kutukan Pocong Sumbing bukan menghantui tempat.

Ia menghantui saksi.


Setiap orang yang melihatnya… akan menjadi jalan pulangnya.


Malam berikutnya, aku mencoba bunuh diri. Pisau dapur kuarahkan ke leher. Tapi tanganku berhenti sendiri. Ada rasa dingin yang memegang pergelangan.


Di cermin, pantulanku tersenyum—

senyum robek yang sama.


“Ka… mu… be… lum… se… le… sai…”


Mulutku terbuka paksa.

Aku muntah tanah.


Dan dari tanah itu… muncul potongan kain kafan kecil.


Sejak saat itu, orang-orang di sekitarku mulai bermimpi hal yang sama.

Lorong rumah sakit.

Suara kain diseret.

Pocong yang tidak melompat.


Ia merangkak dari mimpi ke mimpi.


Dan aku tahu… waktuku hampir habis.


Karena malam ini…

aku tidak lagi mencium bau tanah dari luar.


Baunya keluar dari mulutku sendiri.


Jika besok kamu melihat seseorang dengan bekas jahitan di bibirnya, jangan ditegur. Jangan ditanya.


Karena mungkin…

itu bukan dia yang melihatmu.


Tapi aku

yang sedang mencari pengganti.


👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:

Posting Komentar