APARTEMEN MERAH
Cerita horor pendek
Tidak ada yang benar-benar paham mengapa lantai 7 di Apartemen Merah selalu kosong.
Lampu koridor lantai itu selalu redup, cat dindingnya mengelupas, dan suara lirih seperti seseorang menggesek-gesek pintu kerap terdengar setiap malam.
Rani baru pindah ke apartemen itu karena biayanya murah. Ia tidak percaya gosip tentang lantai 7. “Hanya cerita buat menakut-nakuti penyewa baru,” pikirnya.
BAB 1 – Lift yang Tidak Mau Turun
Malam pertama, setelah membeli makan malam, ia masuk lift. Ia menekan lantai 3, tempat unitnya berada.
Tapi tombolnya menyala sebentar… lalu mati.
Lift bergerak naik, bukan turun.
4… 5… 6…
Rani mulai gelisah.
Ketika angka 7 menyala, lampu lift berkedip keras, seperti hampir padam.
Pintu terbuka.
Koridor gelap. Lampu satu-satunya berkedip tak berirama. Dindingnya seperti bekas cipratan merah—entah cat, entah sesuatu yang lain.
Rani buru-buru menekan tombol “CLOSE”. Tapi lift tak mau menutup.
Dari jauh, ia mendengar langkah seret… pelan, tapi pasti… mendekatinya.
Saat bayangan hitam itu hampir mencapai pintu, lampu menyala kembali… dan lift menutup sendiri.
Di lantai 3, Rani berlari keluar tanpa menoleh.
BAB 2 – Unit Tak Berpenghuni
Beberapa hari setelah kejadian itu, Rani mulai mendengar suara dari atas unitnya:
tok… tok… tok… seperti meja diseret, atau seseorang berjalan mondar-mandir.
Ia melapor ke petugas.
Petugas itu menatapnya lama, seperti ragu untuk bicara.
“Lantai 4 kosong, Bu. Tidak ada penghuni sejak lama.”
“Lalu suara itu?”
“Mungkin… hewan?” jawabnya tak yakin.
Malam berikutnya suara itu kembali, tapi kali ini disertai suara ketukan berulang di tembok kamarnya.
Dua ketukan, berhenti.
Dua ketukan lagi, berhenti.
Seolah ada seseorang… mengirim kode.
BAB 3 – Pesan Merah
Pukul 2 pagi, ponsel Rani berbunyi. Notifikasi dari nomor tak dikenal.
Hanya satu pesan:
“TOLONG. LANTAI 7.”
Layar ponselnya berubah statis, kemudian muncul foto koridor gelap…
dan di ujung koridor, tampak sosok perempuan berambut panjang, tubuhnya tertekuk aneh, setengah merangkak.
Rani melempar ponselnya saking kagetnya.
Ketika ia menunduk untuk mengambilnya…
ketika ia memandang layar…
foto itu berubah.
Kini fotonya adalah pintu unit Rani sendiri dari luar.
Ada noda merah samar di gagangnya, seperti bekas tangan basah.
BAB 4 – Pintu yang Terbuka Sendiri
Rani mengintip ke lubang pintu, memastikan tak ada siapa-siapa.
Gelap.
Ia mundur satu langkah.
Dan saat itu—
KNAAAK!
Pintunya bergetar keras dari luar, seperti ada yang menendang.
Ketukan itu muncul lagi… dua ketukan… berhenti… dua ketukan lagi…
Sebuah suara berbisik masuk melalui celah bawah pintu:
“Buka… pintunya…”
Angin dingin berhembus dari celah itu.
Lampu kamar Rani mati satu per satu.
Dan ketika semuanya gelap…
Ada sesuatu menggaruk perlahan dari dalam dinding, tepat di belakangnya.
Suara itu jelas, dekat, dan basah:
“Aku sudah… di dalam…”
EPILOG – Berita Besok Paginya
Petugas apartemen menemukan pintu unit Rani terbuka sedikit.
Televisi menyala dengan siaran statis.
Rani… tidak ada.
Dinding kamar ditemukan penuh coretan merah membentuk kalimat berulang:
“LANTAI 7 MENUNGGU.”
Tak ada yang tahu apa sebenarnya terjadi, tapi sejak malam itu, lift Apartemen Merah sering berhenti sendiri di lantai 7…
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND
.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar