MAYITT
Hujan turun rintik ketika Arga mengayuh sepeda motornya melewati jalan desa yang gelap dan sepi. Lampu-lampu rumah sudah padam, hanya suara dedaunan basah yang bergesekan ditiup angin. Malam itu ia pulang terlambat dari kota setelah mengantar pesanan makanan.
Di tengah perjalanan, ia melihat sebuah sosok berdiri kaku di pinggir jalan. Seorang lelaki tua, tubuhnya bungkuk, memakai baju koko putih yang sudah kotor lumpur. Arga memperlambat motor.
“Pak… kenapa malam-malam begini di sini?” tanya Arga.
Lelaki itu menoleh perlahan. Matanya cekung, bibir pucat, dan kulitnya seperti basah. “Nak… tolong antar Bapak pulang. Rumah Bapak dekat… di ujung pemakaman,” suaranya lirih dan serak.
Arga ragu, tetapi hujan semakin deras. “Baik, Pak. Naik saja.”
Lelaki itu duduk di belakang Arga tanpa suara. Tapi Arga dapat merasakan sesuatu—dingin yang menusuk sampai tulang, seolah ia membawa bongkah es di punggungnya.
Perjalanan semakin aneh. Semakin dekat dengan pemakaman, kabut makin tebal. Lampu motor Arga meredup, seperti ada sesuatu yang menyerap cahayanya.
“Pak… sebentar lagi sampai ya?” Arga mencoba memecah sunyi.
Tidak ada jawaban.
Arga menoleh sedikit.
Lelaki itu menghilang.
Yang tersisa hanyalah bekas air menetes di jok, seperti ada tubuh basah yang baru saja duduk di sana.
Jantung Arga berdegup kencang. Ia mempercepat motor. Begitu melewati gerbang pemakaman, ia melihat sebuah lampu kecil menyala di tengah area makam.
Di dekat lampu itu, berdiri seorang kakek penjaga makam yang sedang menyalakan dupa.
Arga menghentikan motor dan menghampirinya.
“Kek… tadi saya barusan mengantar seseorang. Katanya rumahnya di sini. Bapak tua bungkuk, pakai baju putih…”
Penjaga makam menatap Arga lama. Sang kakek menelan ludah sebelum akhirnya berkata pelan,
“Nak… kalau kamu lihat di batu nisan sana, itu makam Pak Harun. Meninggal… tiga hari lalu. Tadi sore baru dimandikan dan dikafani. Kami baru selesai memakamkannya.”
Arga merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menoleh ke arah yang ditunjuk.
Pada batu nisan itu, masih ada setangkai bunga segar yang basah oleh hujan.
Namun yang membuat Arga ternganga…
Di atas gundukan tanah makam itu ada bekas jejak kaki basah, mengarah keluar, lalu hilang di jalan yang barusan ia lewati.
Dan di telinganya, samar-samar terdengar suara serak yang ia kenal:
“Terima kasih… sudah mengantar mayitt pulang…”
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND
.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar