Senin, 22 Desember 2025

ARWAH YANG TAK PERNAH DITEMUKAN


 

ARWAH YANG TAK PERNAH DITEMUKAN

Tidak semua orang yang mati karena peluru benar-benar pergi.

Di kota kecil itu, ada satu daerah yang sengaja dihapus dari peta warga: Lorong Sembilan. Jalan sempit di antara gudang tua dan bangunan kosong, selalu lembap, selalu gelap, bahkan saat siang hari. Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan tempat itu ditinggalkan, tapi semua orang tahu alasan sebenarnya—seseorang mati di sana, ditembak, dan arwahnya tidak pernah tenang.

Namanya Bagas.

Bagas bukan penjahat. Ia hanya saksi. Malam itu, ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat: transaksi gelap, senjata ilegal, dan wajah-wajah yang punya kuasa. Saat Bagas berbalik untuk lari, suara letusan memecah malam.

DOR.

Peluru menembus punggungnya. Ia terjatuh di Lorong Sembilan, darah mengalir ke selokan. Tidak ada ambulans. Tidak ada saksi. Hanya satu tembakan tambahan untuk memastikan ia tak bernapas lagi.

Keesokan harinya, berita menyebutkan:
“Seorang pria ditemukan tewas. Diduga perampokan.”
Kasus ditutup dalam tiga hari.

Namun Lorong Sembilan tidak pernah sama lagi.


Awalnya hanya hal-hal kecil.
Lampu berkedip sendiri.
Anjing melolong tanpa sebab.
Orang-orang merasa diikuti, meski tak ada siapa-siapa.

Lalu suara itu mulai terdengar.

Langkah kaki… seret… berhenti.

Setiap pukul 01.13 dini hari—jam kematian Bagas—suara tembakan terdengar satu kali. Tidak keras, tapi cukup jelas untuk membuat jantung berdegup kencang.

Beberapa orang bersumpah melihat sosok pria berdiri di ujung lorong. Tubuhnya membungkuk, satu tangan memegang dada, tangan lainnya menggenggam sesuatu yang tak terlihat. Jika didekati, sosok itu akan menghilang, meninggalkan bau mesiu dan darah.


Reno, seorang jurnalis muda, tidak percaya cerita hantu. Baginya, semua pasti bisa dijelaskan secara logis. Ketika mendengar rumor tentang Lorong Sembilan, ia justru tertarik. Terlalu banyak kebetulan. Terlalu banyak yang ditutup-tutupi.

Malam itu, Reno datang sendirian, membawa senter dan kamera.

Pukul 01.10.

Lorong itu lebih sempit dari yang ia bayangkan. Dindingnya basah, seolah menangis. Saat Reno melangkah masuk, senter berkedip. Udara mendadak dingin.

Lalu…
seret… seret…

Reno membeku.

Dari belakangnya terdengar napas berat, seperti seseorang yang kesakitan. Saat ia menoleh perlahan, ia melihatnya.

Seorang pria berdiri hanya dua meter darinya.

Wajahnya pucat kebiruan. Matanya hitam, kosong. Di dadanya, lubang tembakan menganga, darah menetes ke tanah—tidak pernah habis.

“Aku… ditembak…” bisik sosok itu. Suaranya seperti datang dari dalam kepala Reno.
“Mereka bilang aku perampok.”

Reno tak bisa bergerak. Kamera jatuh dari tangannya.

“Aku menunggu…” lanjut arwah itu.
“Bukan untuk balas dendam.”
“Tapi untuk ditemukan.”

DOR.

Suara tembakan menggema.

Lampu mati.


Reno ditemukan pagi harinya, pingsan di depan Lorong Sembilan. Rambutnya memutih sebagian. Kamera miliknya rusak, tapi satu rekaman berhasil diselamatkan.

Dalam rekaman itu, terdengar suara Reno berbisik ketakutan:

“Dia… masih berdiri di sana.”

Namun di akhir video, ada satu hal yang membuat polisi langsung menghentikan penyelidikan.

Suara lain muncul. Bukan suara Bagas.

Suara berat, dingin, penuh amarah:

“Sekarang… kau juga tahu.”


Sejak malam itu, Lorong Sembilan benar-benar ditutup. Tapi warga sekitar bersumpah, setiap pukul 01.13, bukan satu—melainkan dua bayangan terlihat berdiri di sana.

Satu memegang dadanya.
Satu lagi memegang senjata.

Dan suara tembakan kini terdengar dua kali.


👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar