Selasa, 23 Desember 2025

JEMBATAN PADE GELARANG PANJANG: YANG JATUH TAK PERNAH SENDIRI


 JEMBATAN

Tidak ada papan peringatan di jembatan itu. Tidak ada garis polisi. Tidak ada tanda bahaya.

Namun warga desa sepakat pada satu aturan tak tertulis:


Siapa pun yang berada di jembatan setelah tengah malam, bukan lagi urusan manusia.


Jembatan itu dibangun tahun 1998, tepat di atas sungai Cikaram yang airnya hitam dan berbau besi. Malam hari, sungai itu tak pernah berbunyi—tidak ada gemericik, tidak ada arus. Seolah airnya sudah mati.


Ardi tidak tahu apa-apa soal itu.


Ia hanya tahu pekerjaannya belum selesai, dan jalan memutar akan memakan waktu dua jam lebih lama. Jam tangannya menunjukkan 23.41 saat ia berhenti di ujung jembatan.


Angin berhenti bertiup.


Lampu motor Ardi menyinari beton jembatan yang retak-retak. Di beberapa bagian terlihat bekas bercak hitam seperti darah lama yang menyatu dengan semen. Saat ia melaju pelan, ia merasa jembatan itu sedikit bergetar, seolah ada sesuatu yang bergerak di bawahnya.


Setengah jalan, bau amis menusuk hidungnya.


Bau darah.


Mesin motor tiba-tiba mati dengan suara letupan keras. Lampu padam. Seketika, gelap menelan segalanya.


“Tidak… tidak… jangan sekarang…” Ardi panik.


Saat itulah terdengar suara tangisan.


Bukan tangis biasa—melainkan isakan tertahan, seperti seseorang yang menangis sambil menahan rasa sakit luar biasa. Tangisan itu datang dari bawah jembatan.


Ardi mendekat ke pembatas beton dan menyorotkan senter ponselnya ke sungai.


Cahaya senter memperlihatkan sesuatu yang membuat darahnya membeku.


Di permukaan air, mengambang tubuh seorang perempuan. Perutnya robek terbuka, isinya hitam dan menggumpal. Kedua tangannya terikat kawat berduri. Kakinya hilang dari lutut ke bawah, seolah digerogoti sesuatu.


Mata perempuan itu terbuka.


Menatap langsung ke arah Ardi.


Air sungai beriak, dan tubuh itu perlahan berdiri, meski setengah badannya seharusnya tenggelam.


“Aku… sakit…” katanya, kali ini suaranya jelas.

“Kamu lihat, kan…?”


Ardi mundur tersandung. Ia terjatuh dan senter terlepas, berputar di lantai jembatan. Dalam cahaya berputar itu, ia melihat bekas peluru di dada perempuan itu. Lubangnya besar. Daging di sekitarnya sobek, seperti ditembak dari jarak dekat.


Tiba-tiba, terdengar suara tembakan.


Bukan satu.

Tiga kali.


DUAR.

DUAR.

DUAR.


Ardi menjerit dan menutup telinga. Tapi suara itu bukan dari senjata—melainkan dari tulang perempuan itu yang patah sendiri, memaksa tubuhnya bangkit ke atas jembatan.


Perempuan itu kini berdiri tepat di depannya.


Wajahnya hancur di satu sisi. Separuh pipinya tidak ada. Dari rongga itu, terlihat gigi dan lidah yang bergerak-gerak.


“Kamu bukan mereka…” katanya sambil tersenyum.

“Tapi kamu lewat… jembatan ini.”


Ia mengangkat tangannya.


Ardi merasakan dada kirinya ditusuk rasa dingin. Ia menjerit saat melihat bayangan tangannya sendiri—tembus ke dalam tubuhnya, seolah dagingnya bukan lagi miliknya.


Perempuan itu mendekat dan berbisik di telinganya:


“Biar kamu tahu… rasanya.”


Sekejap, dunia Ardi berubah.


Ia tidak lagi di jembatan.


Ia berada di masa lalu.


Malam hujan.

Suara teriakan.

Lampu mobil.

Empat pria bersenjata.


Ia merasakan tubuhnya ditembak. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Ia merasakan jatuh.

Ia merasakan perutnya ditendang hingga isi perutnya keluar.

Ia merasakan bayinya berhenti bergerak di dalam kandungan.


Semua rasa sakit itu dipaksa masuk ke tubuh Ardi.


Ia berteriak sampai tenggorokannya robek. Darah keluar dari hidung, telinga, dan matanya. Kukunya terlepas saat ia mencakar beton jembatan.


Ketika semuanya berhenti, Ardi tergeletak tak bernyawa.


Namun… matanya masih bergerak.


Perempuan itu berjongkok di sampingnya.


“Tenang,” katanya lembut.

“Kamu belum selesai.”


Ia menyeret tubuh Ardi ke tepi jembatan. Dengan satu tarikan kuat, tulang punggung Ardi patah. Suaranya terdengar jelas—kering dan basah bersamaan.


Tubuh Ardi dilempar ke sungai.


Air hitam menelannya.


Keesokan pagi, warga desa berkumpul di jembatan. Tidak ada jasad Ardi. Tidak ada motor. Tidak ada jejak kecelakaan.


Namun sejak malam itu, jumlah penampakan bertambah satu.


Kini, jika seseorang berhenti terlalu lama di jembatan setelah tengah malam, mereka akan melihat:


Seorang perempuan berdarah…

Dan di belakangnya, seorang pria dengan mata kosong, rahang tergantung, dan tulang punggung bengkok, berdiri di tepi jembatan.


Mereka berdua menunggu.


Karena jembatan itu belum kenyang.


JEMBATAN PADE GELARANG PANJANG: YANG JATUH TAK PERNAH SENDIRI


Tidak ada papan peringatan di Jembatan Pade Gelarang Panjang.

Tidak ada tanda bahaya.

Hanya besi tua berkarat, lampu kuning redup, dan bau sungai yang seperti daging membusuk.


Tapi warga sekitar tahu satu hal:

jembatan itu selalu lapar.


1. MALAM TERAKHIR RAKA


Raka, Bima, dan Tyo tertawa saat motor mereka berhenti tepat di mulut jembatan. Mereka baru pulang dari kota. Mabuk. Lelah. Tidak percaya cerita mistis.


“Katanya ada cewek nangis tengah malam,” ejek Bima sambil menyalakan rokok.

“Paling orang gila,” sahut Tyo.


Mereka tidak sadar satu hal:

jam di ponsel Raka berhenti di 00.13.


Begitu mereka masuk, suara sungai menghilang. Lampu pertama mati KRAK. Lampu kedua menyala berkedip, seperti mata yang sulit ditutup.


Di tengah jembatan, bau amis menyergap. Bukan bau lumpur. Bukan bau bangkai hewan.

Bau darah lama.


Motor Tyo mati lebih dulu.

Lalu Bima.

Terakhir Raka.


Sunyi.


Dari bawah jembatan terdengar suara cipratan air, disusul suara napas berat—seperti seseorang berusaha naik sambil menyeret tubuhnya.


“Eh… kalian dengar itu nggak?” bisik Bima.


Jawabannya datang dari belakang mereka.


“Kalian mau lihat… isi sungai?”


2. PEREMPUAN TANPA LEHER


Dia berdiri di ujung jembatan.

Gaun putihnya sobek, penuh noda hitam kecokelatan. Rambutnya menggumpal seperti rumput basah. Lehernya… tidak utuh. Kulitnya terkelupas, memperlihatkan tulang dan daging membiru.


Kepalanya miring dengan sudut yang tidak mungkin.


Mulutnya terbuka.

Bukan untuk bicara.

Tapi untuk meneteskan air sungai bercampur darah.


Tyo menjerit dan lari.


Dia tidak pernah sampai.


Tangannya terpelintir ke belakang dengan suara KRAKK sebelum tubuhnya terangkat sendiri, lalu dibanting ke pagar jembatan. Kepalanya pecah seperti buah busuk. Otaknya jatuh ke besi, lalu perlahan… diseret ke bawah oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Bima muntah sambil merangkak mundur.


Raka berdiri kaku. Tidak bisa bergerak.


Perempuan itu melayang mendekat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak tangan basah di besi jembatan.


“Aku jatuh… tapi mereka dorong aku…”

“Sekarang… aku cuma balas…”


3. SUNGAI YANG MEMAKAN


Bima menjerit saat kakinya ditarik dari bawah pagar. Kulit betisnya terkoyak, dagingnya sobek seperti diremas. Ia ditarik pelan, sangat pelan, seolah sungai ingin dia merasakan setiap detiknya.


Raka hanya bisa menatap saat tubuh Bima terlipat tak wajar dan diseret ke air hitam.


Air itu tidak memercik.

Air itu membuka mulut.


Raka sendirian.


Perempuan itu kini berdiri tepat di depannya. Wajahnya terbuka—tidak ada mata. Hanya lubang hitam penuh belatung yang menggeliat.


“Kamu tinggal sendiri…”

“Bagus…”


Tangan dinginnya menyentuh dada Raka. Kulit Raka langsung melepuh. Jantungnya berdetak keras sampai ia merasa akan meledak.


Lampu jembatan menyala serentak.


Perempuan itu berhenti.


Ia tersenyum.


“Lain malam… ya.”


4. YANG SELAMAT TAK PERNAH UTUH


Raka ditemukan pagi harinya.

Duduk di pinggir jembatan.

Rambutnya memutih setengah.

Matanya terbuka… tapi kosong.


Ia tidak pernah bicara lagi.


Namun setiap malam, jam 00.13, Raka bangun dan berjalan ke arah jembatan, menyeret kakinya sambil menangis darah.


Dan warga tahu:

yang selamat hanya diberi waktu.


Karena di Jembatan Pade Gelarang Panjang…

yang jatuh ke sungai

tidak pernah benar-benar mati.


Mereka hanya menunggu

teman berikutnya.


👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:

Posting Komentar