MATI
Mati bukan akhir.
Mati adalah proses.
Dan proses itu… menyakitkan.
Ruang itu tidak punya jendela.
Tidak ada pintu.
Tidak ada arah.
Hanya lantai semen basah, dinding hitam berjamur, dan bau busuk yang membuat paru-paru terasa terbakar setiap kali bernapas.
Aku terbangun telentang.
Aku tidak ingat siapa namaku.
Tidak ingat bagaimana aku sampai di sini.
Yang aku tahu hanya satu hal:
Aku masih hidup.
Atau setidaknya… aku merasa hidup.
Saat aku mencoba bangun, rasa sakit menghantam tubuhku seperti palu godam. Aku menjerit—atau mencoba menjerit. Suara yang keluar hanyalah desahan patah.
Baru saat itulah aku menyadari:
👉 Kedua kakiku hilang dari lutut ke bawah.
👉 Perutku dijahit kasar dengan kawat.
👉 Dadaku penuh bekas lubang, seperti bekas peluru yang gagal membunuh.
Aku menatap tanganku.
Kuku-kukuku tercabut.
Kulitnya mengelupas, menampakkan daging merah kehitaman.
Aku menangis.
Tapi tidak ada air mata.
Hanya darah yang keluar dari sudut mataku.
“Sudah bangun?”
Suara itu datang dari kegelapan.
Langkah kaki terdengar. Pelan. Tenang. Seperti seseorang yang tidak terburu-buru karena tahu mangsanya tidak bisa kabur.
Seorang pria keluar dari bayangan.
Tubuhnya tinggi, kurus, mengenakan celemek penuh noda cokelat tua. Wajahnya biasa saja—terlalu biasa. Tapi matanya… kosong. Tidak ada empati. Tidak ada emosi.
Hanya rasa ingin tahu.
“Aku harap kamu tidak mati cepat,” katanya sambil tersenyum tipis.
“Aku benci pekerjaan setengah jadi.”
Aku mencoba bicara. Lidahku terasa berat.
“A…aku di mana…?”
Ia menghela napas, seolah pertanyaanku melelahkan.
“Di antara hidup dan mati,” jawabnya.
“Tempat di mana orang belajar arti kata mati.”
Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah pisau kecil, tipis, berkilau.
Bukan pisau jagal.
Bukan pisau besar.
Pisau untuk menikmati proses.
Ia berjongkok dan menusukkan ujung pisau itu ke lenganku. Perlahan. Sangat perlahan. Ia tidak menusuk dalam—hanya cukup untuk membuat kulit terbuka dan saraf menjerit.
Aku berteriak.
Ia tersenyum lebih lebar.
“Bagus,” katanya.
“Berarti kamu masih sadar.”
Ia mengiris. Satu garis panjang. Kulitku terbelah, daging terbuka. Darah mengalir hangat.
“Tahukah kamu,” katanya tenang,
“tubuh manusia bisa menahan rasa sakit jauh lebih lama dari yang mereka kira?”
Ia menekan luka itu dengan jarinya.
Aku meronta, tapi tubuhku diikat ke lantai dengan rantai yang baru kusadari ada di pergelangan tangan dan leherku.
Ia berdiri dan pergi ke sudut ruangan.
Aku mendengar suara alat-alat logam saling berbenturan.
Aku menangis. Aku memohon. Aku berjanji apa pun.
Ia kembali membawa sebuah kotak besi.
Ia membuka tutupnya.
Di dalamnya…
jari-jari manusia.
mata.
potongan lidah.
Semuanya masih basah.
“Ini orang-orang sebelum kamu,” katanya santai.
“Mereka mati terlalu cepat.”
Ia mengambil sebuah mata.
Mata itu masih bergerak.
“Lihat,” katanya sambil menekan mata itu ke dadaku.
“Bahkan setelah dicabut, tubuh masih ingin hidup.”
Ia menempelkan mata itu ke lubang peluru di dadaku.
Aku menjerit sampai suaraku hilang.
Waktu kehilangan arti.
Aku tidak tahu berapa lama ia menyiksaku.
Aku hanya tahu:
Aku tidak pernah dibiarkan mati.
Setiap kali kesadaranku memudar, cairan pahit dipaksa masuk ke mulutku. Jantungku dipaksa berdetak lagi. Paru-paruku dipaksa bernapas.
Ia mematahkan tulangku satu per satu.
Ia membuka jahitan perutku dan memasukkan tangannya ke dalam, meremas organ-organ itu sambil mengamati reaksiku.
Ia mengiris wajahku, bukan untuk membunuh, tapi untuk menghapus identitasku.
“Aku ingin kamu lupa siapa dirimu,” katanya.
“Supaya yang tersisa hanya rasa sakit.”
Pada suatu titik… aku berhenti memohon.
Aku berharap mati.
Tapi ia tahu.
Ia selalu tahu.
“Belum,” katanya setiap kali aku hampir pergi.
“Kamu belum belajar.”
Suatu hari—atau sesuatu yang terasa seperti hari—ia membuka rantai di leherku.
“Sekarang giliranmu memilih,” katanya.
Ia menyeret cermin besar ke hadapanku.
Aku melihat pantulanku.
Atau sisa-sisaku.
Wajahku hancur.
Tubuhku bukan lagi manusia.
Aku tampak seperti mayat yang menolak mati.
“Ini kamu,” katanya.
“Dan ini makna MATI.”
Ia mendekat dan berbisik:
“Mati bukan saat jantung berhenti.
Mati adalah saat kamu berharap berhenti…
tapi tidak bisa.”
Ia berjalan pergi.
Lampu padam.
Aku sendirian.
Masih hidup.
Masih bernapas.
Masih merasakan sakit.
Dan saat aku akhirnya menyadari kebenaran paling kejam itu, aku menjerit—jeritan yang tidak akan pernah didengar siapa pun.
Karena di tempat ini…
MATI TIDAK PERNAH DATANG.
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND
.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar