Mati di Medan Perang
Aku mati di medan perang.
Aku tahu itu bukan perasaan. Aku yakin.
Ledakan itu terlalu dekat. Cahaya putih menelan pandanganku, lalu panas yang begitu tajam menembus dada. Aku sempat mencium bau daging terbakar—bau yang anehnya kukenal sebagai milikku sendiri. Setelah itu, segalanya runtuh.
Namun aku terbangun… berdiri.
Tidak ada rasa sakit. Tidak ada darah di tanganku. Aku masih menggenggam senapan, masih memakai helm. Tapi dunia di sekelilingku berubah.
Langit menggantung rendah, seperti kulit bangkai berwarna abu-abu kehijauan. Asap tidak bergerak, seolah waktu membeku. Tidak ada suara perang—tidak ada tembakan, tidak ada radio, tidak ada perintah.
Hanya sunyi.
Sunyi yang membuat telingaku berdenging.
Aku melangkah maju. Setiap langkah terasa berat, seolah tanah menolak kakiku. Parit-parit terbentang kosong, penuh lumpur hitam dan genangan air kemerahan. Bau besi bercampur busuk menusuk hidungku.
Lalu aku melihat mereka.
Mayat.
Puluhan. Ratusan. Tubuh-tubuh tergeletak dengan posisi tidak wajar. Ada yang terpotong dua, ada yang menempel di kawat berduri, ada yang hanya tersisa setengah kepala. Mata mereka terbuka, memandang ke arah yang sama—ke atas.
Ke langit mati itu.
Aku berjalan mundur, dadaku sesak.
“Ini… ini bukan medan perang,” bisikku. “Ini kuburan.”
Langkah kakiku terhenti ketika aku melihat satu tubuh yang terlalu familiar.
Seragamnya robek persis seperti milikku. Lambang unit di lengannya sama. Wajahnya…
Wajahku.
Tubuh itu tergeletak di tepi kawah ledakan. Dada terbuka, tulang rusuk terlihat. Darah mengering di tanah, membentuk pola aneh seperti simbol yang tidak kukenal.
Aku menjerit.
Teriakanku tidak mengeluarkan suara.
Dari balik kabut, terdengar bunyi gesekan—seperti kaki diseret di lumpur. Aku berbalik.
Seorang prajurit berdiri di sana. Setengah wajahnya hilang, digantikan lubang hitam. Mulutnya masih utuh, bergerak perlahan.
“Kau akhirnya melihatnya,” katanya.
Suaranya seperti datang dari dalam tanah.
“Apa ini?” tanyaku gemetar. “Aku mati?”
Ia tertawa pendek. Dari mulutnya keluar darah hitam.
“Kau mati… tapi belum selesai.”
Tanah bergetar pelan.
Dari segala arah, sosok-sosok bangkit. Mayat-mayat itu berdiri. Tulang mereka berbunyi. Kulit mereka terkelupas. Beberapa menyeret ususnya sendiri, beberapa berjalan tanpa kaki, merangkak dengan tangan yang patah.
Mereka mengelilingiku.
“Pulang…”
“Bawa kami pulang…”
“Gantikan kami…”
Suara mereka tumpang tindih, berbisik langsung ke kepalaku.
Aku jatuh berlutut. “Aku tidak mau di sini… aku ingin pulang.”
Prajurit bermuka rusak itu mendekat.
“Tak semua bisa pulang.”
“Kenapa aku masih sadar?” teriakku.
“Karena kau masih membawa rasa bersalah,” jawabnya.
“Kau lari saat perintah datang. Kau meninggalkan rekanmu.”
Aku menutup telinga. “Diam!”
Langit retak.
Dari celahnya, sesuatu menetes—darah hitam yang jatuh seperti hujan. Tanah berubah menjadi lumpur hidup. Tangan-tangan keluar dari dalamnya, mencengkeram kakiku.
Aku diseret.
Kuku-kuku mereka menembus dagingku. Aku merasakan sakitnya sekarang. Sakit yang nyata. Aku berteriak sampai paru-paruku terasa robek.
“Setiap yang ingin keluar,” kata prajurit itu, “harus meninggalkan pengganti.”
Di hadapanku, muncul wajah-wajah baru. Prajurit muda. Takut. Belum berdosa. Mereka masih menatap dunia dengan harapan.
Aku menggeleng. “Tidak… jangan aku…”
“Pilih,” bisiknya.
Tanganku gemetar. Mayat-mayat semakin kuat menarikku. Aku hampir tenggelam di lumpur ketika satu prajurit muda meraih tanganku, memohon.
“Tolong…”
Aku menatap matanya.
Dan aku mendorongnya.
Jeritannya terpotong ketika tanah menelannya.
Segalanya berhenti.
Aku terbangun di rumah sakit.
Lampu putih. Bau antiseptik. Suara monitor jantung.
“Kau selamat,” kata dokter. “Keajaiban.”
Aku menangis. Aku hidup.
Namun setiap malam, aku mendengar langkah kaki basah di lorong. Aku mendengar bisikan dari bawah ranjang.
“Giliranku akan kembali…”
Suatu malam, aku melihat bayanganku di kaca.
Ia tidak mengikuti gerakanku.
Ia tersenyum—dengan mata hitam legam.
Dan aku sadar…
Aku memang pulang dari medan perang.
Tapi sesuatu ikut bersamaku.
Dan ia masih lapar.
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:
Posting Komentar