Senin, 19 Januari 2026

ARWAH KECELAKAAN BALAP LIAR

 


ARWAH KECELAKAAN BALAP LIAR


Jalan lintas kota itu terkenal angker sejak bertahun-tahun lalu. Aspalnya lurus, mulus, dan sepi saat malam—tempat favorit anak-anak balap liar. Tapi tak banyak yang tahu, jalan itu sudah “kenyang darah”.


Malam itu, hujan baru saja reda. Kabut tipis menggantung di aspal yang masih basah. Lampu jalan berkedip satu per satu, seolah bernapas pelan.


Rian, Doni, dan Bagas memacu motor mereka hingga jarum speedometer menjerit. Knalpot meraung memecah sunyi.


“Yang kalah traktir seminggu!” teriak Rian sambil tertawa.


Mereka tidak melihat satu hal.


Di tikungan keempat…

ada seseorang berdiri di tengah jalan.


Bukan orang.


Sosok itu hitam legam, tubuhnya bengkok seperti tulang yang salah disusun. Kepalanya miring ke samping, lehernya patah, helmnya retak memperlihatkan wajah hancur penuh darah kering. Dari dadanya, suara retakan tulang terdengar setiap kali ia bergerak.


Bagas yang pertama melihatnya.


“ANJ—”

Motor Bagas oleng.


BRAAAKK!!!


Tubuh Bagas terpental menghantam pembatas jalan. Suara tulang patah terdengar jelas di antara deru mesin. Helmnya pecah, darah mengalir ke aspal.


Rian dan Doni berhenti mendadak.


“Bagas!!”


Mereka berlari ke arahnya.


Terlambat.


Mata Bagas masih terbuka, tapi kosong. Mulutnya ternganga seolah ingin berteriak, tapi yang keluar hanya darah dan napas terakhir yang tersendat.


Tiba-tiba…

lampu jalan mati serempak.


Gelap.


Lalu terdengar suara mesin motor…

padahal tidak ada motor menyala.


NGEENG… NGEENG…


Dari balik kabut, muncul puluhan motor tanpa pengendara. Lampu depan menyala sendiri. Di atas masing-masing motor… duduk sosok-sosok hitam dengan tubuh remuk.


Ada yang kepalanya terbalik.

Ada yang perutnya robek.

Ada yang menyeret tulang kakinya di aspal.


Mereka adalah arwah korban balap liar yang mati di jalan itu.


Salah satu dari mereka turun dari motor. Sosok dengan helm retak—yang pertama tadi.


Ia mendekati Rian.


Dengan suara serak seperti orang tenggelam, ia berbisik:


“Giliran kamu…”


Rian menjerit dan mencoba lari.


Tangannya ditarik.


Kulit tangan itu dingin, lengket oleh darah lama. Saat Rian menoleh, ia melihat wajah arwah itu dari dekat—mata keluar dari rongganya, rahang terbelah, dan di dalam mulutnya… ada aspal.


KRAK!


Leher Rian dipatahkan seketika.


Tubuhnya jatuh ke jalan seperti boneka rusak.


Doni berlari sekuat tenaga, menangis, berdoa, berteriak minta ampun. Ia berhasil mencapai motornya dan menyalakan mesin.


Saat ia melaju, ia merasa ada yang memboncengnya.


Napas dingin di lehernya.

Tangan-tangan patah memeluk pinggangnya.


Di spion…

ia melihat wajahnya sendiri, tapi sudah mati.


BRAAAKK!!!


Motor Doni menabrak tiang listrik.


Keesokan paginya, warga menemukan tiga jasad.

Semuanya tewas mengenaskan.


Namun sejak malam itu, balap liar tidak pernah berhenti di jalan tersebut.


Karena setiap pukul 02.00 dini hari…

warga melihat motor-motor melaju kencang tanpa suara.


Dan jika ada anak muda yang ikut balapan…


mereka tidak sedang melawan manusia.

Mereka sedang balapan dengan arwah.


Dan arwah itu tidak pernah kalah.



👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar