JANGAN PERNAH MENJAWAB SAAT NAMAMU DIPANGGIL
Tidak ada yang aneh dengan Desa Suka Asih—setidaknya begitu yang kupikir saat pertama kali menginjakkan kaki di sana. Desa itu sunyi, terlalu sunyi. Bahkan jangkrik pun seperti takut bersuara setelah matahari terbenam.
Aku datang sebagai relawan pendataan rumah kosong. Banyak warga pindah secara misterius, meninggalkan rumah mereka begitu saja. Tak ada perabot yang dibawa. Tak ada bekas perlawanan. Seolah mereka pergi… atau dipanggil.
Malam pertamaku menginap di rumah Pak Lurah yang sudah lama kosong.
Jam menunjukkan 23.47.
Angin berhenti.
Lampu minyak berkedip.
Dan saat itulah aku mendengarnya.
“Kurniawaaan…”
Aku menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Kupikir hanya halusinasi karena lelah. Tapi tepat ketika aku berbaring, suara itu terdengar lagi—kali ini lebih dekat.
“Kurniawan… bukakan pintu…”
Suara itu mirip suaraku sendiri, tapi lebih berat… dan basah, seperti orang berbicara sambil menahan air di mulutnya.
Aku teringat pesan warga sebelum mereka pergi.
“Kalau malam namamu dipanggil… jangan dijawab. Jangan dilihat. Jangan ditanya siapa.”
Tanganku gemetar.
Keringat dingin mengalir di punggung.
TIBA-TIBA—
TOK. TOK. TOK.
Pintu diketuk.
Pelan. Teratur.
Tiga kali.
Aku menutup mulutku sendiri agar tidak bersuara.
Lalu suara itu berubah…
bukan lagi memanggil namaku.
“Kalau kamu tidak buka… aku masuk…”
Lampu minyak PADAM.
Ruangan menjadi gelap total.
Dan dari balik kegelapan… aku mendengar suara sesuatu merangkak di langit-langit. Kukunya menggores kayu. Lambat. Sabar. Menunggu.
Aku menahan napas.
Detik terasa seperti jam.
Tiba-tiba—
BRUK!
Sesuatu jatuh tepat di depan pintu kamarku.
Aku tak melihat apa-apa. Tapi baunya…
busuk, amis, seperti bangkai yang direndam berhari-hari.
Lalu suara bisikan tepat di telingaku, padahal aku tak bergerak sedikit pun:
“Aku sudah di dalam, Kurniawan…”
Aku menangis tanpa suara.
Pagi datang begitu saja.
Seolah malam itu tidak pernah ada.
Saat aku membuka pintu kamar, aku menemukan jejak tangan hitam di lantai. Lima jari. Panjang. Tidak manusiawi.
Dan di dinding… tertulis dengan darah yang sudah mengering:
“TERIMA KASIH SUDAH MENJAWAB.”
Padahal aku tidak pernah menjawab.
Aku kabur dari desa itu pagi itu juga.
Namun sejak hari itu…
Setiap malam, tepat pukul 23.47,
ponselku berdering.
Nomornya nomorku sendiri.
Dan di layar selalu muncul satu pesan suara:
“Sekarang giliran kamu yang memanggil…”
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:
Posting Komentar