Selasa, 13 Januari 2026

JANGAN MENENGOK KE BELAKANG

 

JANGAN MENENGOK KE BELAKANG


Hujan turun sejak sore, tak berhenti sampai malam. Jalan desa itu sepi, hanya satu lampu jalan yang masih hidup—berkedip lemah seperti hampir mati. Di situlah Raka berdiri, sendirian, menunggu jemputan yang tak kunjung datang.


Desa Karangmati memang selalu terasa aneh sejak pertama kali ia menginjakkan kaki. Udara malamnya berat, sunyinya seperti menekan dada. Warga jarang keluar setelah magrib. Bahkan warung pun menutup pintu lebih awal.


“Kalau malam, jangan sendirian,” kata kepala desa siang tadi.

“Kalau dengar langkah kaki… jangan nengok ke belakang.”


Raka menganggapnya hanya mitos desa.


Sampai malam ini.


LANGKAH KAKI


Jam menunjukkan pukul 23.47.


Hujan mulai reda ketika Raka mendengar suara itu.


Tak… tak… tak…


Langkah kaki. Pelan. Teratur.


Raka menoleh ke kanan, kosong. Ke kiri, gelap.

Langkah itu berhenti.


Ia menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat.


Beberapa detik kemudian…


Tak… tak… tak…


Lebih dekat.


Raka mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya warga desa. Tapi langkah itu tidak pernah melewatinya. Selalu berhenti tepat di belakang.


Ia teringat pesan kepala desa.


Jangan nengok ke belakang.


Keringat dingin mengalir di punggungnya.


BISIKAN


Angin malam berhembus, membawa bau tanah basah… dan sesuatu yang busuk.


Lalu terdengar bisikan.


“Raka…”


Suara itu parau, seolah tenggorokan yang sudah lama tak dipakai berbicara.


Raka membeku.


“Siapa?” suaranya gemetar.


Tak ada jawaban. Hanya suara napas berat, tepat di belakang telinganya.


“Kenapa kamu berhenti…?”


Kuku Raka mencengkeram tasnya. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa tertanam di tanah.


MENENGOK


Lampu jalan berkedip keras.


KLIK… KLIK…


Lalu mati.


Gelap total.


Dalam kepanikan, Raka melakukan kesalahan terbesar.


Ia menengok ke belakang.


WAJAH ITU


Tepat satu jengkal dari wajahnya, berdiri sesuatu.


Tubuhnya tinggi, terlalu tinggi untuk manusia. Kulitnya hitam kebiruan, basah seperti mayat yang direndam lama. Matanya kosong—tidak ada bola mata, hanya lubang hitam menganga.


Mulutnya robek hingga ke pipi.


Dari dalamnya menetes cairan hitam.


“Akhirnya… kamu lihat aku.”


Raka menjerit, tapi suaranya tertelan malam.


Makhluk itu tersenyum—atau lebih tepatnya, membuka luka di wajahnya lebih lebar.


LARI TANPA ARAH


Raka berlari.


Ia tidak tahu ke mana. Jalan desa terasa memanjang tak wajar, rumah-rumah tampak sama, berulang, seperti labirin.


Langkah kaki itu kini berlari juga.


DUK! DUK! DUK!


Lebih cepat. Lebih berat.


Saat Raka terjatuh, ia melihat sesuatu yang membuat napasnya berhenti.


Di tanah, terbaring mayat dirinya sendiri.


Wajahnya pucat, mata terbuka, mulut menganga dalam teriakan bisu.


“Kamu sudah terlambat,” bisik suara itu.


RAHASIA DESA KARANGMATI


Kilatan ingatan menghantam Raka.


Karangmati bukan desa biasa.


Setiap beberapa tahun, desa ini meminta tumbal.

Orang asing.

Orang yang sendirian.

Orang yang menoleh ke belakang.


Makhluk itu bukan pemburu.


Ia adalah penjaga.


AKHIR


Raka merasakan tangan dingin mencengkeram bahunya. Kulitnya membusuk saat disentuh.


Pandangan menggelap.


Keesokan paginya, warga menemukan seorang pemuda berdiri di bawah lampu jalan—tegak, diam, matanya kosong.


Mulutnya terbuka seolah ingin berteriak.


Kepala desa hanya menghela napas.


“Sudah kubilang,” gumamnya pelan.

“Kalau dengar langkah kaki… jangan nengok ke belakang.”


Lampu jalan itu kembali berkedip.


Menunggu.



👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar