Sabtu, 17 Januari 2026

JANGAN PERNAH MENJAWAB KETUKAN KEEMPAT


 


JANGAN PERNAH MENJAWAB KETUKAN KEEMPAT


Jam menunjukkan 02.17 dini hari saat hujan turun tanpa suara. Bukan hujan biasa—tidak ada petir, tidak ada angin. Hanya rintik pelan seperti bisikan dari langit.

Raka tinggal sendirian di rumah peninggalan kakeknya. Rumah tua di ujung desa, dekat kebun karet yang sudah lama ditinggalkan. Orang desa selalu bilang,
“Kalau malam, jangan buka pintu di rumah itu. Apa pun yang mengetuk.”

Raka tidak percaya takhayul.

Sampai malam itu.

TOK… TOK… TOK…

Ketukan pelan terdengar dari pintu depan.

Raka terdiam. Jantungnya langsung berdebar. Ia melihat jam.

02.17

Ia teringat pesan kakeknya dulu:

“Kalau ada yang mengetuk malam-malam dan kamu sendirian…
jangan jawab. Jangan intip. Jangan hitung ketukannya.”

Raka menelan ludah.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada suara lagi.

Ia menghela napas lega…
sampai ketukan itu datang lagi.

TOK… TOK… TOK…

Sama. Tiga kali.

Raka berdiri, mendekat ke pintu. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang.

Tiba-tiba…

TOK.

Satu ketukan tambahan.

Keempat.

Udara di rumah langsung terasa dingin, seperti kulkas terbuka. Lampu ruang tamu berkedip.

Dari balik pintu terdengar suara lirih, parau, seperti tenggorokan berisi air:

“Rakaaa… bukain… aku basah…”

Raka mundur. Keringat dingin mengalir di punggungnya.

Suara itu terdengar… mirip ibunya.
Padahal ibunya sudah meninggal tiga tahun lalu karena tenggelam di sungai belakang kebun itu.

“Ini cuma halusinasi,” bisiknya.

Lalu terdengar ketukan lagi.

Sekarang dari dinding belakang rumah.

TOK… TOK… TOK… TOK…

Keempat ketukan. Lagi.

Suara ibu itu kini terdengar di mana-mana. Dari pintu, jendela, lantai, bahkan dari langit-langit.

“Kamu kan anak mama… masa tega biarin mama di luar…”

Lampu mati total.

Dalam gelap, Raka mencium bau air sungai bercampur tanah busuk.

Tiba-tiba…
sesuatu mengetuk dari dalam lemari kamarnya.

Pelan. Teratur.

TOK… TOK… TOK… TOK…

Raka menangis. Ia menutup telinga.

“Pergi… tolong pergi…”

Lalu suara itu berbisik tepat di belakang telinganya—
padahal ia sendirian:

“Kamu sudah jawab tadi, Raka…”

Ia berbalik.

Di sana berdiri sosok perempuan pucat, rambutnya panjang menutupi wajah, tubuhnya meneteskan air hitam. Kakinya tidak menyentuh lantai.

Di wajahnya…
bukan mata.

Hanya lubang gelap, dalam, seolah menelan cahaya.

Mulutnya terbuka lebar, terlalu lebar untuk wajah manusia.

“Sekarang… giliran mama masuk.”

Pagi harinya, warga menemukan pintu rumah itu terbuka.
Lantai basah penuh jejak kaki…
yang berhenti di depan lemari.

Raka tidak pernah ditemukan.

Tapi sampai sekarang, jika kamu lewat rumah itu saat hujan dan jam menunjukkan 02.17…

kamu akan mendengar ketukan.

Empat kali.

Dan suara yang memanggil namamu.


👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:

Posting Komentar