Kamis, 15 Januari 2026

JANGAN PERNAH MENJAWAB

 

JANGAN PERNAH MENJAWAB 


Malam ke-3 setelah kejadian itu, aku tidak lagi mendengar panggilan.


Justru rumahnya yang mulai hidup.


Jam 02.13.

Aku terbangun karena suara sesuatu diseret di kolong rumah.

Bukan satu arah.

Muter… muter…

seperti tubuh tanpa tulang.


Lalu terdengar suara tulang patah.


KREK…

KREK…


Bukan sekali.

Tapi dipatahkan satu-satu.


Aku mengintip ke celah lantai kayu.


Di bawah rumah…

ada sesosok tubuh telanjang, kulitnya terkelupas setengah.

Wajahnya…

WAJAHKU SENDIRI.


Matanya copot sebelah, menggantung oleh urat.

Mulutnya robek sampai ke telinga.


Ia merangkak pakai siku, karena kakinya bengkok ke belakang, terbalik 360 derajat.


Dan sambil merangkak…

dia tertawa.


Bukan ketawa normal.


Ketawa sambil muntah darah hitam.


Tiba-tiba leherku ditarik dari belakang.


Bukan ditarik cepat.

Tapi perlahan, seperti mau merasakan tulang leherku bergeser.


Ada suara tepat di telingaku:


“Kamu kuat ya… biasanya sudah jawab dari malam pertama.”


KUKU NYA PANJANG.

Masuk ke daging leher.

Aku bisa ngerasa ujung kukunya nyentuh tulang.


Aku lari ke kamar mandi.


Kunci pintu.


Cermin di depanku…

tidak memantulkan aku.


Yang ada di cermin…

aku berdiri menghadap tembok, leherku terpelintir ke belakang, dan mulutku terbuka lebar.


Dari dalam mulut di cermin…

keluar tangan kecil, seperti tangan anak bayi…

tapi jarinya banyak, lebih dari sepuluh.


Satu tangan keluar…

dua…

tiga…


Mereka merobek rahangku di cermin, sampai mulut itu sobek ke pipi.


PINTU KAMAR MANDI DIBUKA PAKSA.


Bukan didobrak.


Tapi ditarik ke dalam tubuh sesuatu.


Aku jatuh.

Tubuhku diseret ke ruang tengah.


Di lantai…

aku lihat mayat-mayat tetangga.


Mata mereka dicungkil.

Perut mereka dibuka.

Ususnya disusun rapi membentuk namaku.


Dan akhirnya…

dia muncul.


Bukan bayangan lagi.


Wujudnya tanpa kulit, ototnya masih bergerak.

Wajahnya mirip aku, tapi lebih tua dan busuk.


Ia jongkok di depanku.


Mengambil jari tanganku satu.


KREK.


Patah.


Satu lagi.


KREK.


Dia menghitung pelan sambil senyum:


“Setiap malam satu bagian…”


Dia mendekat ke telingaku.


“Sampai kamu jawab waktu aku manggil.”


Pagi harinya…

tetangga menemukan rumah itu kosong.


Tapi di lantai ruang tengah…

ada potongan jari tersusun rapi.


Dan di dinding, tertulis pakai darah:


“DIA SUDAH MENJAWAB.”


Sekarang…

setiap jam 02.13,

kalau kamu dengar ada yang manggil namamu…


Bukan minta dibukain pintu.


Tapi…


lagi nentuin bagian tubuh mana yang diambil duluan.


AKU BUKAN YANG DIPANGGIL


Malam ke-7.


Aku sadar satu hal:

yang memanggil namaku… bukan mau masuk.

Dia sudah di dalam.


Jam 02.13.

Aku duduk di kasur, mata terbuka, tidak berkedip sejak sejam lalu.

Karena setiap kali aku berkedip…

waktu mundur 5 detik.


Aku tahu itu karena jarum jam dinding mundur sambil berbunyi patah,

seperti tulang jari dipaksa balik arah.


Aku dengar suara dari dalam perutku sendiri.


Bukan suara lapar.

Bukan sakit.


Tapi orang berbicara pelan, teredam daging.


“Kamu dengar aku, kan?”


Perutku bergerak.

Kulitnya menggembung, lalu membentuk sidik jari dari dalam.


Ada yang menekan keluar.


Aku lari ke kamar mandi.

Muntah.


Yang keluar bukan makanan.


Tapi rambut.

Basah.

Panjang.

Masih hangat.


Di sela rambut itu…

ada gigi manusia, masih ada sisa gusi.


Dan saat aku teriak…

teriakanku tidak keluar.


Yang keluar dari mulutku adalah suara lain.


“Diam… kamu bikin aku pusing.”


Cermin kamar mandi retak sendiri.

Retaknya membentuk wajahku, tapi matanya dijahit pakai benang hitam.


Cermin itu bicara:


“Kamu selalu salah paham.”

“Bukan kamu yang dipanggil…”

“KAMU ITU YANG MANGGIL KAMI.”


Tiba-tiba aku ingat sesuatu.


Setiap malam jam 02.13…

aku selalu terbangun.


Tapi tidak pernah ingat bagaimana caranya tidur.


Aku cek galeri HP.


Ada video direkam semalam.


Di video itu…

aku berdiri di ruang tengah.

Menghadap tembok.


Kepalaku dibenturkan pelan-pelan ke dinding.


BUK…

BUK…


Sambil berbisik:


“Ayo keluar…”

“Namaku sudah siap…”


Lalu di video itu…

aku membuka mulut selebar mungkin.


Bukan manusia.


Rahangku copot.

Mulutku turun sampai dada.


Dan dari dalam…

aku merangkak keluar dari diriku sendiri.


Yang keluar itu kurus.

Kulitnya tipis.

Matanya kosong.


Dia menatap kamera…

dan tersenyum.


“Dia kosong sekarang.”

“Giliran kamu nanti.”


Pagi harinya…

aku bangun di kasur.


Normal.


Tapi…

di dinding kamar ada bekas kuku dari DALAM keluar.


Dan di perutku…

ada jahitan kasar, masih berdarah.


Sekarang aku paham.


Yang dipanggil bukan namaku.

Yang dipanggil itu JIWA YANG MASIH UTUH.


Dan kalau kamu masih baca ini dengan lampu mati…

dan jam mendekati 02.13…


Perhatiin napasmu.


Kalau napasmu bukan kamu yang ngatur…


Tenang aja.


Itu cuma tandanya

tempatmu sudah disiapkan.


👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:

Posting Komentar