Sabtu, 24 Januari 2026

MISTERI RUMAH YANG MENGHAFAL NAMA PENGHUNINYA

 



RUMAH YANG MENGHAFAL NAMA PENGHUNINYA


Tidak semua rumah menunggu ditinggali. Sebagian… menunggu dipanggil.


@SUARITOTO - Aku pindah ke rumah itu karena murah. Terlalu murah untuk ukuran rumah tua dua lantai di ujung kota. Catnya mengelupas, jendelanya tinggi, dan pagar besinya berkarat seperti bekas darah yang mengering.


Pemilik sebelumnya meninggal.

Kata agen properti: “Sakit biasa.”


Tapi tetangga tidak pernah menatap rumah itu lama-lama.


Malam pertama, aku tidur nyenyak.

Malam kedua, aku terbangun pukul 02.11.


Ada suara orang berjalan di lantai atas.


Masalahnya…

rumah itu tidak punya lantai atas.


Langit-langit kamarku bergetar pelan. Seperti ada kaki telanjang melangkah, diseret, lalu berhenti tepat di atas kepalaku.


KREEEEK…


Aku menahan napas.


Suara itu lalu terdengar turun.


Bukan lewat tangga.

Tapi dari dalam dinding.


Sejak malam itu, jam di rumah selalu berhenti di pukul 02.17. Jam dinding, jam tangan, bahkan jam di ponsel—mati total setiap jam itu tiba, lalu menyala kembali beberapa menit kemudian.


Malam keempat, aku mendengar namaku.


Bukan teriak.

Bukan bisik.


Seperti orang yang yakin aku pasti menjawab.


“Rian…”


Suara itu datang dari dapur.


Aku tidak bergerak. Tidak menjawab. Aku pura-pura tidur.


Lantai berderit mendekat.

Berhenti di depan kamar.


Pintu kamar terbuka sendiri.


Udara dingin menyapu wajahku. Bau tanah basah dan sesuatu yang amis memenuhi ruangan.


“Akhirnya pulang…”


Kalimat itu tepat di telingaku.


Aku membuka mata sedikit.


Ada sosok berdiri di samping tempat tidurku. Tingginya hampir menyentuh langit-langit. Kulitnya pucat kehijauan, lengannya terlalu panjang, dan lehernya miring seperti patah.


Wajahnya…

adalah wajahku sendiri.


Matanya hitam kosong, tapi mulutnya tersenyum lebar sampai pipinya robek.


“Sekarang giliran kamu jaga rumah.”


Aku menjerit. Lampu menyala. Sosok itu hilang.


Pagi harinya, aku menemukan nama lengkapku terukir di dinding dapur. Bukan dicoret. Tapi seperti… digores dari dalam tembok.


Aku mencoba kabur. Mobilku mogok tepat di depan pagar rumah. Mesin mati. Kunci tidak bisa dicabut.


Di kaca spion, aku melihat rumah itu…

lebih dekat dari sebelumnya.


Seolah-olah jaraknya menyusut.


Malam berikutnya lebih parah.


Aku terbangun dan tidak bisa bergerak. Paralisis tidur. Tapi kali ini aku sadar… aku tidak sendirian di tubuhku.


Ada sesuatu bernapas bersamaku.

Menggerakkan jari-jariku perlahan.


“Aku capek jadi bayangan,” bisiknya dari dalam kepalaku.

“Sekarang kamu.”


Aku merasakan senyum muncul di wajahku

padahal aku tidak berniat tersenyum.


Keesokan paginya, tetangga melihatku menyapu halaman. Tersenyum. Menyapa ramah.


Padahal di dalam kepalaku, aku berteriak sekuat tenaga.


Karena setiap malam, aku hanya bisa menonton tubuhku sendiri berdiri di depan cermin, berbicara dengan pantulan yang bukan lagi pantulanku.


Dan rumah itu…

sekarang menghafal namamu juga.


Kalau suatu malam kamu terbangun pukul 02.17

dan merasa rumahmu terlalu sunyi…


dengarkan baik-baik.


Kalau ada yang memanggil namamu dari ruangan lain—

dan suaranya mirip sekali dengan suaramu sendiri…


jangan jawab.


Karena rumah yang sudah menghafal namamu

tidak akan melepaskanmu.


👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:

Posting Komentar