Sabtu, 14 Februari 2026

MISTERI ARWAH YANG MENCARI JARINYA YANG HILANG

 

MISTERI ARWAH YANG MENCARI JARINYA YANG HILANG


@SUARITOTO-Desa Karang Wening terletak di kaki bukit yang selalu diselimuti kabut. Saat sore menjelang malam, udara di desa itu berubah dingin, menusuk sampai ke tulang. Warga biasa menutup pintu lebih awal. Bukan karena takut hewan buas, tapi karena ada sesuatu yang tak kasatmata—yang konon sering lewat di jalan tanah menuju sungai.


Di desa itu, tinggal seorang pemuda bernama Raka. Ia baru kembali dari kota setelah bertahun-tahun merantau. Rumah orang tuanya kosong sejak mereka meninggal, dan satu-satunya alasan Raka pulang adalah menjual rumah itu. Namun, sejak hari pertama menginjakkan kaki di Karang Wening, ada perasaan tak enak yang menempel di dadanya.


Malam pertama, Raka terbangun karena suara ketukan pelan di jendela.


Tok… tok… tok…


Pelan, teratur, seperti kuku yang mengetuk kaca.


Raka menoleh. Jendela kamarnya menghadap kebun pisang yang gelap. Tidak ada siapa-siapa. Tapi ketukan itu terdengar lagi, kali ini disertai bunyi gesekan, seperti sesuatu yang menyeret kuku di permukaan kaca.


Raka memberanikan diri membuka gorden.


Kosong.


Namun di kaca jendela, ada bekas sidik jari kecil—seolah-olah seseorang menempelkan tangannya dari luar. Yang aneh, sidik jari itu hanya empat. Satu jari terlihat seperti terpotong.


Dada Raka langsung sesak.


Keesokan paginya, Raka pergi ke warung kopi di ujung desa. Di sana, ia bertemu Mbah Suro, lelaki tua yang matanya tampak kosong namun sorotnya tajam.


“Kamu anak Pak Wiryo, ya?” tanya Mbah Suro pelan.


Raka mengangguk.


“Kalau dengar suara ketukan malam-malam, jangan dibuka,” lanjutnya.

“Apalagi kalau yang mengetuk… jarinya kurang satu.


Raka terdiam.

“Kenapa, Mbah?”


Mbah Suro menghela napas panjang.

“Itu arwah Sari Manah. Dia mati dengan cara tak wajar. Jarinya hilang. Sejak itu, rohnya berkeliaran… mencari bagian tubuhnya yang terpotong.”


Raka ingin tertawa, tapi ingatan tentang sidik jari di jendela membuat tenggorokannya kering.


Konon, bertahun-tahun lalu, Sari Manah adalah gadis desa yang bekerja di pabrik penggilingan tebu. Suatu malam, ia pulang terlambat. Di jalan menuju sungai, terjadi kecelakaan tragis. Tubuhnya terseret arus, dan saat ditemukan, salah satu jarinya hilang—tersangkut di roda mesin pabrik.


Namun keluarganya tak pernah menemukan jari itu. Sejak saat itu, warga sering melihat penampakan perempuan berambut panjang, baju lusuh, berjalan pincang di tepi sungai sambil menggerakkan tangan seolah mencari sesuatu di tanah.


Malam kedua, Raka kembali mendengar suara.


Kali ini bukan ketukan.


Melainkan suara langkah basah, seperti kaki yang baru keluar dari lumpur.


Srek… srek… srek…


Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.


Lalu terdengar bisikan lirih:


“…jariku…

kembalikan jariku…”


Napas Raka tertahan. Ia memejamkan mata, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi. Namun, hawa dingin merambat di lantai, naik ke kakinya, seolah ada sesuatu yang berdiri tepat di ambang pintu.


Tiba-tiba, gagang pintu bergerak pelan.


Klek…


Pintu terbuka sedikit.


Di celah pintu, terlihat sepotong jari pucat jatuh ke lantai kayu, disertai bau anyir.


Raka menjerit. Ia langsung lari keluar kamar, jatuh tersungkur di ruang tamu. Saat menoleh ke belakang, pintu kamarnya sudah tertutup rapat. Jari itu… hilang.


Esoknya, Raka menemui Mbah Suro lagi, wajahnya pucat pasi.


“Mbah… dia datang,” suara Raka gemetar.


Mbah Suro mengangguk pelan.

“Dia mengira kamu tahu di mana jarinya.”


“Terus… gimana caranya supaya dia berhenti?”


“Cari jarinya. Kembalikan ke tempat jasadnya dulu ditemukan. Kalau tidak… dia akan terus datang. Ke siapa pun yang tinggal di rumahmu.”


Raka menggigil. Rumah orang tuanya ternyata berdiri di jalur lama menuju sungai—tempat Sari Manah terakhir terlihat hidup.


Malam itu, dengan ditemani obor dan doa dari Mbah Suro, Raka menyusuri sungai. Kabut turun tebal. Suara air mengalir terdengar seperti bisikan.


Di dekat batu besar, Raka melihat sesuatu mengilap di lumpur.

Ia menggali dengan tangan gemetar.


Yang ia temukan adalah sepotong jari yang membusuk, terbungkus kain pabrik.


Saat Raka mengangkatnya, angin tiba-tiba berhenti.

Di belakangnya, terdengar suara napas dingin.


“Akhirnya…”


Raka berbalik perlahan.


Sari Manah berdiri di sana. Wajahnya pucat kebiruan, matanya kosong, bibirnya tersenyum retak. Tangan kirinya terangkat—empat jari. Yang satu hilang.


Dengan langkah tertatih, arwah itu mendekat. Raka ingin lari, tapi kakinya seperti tertancap di tanah.


Perempuan itu meraih jarinya.


Begitu jari itu menempel di tangannya, tubuh Sari Manah bergetar. Wajahnya berubah tenang. Kabut perlahan menipis. Sosok itu memudar, tersenyum sekali lagi sebelum menghilang seperti asap.


Sungai kembali sunyi.


Sejak malam itu, desa Karang Wening tak lagi diganggu suara langkah basah. Tidak ada lagi ketukan jendela, tidak ada bisikan minta jari.


Raka berhasil menjual rumah orang tuanya.


Namun sebelum pergi, ia melihat sesuatu di kaca jendela kamarnya—bekas empat sidik jari yang memudar.


Seolah ada yang berpamitan.


Atau…

mengucapkan terima kasih.



LINK TERPERCAYA SAAT INI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar