Minggu, 15 Februari 2026

MISTERI PELARIS


MISTERI PELARIS


***  MISTERI PELARIS DI WARUNG UJUNG JALAN ***


@SUARITOTO - Warung kecil di ujung jalan itu dulunya sepi. Bahkan lalat pun malas mampir. Letaknya di dekat kuburan tua, diapit pohon beringin besar yang akarnya menjulur ke mana-mana. Orang-orang bilang, tempat itu “dingin”—bukan karena angin, tapi karena ada yang menunggu.


Warung itu milik Bu Ratna, janda paruh baya yang pindah ke desa Sukamerta bersama anak perempuannya, Dini.


Hari pertama buka, dagangannya nyaris tak laku.

Hari kedua, cuma satu orang beli kopi.

Hari ketiga, Dini mulai mendengar suara aneh dari belakang warung.


“Bu… tadi ada yang manggil namaku dari dapur…”

Bu Ratna cuma menghela napas.

“Mungkin kamu kecapekan.”


Namun, sejak hari keempat, semuanya berubah.

*** Warung yang Tiba-Tiba Ramai ***

Entah kenapa, warung Bu Ratna mendadak ramai luar biasa.

Pagi-pagi sudah antre.

Malam hari justru makin padat.


Orang-orang bilang, masakan Bu Ratna mendadak enak.

Padahal resepnya sama saja.


Tapi ada yang aneh…


Setiap pelanggan yang datang, selalu melirik ke sudut belakang warung.

Seolah melihat seseorang duduk di sana.


Padahal kursi itu kosong.


Dini mulai merasa tidak nyaman.

Setiap malam, dia melihat bayangan hitam berdiri di dekat pintu dapur.

Kadang terdengar suara orang mengunyah…

padahal warung sudah tutup.



Suatu malam, Dini terbangun karena mencium bau kemenyan yang kuat.

Ia mengendap ke dapur.

Di sana, ia melihat ibunya duduk bersila di depan mangkuk tanah liat berisi cairan hitam.
Di sampingnya, ada lilin merah menyala.
Bu Ratna berbisik pelan:

“Datanglah… bantu daganganku… aku beri makan…”

Tiba-tiba angin dingin berembus.
Lilin bergoyang keras.
Dini melihat sesuatu merangkak dari sudut dapur.

Bentuknya kecil, kurus, matanya merah, tersenyum lebar.

Dini menjerit.

Makhluk itu menghilang.
Bu Ratna menoleh pelan, matanya hitam pekat.

“Kamu gak seharusnya lihat ini, Ni…”



Sejak malam itu, Bu Ratna berubah.
Wajahnya pucat.
Tangannya sering berdarah seperti habis dicakar.

Pelanggan makin ramai.
Tapi setiap malam Jumat Kliwon, satu pelanggan selalu jatuh pingsan.
Ada yang bilang merasa seperti ada bayi duduk di pundaknya.
Ada yang melihat bayangan kecil merangkak di langit-langit warung.

Dini akhirnya nekat menemui Mbah Surip, orang tua sakti di desa.

Mbah Surip menghela napas panjang.
“Ibumu pasang pelaris… tapi bukan dari doa. Dari perjanjian.”

“Perjanjian apa, Mbah?”

“Setiap malam, makhluk itu harus ‘diberi makan’.
Kalau tidak, yang dimakan… keluarganya sendiri.”



Malam Jumat Kliwon berikutnya, warung penuh sesak.

Lampu tiba-tiba mati.
Angin dingin menyapu ruangan.
Dari dapur terdengar suara tangisan bayi… tapi nadanya berubah jadi tawa.

Dini melihat bayangan kecil itu duduk di pundaknya.

“Sekarang… giliran kamu…” bisik suara parau di telinganya.

Bu Ratna menangis.
“Aku gak mau kehilangan kamu, Ni… tapi aku gak bisa berhenti…”

Makhluk itu merangkak keluar dari kegelapan.
Matanya menatap Dini.

Tiba-tiba, Mbah Surip datang membawa air doa dan garam kasar.
Ia mengucap mantra keras.
Bayangan itu menjerit, menempel di dinding, lalu meleleh seperti asap hitam.

Warung itu seketika sunyi.
Pelanggan berhamburan lari.


Keesokan harinya, warung Bu Ratna ditutup permanen.
Bu Ratna jatuh sakit keras.
Dini pindah dari desa.

Tapi sampai sekarang…

Warga yang lewat ujung jalan itu sering melihat lampu warung menyala sendiri tengah malam.
Kadang terdengar suara sendok beradu…
dan tawa kecil dari dalam dapur.

Konon, pelaris itu belum benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu pemilik baru yang cukup nekat untuk membuat perjanjian…




LINK TERPERCAYA SAAT INI

👉 RTP SLOT TERPERCAYA 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar