MISTERI BAYI BAJANG
@SUARITOTO - Desa Sukamerta dikenal tenang. Terlalu tenang, bahkan untuk ukuran desa yang jarang dilewati kendaraan.
Di sana, malam selalu datang lebih cepat. Kabut turun seperti kain kafan, menutup jalanan tanah merah dan rumah-rumah kayu yang berdiri saling berjauhan.
Sejak seminggu terakhir, warga sering mendengar tangisan bayi setiap pukul 02.13 dini hari.
Tangisannya lirih, serak… seperti suara bayi yang menangis sambil kehabisan napas.
Masalahnya:
di desa itu tidak ada bayi yang baru lahir.
Raka, pemuda perantau yang baru pulang kampung, mengira semua itu cuma sugesti.
“Paling suara kucing kawin,” gumamnya saat pertama kali mendengar.
Namun malam itu, suara tangisan terdengar tepat di depan rumahnya.
Tangisan itu bukan seperti kucing.
Itu suara bayi…
dengan nada pilu yang bikin bulu kuduk berdiri.
Raka membuka jendela perlahan.
Di bawah pohon pisang yang daunnya kering bergesekan tertiup angin,
ia melihat sesuatu terbaring di tanah.
Bayi.
Tubuhnya kecil, terbungkus kain putih kusam yang penuh noda tanah.
Tangisannya lirih, seperti hampir habis tenaga.
“Siapa yang buang bayi?” batin Raka.
Tanpa pikir panjang, Raka keluar rumah.
Begitu ia mendekat, bau anyir menyengat hidungnya.
Bukan bau tanah…
tapi bau darah yang sudah lama mengering.
Saat Raka jongkok, bayi itu berhenti menangis.
Kepalanya perlahan terangkat.
Dan saat itulah Raka membeku.
Wajah bayi itu bukan wajah bayi normal.
Matanya hitam legam tanpa putih mata.
Mulutnya merekah lebar… terlalu lebar untuk ukuran bayi.
“Mas…”
Suara parau keluar dari mulut kecil itu.
Bukan suara bayi.
Itu suara orang dewasa.
Raka mundur terpeleset ke tanah.
Tangannya gemetar, napasnya sesak.
Tiba-tiba, dari balik gelap kebun, muncul bayangan tinggi kurus.
Rambutnya panjang menjuntai, menutup wajah.
Langkahnya pelan, tapi setiap pijakan terdengar seperti tulang yang patah.
Bayi itu tertawa.
Tawa serak…
disertai suara tulang berderak dari tubuh kecilnya.
“Kamu… yang dipilih…”
Lampu rumah Raka mendadak padam.
Kegelapan menelan segalanya.
Dan tangisan itu berubah menjadi…
tawa panjang yang menggema di seluruh desa.
“Yang Menggendong Tak Pernah Kembali”
Pagi datang dengan kabut tebal yang belum terangkat.
Desa Sukamerta gempar.
Raka menghilang.
Pintu rumahnya terbuka. Lampu masih mati.
Di tanah depan rumah, warga menemukan bekas seretan kecil—seperti bekas kaki bayi… tapi terlalu dalam, seolah sesuatu yang berat diseret di atas tanah basah.
Ibu Raka pingsan.
Kepala desa memerintahkan warga mencari sampai ke kebun pisang tempat Raka terakhir terlihat.
Di sana, mereka menemukan kain putih kusam.
Kain itu robek, berbau anyir.
Di sudutnya ada noda hitam mengering—bukan tanah. Darah.
Sejak hari itu, tangisan bayi semakin sering terdengar.
Tak lagi jam 02.13.
Kadang jam 01.00. Kadang menjelang subuh.
Yang bikin ngeri:
tangisan itu berpindah-pindah.
Malam ini dari kebun.
Besok dari kolong rumah warga.
Lusa dari kuburan lama di ujung desa.
Pak Darto, satpam desa yang sok berani, bersumpah melihat “bayi” itu merangkak di pinggir jalan.
Katanya kecil, kepalanya terlalu besar, lehernya bengkok.
Ia bilang akan menggendongnya dan menyerahkannya ke bidan desa.
Malam itu, Pak Darto keluar membawa senter.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Pak Darto tak pernah kembali.
Yang ditemukan hanya senter patah di tepi sawah.
Tanah di sekitarnya berlubang-lubang kecil… seperti bekas kuku mencengkeram.
Di lumpur ada jejak kaki kecil mengarah ke pemakaman tua.
Sejak itu, warga sepakat:
Siapa pun yang menggendong bayi itu, tak akan pulang.
Namun teror belum selesai.
Malam berikutnya, rumah Bu Narti digedor dari luar.
Saat dibuka, tak ada siapa-siapa.
Di depan pintu, tergeletak kain putih—mirip kain yang ditemukan di kebun pisang.
Begitu Bu Narti menunduk,
ia mendengar isakan lirih tepat di belakang kakinya.
“Bu… dingin…”
Tubuh Bu Narti membeku.
Ia tak berani menoleh.
Tangisan itu makin dekat, napasnya terasa di betisnya—dingin, amis.
Ia berlari masuk, mengunci pintu, menangis histeris.
Tapi dari balik pintu kayu, terdengar suara kuku menggaruk.
Perlahan. Teratur.
Seperti sesuatu yang sedang… menunggu digendong.
Keesokan paginya, Bu Narti ditemukan selamat—
tapi rambutnya memutih separuh.
Ia hanya mengulang satu kalimat, gemetar:
“Dia… minta digendong…
kalau digendong… dia masuk ke dalam tubuh…”
Malam itu, tangisan terdengar lagi.
Kali ini…
dari dalam rumah Raka yang kosong.
Dan di jendela, beberapa warga melihat bayangan kecil duduk di ambang—
kakinya menjuntai,
kepalanya menoleh pelan,
mulutnya tersenyum terlalu lebar.
“Bayi Bajang Itu Memilih Tumbalnya”
Desa Sukamerta berubah jadi desa tanpa malam.
Tak ada lagi yang berani tidur.
Setiap rumah menyalakan lampu semalaman.
Tapi gelap bukan datang dari luar…
gelap datang dari dalam rumah mereka sendiri.
Tangisan bayi kini terdengar dari banyak tempat sekaligus.
Seolah ada lebih dari satu “bayi”.
Padahal warga tahu…
itu hanya satu makhluk yang bisa memecah suaranya.
Kepala desa akhirnya memanggil orang pintar dari kampung seberang:
Mbah Wiryo.
Laki-laki tua itu datang dengan tongkat kayu hitam dan tas kain penuh rajah.
Begitu menginjakkan kaki di desa, Mbah Wiryo langsung terdiam.
“Di sini…
ada arwah bayi yang tidak pernah dimakamkan sebagai manusia,” katanya pelan.
“Yang kalian dengar itu bukan bayi.
Itu Bayi Bajang—roh anak yang dibuang, dijadikan tumbal,
dan sekarang tumbuh… bukan sebagai arwah,
tapi sebagai makhluk pemakan jiwa.”
Warga gemetar.
Mbah Wiryo bilang, makhluk itu tak bisa dibunuh.
Ia hanya bisa “dipulangkan” dengan menukar satu jiwa sebagai pengganti—
jiwa yang paling lemah ikatannya dengan hidup.
Malam itu, ritual digelar di pemakaman tua.
Warga berkumpul membentuk lingkaran.
Di tengah, sesajen, kain putih, dan tanah kuburan bayi yang tak bernama.
Angin mendadak berhenti.
Kabut menebal.
Tangisan bayi muncul dari tanah.
Pelan… lalu keras.
Tanah di tengah lingkaran bergerak.
Retak.
Dan dari celahnya, muncul kepala bayi dengan mata hitam legam.
Tubuhnya merangkak keluar…
panjang, kurus, tulangnya menonjol seperti rangka kecil yang dibungkus kulit tipis.
Lehernya bengkok.
Mulutnya merekah sampai ke pipi.
Warga menjerit.
Makhluk itu merayap di tanah, berhenti tepat di depan satu orang.
Ibu Raka.
Wanita itu gemetar.
Matanya kosong, wajahnya pucat.
Sejak anaknya hilang, ia sering bicara sendiri.
Setiap malam duduk di teras, seolah menunggu seseorang pulang.
Bayi Bajang mendongak.
Matanya menatap ibu itu.
Dan dengan suara Raka, makhluk itu berkata:
“Bu… aku pulang…”
Tangisan Ibu Raka pecah.
Ia maju, melupakan teriakan warga.
“Raka… anakku…”
Mbah Wiryo berteriak,
“JANGAN DIGENDONG!”
Terlambat.
Begitu tubuh Bayi Bajang menyentuh dada Ibu Raka,
makhluk itu meleleh.
Tubuh kecilnya berubah jadi cairan hitam yang merayap masuk ke mulut, mata, dan telinga sang ibu.
Ibu Raka kejang.
Tulangnya berbunyi patah satu per satu.
Perutnya mengembung.
Dari tenggorokannya keluar suara tangisan bayi bercampur tawa orang dewasa.
Detik berikutnya…
Ibu Raka berdiri.
Tapi yang berdiri bukan lagi Ibu Raka.
Matanya hitam legam.
Mulutnya tersenyum terlalu lebar.
Posturnya membungkuk aneh, seperti ada bayi di dalam tubuhnya… bergerak.
Mbah Wiryo jatuh terduduk.
“Sudah terlambat…
dia bukan memilih tumbal untuk pergi…
dia memilih wadah baru untuk tinggal.”
Lampu-lampu di desa padam serentak.
Di kegelapan, terdengar satu suara tangisan bayi—
kini lebih dekat…
lebih berat…
seperti berasal dari dalam dada manusia.
Keesokan paginya,
Ibu Raka menghilang.
Dan sejak hari itu,
warga desa sering melihat seorang perempuan membungkuk membawa kain putih,
berjalan keliling desa saat dini hari.
Kadang ia berhenti di depan rumah seseorang.
Mengetuk pelan.
Dan dari balik pintu,
terdengar suara bayi berbisik:
“Aku kedinginan…
gendong aku…”
LINK TERPERCAYA SAAT INI
👉 SUARITOTO👉 SUARITOTO👉 DAFTAR SUARITOTO👉 RTP SLOT TERPERCAYA👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND
Tidak ada komentar:
Posting Komentar