Kamis, 19 Februari 2026

MISTERI DI IKUTI JIN IFRIT


MISTERI  DI IKUTI JIN IFRIT


@SUARITOTO - Malam itu, hujan turun tanpa jeda. Jalanan desa Kampung Serunai sepi seperti kuburan yang lupa ditutup. Lampu-lampu rumah redup, seolah takut menyala terlalu terang. Angin dingin menyusup ke sela tulang, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang amis—bau yang tak bisa dijelaskan, seperti darah yang lama mengering.


Raka melangkah cepat di bawah payung robek. Ia baru pulang lembur dari kota. Jalan pintas yang ia lewati memotong area kebun karet tua—tempat yang sejak kecil selalu dilarang orang tuanya untuk dilewati setelah magrib.


“Cuma mitos,” gumamnya, meski tengkuknya terasa panas.


Di tengah jalan, langkahnya terhenti.

Ada suara… tap… tap… tap…

Seperti kaki telanjang menginjak tanah basah—mengikuti dari belakang.


Raka menoleh. Kosong.

Hanya pohon-pohon karet yang berdiri seperti barisan orang menggantung diri.


Ia lanjut berjalan.

Tap… tap… tap…

Suara itu kembali. Kali ini lebih dekat. Napasnya terasa di telinga Raka—panas, berat, berbau belerang.


Raka menelan ludah.

“Assalamualaikum…” bisiknya pelan.


Angin mendadak berhenti. Hujan terasa jatuh lebih berat.

Dari balik kegelapan, terdengar tawa rendah—serak, seperti bara api digesek batu.

“Wa’alaikumussalam…”


Jantung Raka serasa jatuh ke perut.


***  TANDA-TANDA TEROR ***


Sejak malam itu, hidup Raka berubah.

Ia sering mencium bau gosong di kamarnya.

Lampu berkedip sendiri.

Cermin kamar mandi berembun, seolah ada napas yang mengembus dari balik kaca.


Puncaknya terjadi saat Raka terbangun tengah malam.

Kasurnya berderit… ada beban duduk di ujung ranjang.

Ia tak berani membuka mata.


“Kau lewat wilayahku,” suara itu berbisik.

“Sekarang… kau milikku.”


Raka mencoba membaca ayat kursi, tapi lidahnya kelu.

Setiap kata seperti ditarik keluar dari mulutnya.

Dadanya terasa ditindih batu panas.


Di sela ketakutan, ia membuka mata sedikit.

Di pojok kamar, berdiri sosok tinggi hitam—matanya merah menyala seperti bara. Kulitnya berasap, bau belerang menyengat. Api kecil menetes dari jemarinya ke lantai… sisss…


Itu bukan bayangan.

Itu Ifrit.


*** MENCARI PENOLONG ***


Paginya, Raka mendatangi Mbah Wiryo, orang tua yang dikenal bisa “melihat”.

Wajah Mbah Wiryo memucat saat melihat Raka.


“Kamu diikuti jin golongan Ifrit,” katanya pelan.

“Makhluk api. Mereka kejam… dan sulit dilepaskan kalau sudah menandai mangsanya.”


Raka gemetar.

“Apa yang harus saya lakukan, Mbah?”


“Taubat. Perbanyak doa. Jangan lewati tempat itu lagi. Dan… jangan pernah menjawab panggilan yang kamu dengar di malam hari, meski suaranya meniru orang terdekatmu.”


Malam berikutnya, ritual pembersihan dilakukan. Kemenyan dibakar, ayat-ayat suci dilantunkan. Udara mendadak panas seperti berada di dekat tungku.


Tiba-tiba angin mengamuk. Pintu berdebam. Api lilin menari liar.

Suara tawa yang sama menggema di atap rumah.


“Kau pikir aku akan pergi begitu saja?”


Raka menjerit. Tubuhnya terangkat beberapa senti dari lantai, lalu terhempas.

Mbah Wiryo berseru lebih keras, bacaan doa dipercepat.


Suara tawa itu berubah menjadi raungan.

Panas di ruangan surut. Bau belerang memudar.

Sunyi.


*** AKHIR YANG BELUM SELESAI ***


Sejak malam itu, teror berkurang.

Tapi… tidak sepenuhnya pergi.


Kadang, saat Raka sendirian, ia mendengar langkah di belakangnya.

Tap… tap… tap…


Dan dari balik angin, bisikan yang sama kembali datang:


“Aku belum selesai denganmu.”


Raka menoleh—dan kegelapan terasa tersenyum.



Malam turun seperti kain kafan yang menutup desa Kampung Serunai. Sejak ritual di rumah Mbah Wiryo, Raka tak lagi melihat sosok hitam itu. Tapi… ia merasakannya.
Panas tiba-tiba muncul di tengkuknya.
Bau belerang datang dan pergi.
Dan di telinganya, bisikan yang tak pernah sepenuhnya diam:

“Kita sudah terikat…”

Raka mencoba hidup normal. Ia kembali bekerja. Namun setiap kali melewati jalan kebun karet itu, dadanya sesak, seolah ada tangan panas yang mencengkeram jantungnya.

Suatu malam, ponselnya berdering.
Nama di layar: IBU.

Raka menghela napas lega.
“Iya, Bu?”

Hening.
Lalu suara ibunya—tapi nadanya sumbang, seperti direkam di lorong kosong.

“Ka… pulang… aku di kebun…”

Raka membeku.
Ibunya tinggal di rumah. Dan… ibunya tak pernah keluar malam.

Tiba-tiba layar ponsel gelap.
Dari arah kebun, terdengar langkah kaki cepat.

Tap… tap… tap…
Bukan satu pasang. Banyak. Seperti barisan kaki telanjang menginjak tanah basah.


Raka berlari. Nafasnya tercekik.
Pepohonan di sekelilingnya tampak condong ke arahnya, seolah ingin meraih.

Di tengah kebun, ia melihat sosok ibunya berdiri.
Baju dasternya kotor lumpur. Rambutnya menutupi wajah.

“Ibu!” teriak Raka.

Sosok itu mendongak.
Wajahnya… bukan wajah ibunya.

Kulitnya pecah-pecah seperti arang terbakar. Matanya menyala merah. Mulutnya merekah terlalu lebar, memperlihatkan gigi hitam seperti besi berkarat.

“Kau datang juga,” katanya—suara Ifrit.

Tanah di bawah kaki Raka terasa panas. Retak-retak kecil memancarkan cahaya merah dari dalam bumi.
Angin berhenti. Dunia seperti ditarik ke satu titik: makhluk itu.

“Janji api sudah terucap saat kau menjawab salamku di wilayahku,” Ifrit mendekat.
“Setiap langkahmu di dunia manusia… akan selalu bersamaku.”

Raka terjatuh. Tangan Ifrit menyentuh dadanya.
Seketika, penglihatan Raka pecah menjadi kilatan neraka:
api menjilat langit, jeritan tanpa suara, bayangan manusia terbakar sambil merangkak memohon ampun.

Raka menjerit.
Api merambat di kulitnya—tidak membakar daging, tapi membakar rasa takutnya.
Ia tak bisa pingsan. Ia dipaksa merasakan semuanya.


Keesokan harinya, warga desa geger.
Seorang pemuda ditemukan tewas di kebun karet. Tubuhnya hangus sebagian—seperti disiram api, tapi tak ada bekas bensin atau petir.

Raka berdiri di antara kerumunan.
Ia mengenali pemuda itu.
Orang terakhir yang berjalan bersamanya semalam.

Tiba-tiba, Raka merasakan panas di telapak tangannya.
Ada bekas seperti cap jari terbakar—lima titik kecil membentuk lingkaran.

Bisikan itu kembali:

“Satu telah diambil… sebagai pengganti waktumu.”

Raka sadar.
Ifrit tidak hanya mengikutinya.
Makhluk itu meminta tumbal untuk memperpanjang terornya.


Raka kembali ke Mbah Wiryo dengan tubuh gemetar.
Wajah Mbah Wiryo pucat pasi saat melihat cap di tangan Raka.

“Itu tanda perjanjian api,” katanya lirih.
“Kalau tidak diputus… korban akan terus berjatuhan. Dan pada akhirnya… kamu yang akan diambil sepenuhnya.”

“Apa caranya, Mbah?!”
“Harus ada yang berani masuk ke wilayah Ifrit dan memutus ikatan di sumbernya. Tapi yang masuk… biasanya tidak kembali sebagai manusia.”

Raka menelan ludah.
Kebun karet tua itu bukan sekadar tempat terlarang.
Itu gerbang tipis antara dunia manusia dan alam jin.

Di kejauhan, angin membawa suara tawa yang familiar.
Lebih dekat.
Lebih lapar.

“Cepatlah memilih, Raka…”
“Atau api akan memilih untukmu.”


Hujan turun seperti jerit langit yang koyak. Malam itu, Raka berdiri di tepi kebun karet—gerbang tipis antara dunia manusia dan alam jin. Tanah di depannya menghitam, retak-retak kecil memancarkan cahaya merah redup, seolah bara menyala di bawah permukaan bumi.

Mbah Wiryo berdiri di belakangnya, gemetar.
“Kalau kamu melangkah masuk… jangan pernah menoleh ke belakang. Apa pun yang memanggil namamu—itu bukan manusia.”

Raka mengangguk. Dadanya sesak.
Bisikan Ifrit menari di telinganya:

“Datanglah… perjanjianku menunggumu.”

Raka melangkah.

*** GERBANG API ***

Udara di dalam kebun berubah panas.
Pohon-pohon tampak memanjang, batangnya berdenyut seperti urat nadi raksasa. Tanah lembek seperti daging basah. Setiap langkah meninggalkan bekas asap.

Di tengah kebun, api biru menyala membentuk lingkaran.
Dari api itu, Ifrit muncul—tinggi menjulang, tubuhnya seperti arang bernyala, mata merah menyala lapar.

“Kau membawa jiwamu sendiri ke altar,” katanya.
“Tukar-menukar itu indah.”

Raka berlutut. Tangannya gemetar memegang jimat pemberian Mbah Wiryo.
“Ambil aku… tapi hentikan terormu pada desa.”

Ifrit tertawa. Tertawanya membuat tanah bergetar.

“Kesepakatan,” bisiknya.
Api menyambar, menelan tubuh Raka.
Rasa panas itu bukan membakar daging—ia membakar ingatan.
Nama ibunya, wajah sahabatnya, tawa masa kecil—semuanya terkelupas satu per satu.

Di tengah nyeri yang tak bisa dijeritkan, Raka melihat bayangannya sendiri berdiri di hadapannya…
tersenyum.

*** PERTUKARAN ***

Pagi datang.
Warga desa menemukan Raka tergeletak di tepi kebun. Tubuhnya utuh, tak ada luka bakar. Napasnya ada—pelan, teratur.

Ia membuka mata.

Mbah Wiryo menangis lega.
“Kamu kembali, Nak…”

Raka bangkit perlahan.
Tatapannya kosong… tapi tenang. Terlalu tenang.
Ia tersenyum kecil. Senyum yang terasa… asing.

Sejak hari itu, teror di desa berhenti.
Tak ada lagi bau belerang.
Tak ada lagi korban hangus.

Raka kembali hidup normal.
Terlalu normal.

*** KEGANJILAN ***

Ibunya mulai merasa ada yang salah.
Raka tak lagi mengucap salam saat masuk rumah.
Ia duduk lama menatap api kompor, matanya berkilat aneh.
Kadang, ia tersenyum saat melihat bara rokok menyala—seolah rindu.

Suatu malam, ibunya terbangun oleh suara bisikan di dapur.
Ia mengintip.

Raka berdiri di depan kompor yang menyala, berbisik pada api:

“Tenang… aku sudah di sini.”

Api kompor membesar sesaat.
Seperti… menjawab.

Ibunya menjerit.
Raka menoleh.
Di matanya, pantulan api menari.


Mbah Wiryo datang tergesa. Wajahnya pucat pasi.
“Aku salah… yang kembali bukan sepenuhnya Raka.”

Ibunya menangis.
“Lalu… siapa dia?”

Mbah Wiryo menunduk.
“Tubuh Raka kembali. Tapi sebagian jiwanya tertinggal di alam Ifrit. Yang pulang… membawa percikan api makhluk itu.”

Seolah mendengar namanya, Raka berdiri di ambang pintu.
Senyumnya tipis.
“Bukankah yang penting desa ini selamat?”

Angin panas berembus dari tubuhnya.
Lampu berkedip. Api lilin di meja bergoyang liar.


Malam itu, saat semua tertidur, Raka melangkah keluar rumah.
Langkahnya tenang.
Di kebun karet, api biru kembali menyala kecil—seperti mata yang terbangun.

Dari kegelapan, suara Ifrit berbisik:

“Selamat datang kembali… penjagaku.”

Raka tersenyum.
Dan api menyala lebih terang.

😈😈 TAMAT ðŸ˜ˆðŸ˜ˆ

Teror lama berhenti.
Teror baru dimulai… lewat manusia yang kembali membawa api



LINK TERPERCAYA SAAT INI

👉 SUARITOTO

👉 SUARITOTO

👉 DAFTAR SUARITOTO




👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND



Tidak ada komentar:

Posting Komentar