Jumat, 20 Februari 2026

MISTERI POHON BERINGIN TUA


 

 MISTERI POHON BERINGIN TUA


@SUARITOTO - Di sebuah desa kecil di pinggiran hutan Kalimantan Barat, berdiri sebuah pohon beringin tua yang usianya diperkirakan sudah ratusan tahun. Batangnya besar, akarnya menjuntai seperti ular-ular raksasa yang mencengkeram tanah. Warga setempat menyebutnya “Beringin Penunggu”.


Tak ada satu pun warga yang berani mendekat saat malam tiba.


Konon, di bawah pohon itu dulu pernah terjadi pembantaian saat masa penjajahan. Banyak orang dibunuh, digantung, bahkan dikubur di sekitar akarnya. Sejak saat itu, tempat tersebut dipercaya menjadi rumah makhluk gaib.


 *** Kejadian Aneh di Malam Jumat Kliwon ***


Tahun 2019, seorang pemuda bernama Arif merantau ke desa itu untuk bekerja sebagai sopir logistik. Ia tak percaya cerita mistis. Baginya, semua itu cuma mitos kampung.


Suatu malam Jumat Kliwon, truk Arif mogok tepat di jalan kecil dekat pohon beringin tua itu.


Mesin mati total. Sinyal hilang. Langit mendung gelap, angin berhembus dingin.


Arif turun dari truk untuk mengecek mesin.


Saat itulah ia mendengar suara tangisan perempuan dari arah pohon.


Awalnya samar. Lalu semakin jelas.


“Tolong… pulangkan aku…”


Arif merinding. Ia menoleh ke arah pohon beringin tua. Di sela akar gantung, tampak sosok perempuan berbaju putih kusam, rambutnya panjang menutupi wajah. Kakinya… tidak menyentuh tanah.


*** Yang Mendekat Tak Pernah Kembali Sama ***


Arif mundur ketakutan. Tapi anehnya, tubuhnya terasa berat. Kakinya seperti ditarik ke arah pohon itu.


Suara perempuan berubah menjadi tawa lirih.

Angin berputar kencang. Daun beringin bergesekan mengeluarkan suara seperti bisikan banyak orang.


Tiba-tiba dari balik batang pohon muncul sosok hitam tinggi besar, matanya merah menyala.


Arif terjatuh. Nafasnya sesak. Ia merasa ada yang duduk di dadanya.


“Kau sudah datang… jangan pergi…”

bisik suara berat di telinganya.


Dalam kondisi setengah pingsan, Arif membaca doa seingatnya. Air matanya menetes. Tubuhnya gemetar hebat.


***  Ditemukan Pingsan, Rambut Memutih ***


Pagi harinya, warga menemukan Arif pingsan di pinggir jalan dekat pohon beringin. Wajahnya pucat, bibirnya membiru.


Yang bikin geger…

sebagian rambut Arif berubah putih dalam semalam.


Saat sadar, Arif menangis histeris. Ia bilang melihat banyak bayangan berdiri di sekitar pohon. Ada yang tanpa kepala. Ada yang tergantung di akar. Ada yang merangkak keluar dari tanah.


Sejak malam itu, Arif tak pernah mau melewati jalan tersebut lagi. Ia memilih memutar jauh meski harus menghabiskan bensin lebih banyak.


⚠️ Larangan Warga yang Kini Dipercaya ⚠️


Setelah kejadian Arif, warga semakin yakin:


❌ Jangan melintas sendirian di malam hari

❌ Jangan menatap pohon terlalu lama

❌ Jangan bersiul atau berkata kasar di dekatnya

❌ Jangan mematahkan ranting beringin


Konon, orang yang melanggar akan “diikuti” pulang oleh penunggu pohon.


Beberapa warga mengaku sering melihat bayangan hitam duduk di atap rumah, atau mendengar suara langkah kaki di malam hari, padahal tidak ada siapa pun.



Pohon beringin itu masih berdiri sampai sekarang. Tak pernah ditebang. Tak pernah disentuh.


Setiap malam Jumat Kliwon, warga melihat api kecil berwarna biru muncul di sekitar akar.


Dan sampai hari ini…

tidak ada yang berani memastikan

berapa banyak yang “tinggal” di bawah pohon itu.

'' PENUNGGU YANG MENGIKUTI PULANG ''

Sejak kejadian pingsannya Arif di dekat pohon beringin tua, desa kembali tenang—setidaknya di permukaan. Warga mengira teror itu berhenti di sana. Tapi mereka salah besar.

Karena penunggu tidak berhenti di pohon itu saja.
Ia… mengikuti pulang.


Malam pertama setelah Arif pulang dari puskesmas, ia tak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia merasa ada yang berdiri di sudut kamar, menatapnya.

Jam dinding berdetak pelan.
Tik… tok… tik… tok…

Tiba-tiba suara itu berhenti.

Dalam keheningan, Arif mendengar suara gesekan kuku di tembok kayu kamarnya. Perlahan. Panjang. Seolah ada sesuatu yang meraba-raba mencari celah masuk.

Ia membuka mata.

Di dinding, muncul bekas goresan hitam, seperti bekas kuku panjang yang baru saja ditarik.

Arif menutup mulutnya menahan teriakan. Dadanya sesak. Bau tanah basah tercium kuat—bau yang sama seperti di bawah pohon beringin.

“Kau membawaku pulang…”
bisik suara perempuan, tepat di dekat telinganya.


Keesokan harinya, Arif melihat ibunya duduk di dapur, membelakanginya. Rambutnya terurai panjang—aneh, karena ibunya selalu mengikat rambut.

“Mak?” panggil Arif pelan.

Perempuan itu menoleh perlahan.

Wajahnya… kosong.
Matanya hitam legam, mulutnya tersenyum terlalu lebar.

Arif terjatuh ke belakang. Saat ia berkedip, sosok itu menghilang. Dapurnya kosong. Tak ada siapa-siapa.

Ibunya ternyata sedang di luar rumah menjemur pakaian.

Sejak saat itu, Arif tak bisa membedakan mana yang nyata, mana yang meniru.


Teror tak hanya menghantui Arif.

Seorang tetangga, Pak Rujak, ditemukan duduk mematung di teras rumahnya menjelang subuh. Matanya terbuka, menatap kosong ke arah pohon beringin di kejauhan.

Mulutnya berbisik tanpa suara.

Semalaman ia mengaku didatangi “orang-orang tanpa wajah” yang memintanya menunjukkan jalan pulang ke akar beringin. Sejak hari itu, Pak Rujak tidak pernah benar-benar waras lagi. Ia sering berjalan sendiri ke arah hutan, dipanggil oleh sesuatu yang hanya ia dengar.

Beberapa hari kemudian, seekor kambing tetangga ditemukan mati dengan jejak tanah di sekeliling kandang—seolah ada sesuatu yang keluar dari bawah tanah.

Tak ada luka jelas. Tapi wajah kambing itu membeku dalam ekspresi ketakutan.

Warga mulai sadar:
penunggu pohon telah menempel pada Arif—dan menyebar.


Seorang dukun tua dipanggil. Malam itu, warga berkumpul di rumah Arif. Dupa dibakar. Doa dilantunkan. Air garam dipercikkan ke setiap sudut rumah.

Angin mendadak berputar kencang.

Api lilin berwarna biru.

Dari sudut kamar, terdengar tawa perempuan. Lalu tawa lain. Dan lain lagi. Seolah banyak suara menumpuk jadi satu.

Dukun tua itu gemetar.

“Yang ikut pulang bukan satu…
kau membawa rombongan.”

Tiba-tiba Arif menjerit. Tubuhnya kaku. Matanya terbelalak. Suaranya berubah berat, bukan lagi suaranya sendiri:

“Pohon itu lapar…
kami ingin pulang ke akar…”

Lampu padam.

Dalam gelap, warga mendengar langkah kaki berlarian di dalam rumah, padahal tak ada yang bergerak.

Saat lampu menyala kembali, dukun tua itu sudah terjatuh pingsan. Di leher Arif, muncul bekas tanah basah, seolah ada tangan kotor baru saja mencengkeramnya.



Sejak malam ritual itu gagal, Arif tak pernah benar-benar pulih. Kadang ia berbicara dengan seseorang yang tak terlihat. Kadang ia berdiri lama menatap arah hutan, tersenyum tipis.

Warga percaya, penunggu masih menumpang di tubuhnya.
Menunggu waktu yang tepat…
untuk mengajaknya pulang ke bawah akar beringin.

Dan yang lebih mengerikan:

Beberapa anak desa mulai bermimpi tentang pohon beringin yang memanggil nama mereka satu per satu.

YANG PULANG BUKAN LAGI ARIF

Sejak ritual gagal itu, Arif jarang terlihat di siang hari. Ia hanya keluar menjelang magrib, berdiri di depan rumah, menatap lurus ke arah hutan. Senyumnya tipis. Terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya ketakutan.

Ibunya sering memanggil,
tapi Arif tak menjawab.

Ia hanya mengangguk…
seperti boneka yang digerakkan dari dalam.

 Malam Ia “Pulang”

Pada suatu malam hujan deras, Arif menghilang.

Warga menemukannya menjelang subuh di tepi jalan dekat pohon beringin tua—tempat ia pertama kali pingsan. Tubuhnya basah lumpur. Pakaiannya penuh tanah. Kuku-kukunya hitam, seolah baru saja menggali tanah.

Yang membuat semua orang terpaku:

Arif tersenyum.

Bukan senyum lega.
Bukan senyum takut.

Senyum orang yang akhirnya sampai di rumah.

Saat dibawa pulang, Arif tidak bicara sepatah kata pun. Tapi matanya… menatap setiap orang seperti sedang menghitung.

Yang Berubah Bukan Hanya Sikap

Sejak malam itu, Arif:

Tak lagi menyukai makanan matang.
Ia lebih sering mencium bau tanah di halaman belakang.

Tak mau tidur di kamar.
Ia duduk di lantai, menghadap sudut gelap.

Saat diajak bicara, jawabannya pendek, datar…
dengan nada yang bukan miliknya.

Ibunya menangis setiap malam.
“Arifku bukan yang ini…” katanya.

Suatu malam, ibunya terbangun karena mendengar Arif berbicara pelan di dapur.

Ia mengintip dari celah pintu.

Arif sedang duduk di lantai…
menghadap tembok kosong.

“Tenang… satu per satu…
semua akan pulang ke akar…”

Suaranya bercampur dengan bisikan lain.
Banyak.
Berlapis.
Bukan suara manusia.

 Rahasia di Bawah Akar

Warga akhirnya nekat menggali tanah di sekitar pohon beringin, dipimpin beberapa orang tua desa. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya “tinggal” di sana.

Tak sampai satu meter, cangkul membentur sesuatu.

Bukan batu.

Tulang.

Mereka menemukan tumpukan tulang manusia—tua, rapuh, sebagian masih mengenakan sisa kain lusuh. Ada tengkorak dengan bekas lubang di dahi. Ada tulang leher yang patah. Ada yang masih tergantung potongan tali.

Tiba-tiba, angin dingin berhembus kencang.
Daun beringin bergemuruh.

Dari kejauhan, terlihat Arif berdiri mematung di tepi hutan.

Ia menatap lubang galian itu…
dan tersenyum lebih lebar.

“Kalian membangunkan kami…”

Tanah di sekitar akar bergetar pelan.

Seolah…
ada sesuatu yang bergerak dari bawah.

 Pengakuan yang Menghancurkan

Saat dibawa pulang, Arif akhirnya berbicara jelas.
Namun… bukan sebagai Arif.

“Arif sudah pulang.
Tapi tubuhnya kami pinjam.
Kami yang mati di sini…
tak pernah benar-benar pergi.”

Ibunya menjerit histeris.

“Kami menunggu orang yang cukup kosong…
cukup takut…
untuk menampung kami.”

Arif menoleh ke arah warga satu per satu.

“Sekarang…
kami tahu jalan pulang ke rumah kalian.”

Lampu di rumah Arif padam bersamaan.
Dalam gelap, terdengar suara langkah kaki di luar—bukan satu, bukan dua—
tapi banyak.

Seolah sesuatu keluar dari hutan…
mengikuti Arif pulang.

 Akhir yang Tak Pernah Benar-Benar Usai

Pagi harinya, rumah Arif kosong.

Tak ada Arif.
Tak ada ibunya.

Hanya jejak tanah basah menuju arah hutan.
Dan di depan pintu rumah, tertulis dengan tanah:

“PULANG KE AKAR.”

Sejak itu, beberapa warga menghilang satu per satu.
Ada yang mengaku melihat orang yang sudah lama mati
berdiri di depan rumah mereka…
memanggil dengan suara orang terdekat.

Pohon beringin tua masih berdiri.
Lebih rimbun.
Lebih gelap.

Dan orang-orang bersumpah…
kadang terlihat wajah Arif di sela-sela akar,
tersenyum,
menyambut siapa pun yang tersesat di malam hari.

🩶 TAMAT



LINK TERPERCAYA SAAT INI

👉 SUARITOTO

👉 SUARITOTO

👉 DAFTAR SUARITOTO




👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND








Tidak ada komentar:

Posting Komentar