@SUARITOTO - Angin sore berhembus pelan ketika Damar turun dari motor tuanya. Di depannya, hamparan sawah Desa Suka Maju tampak tenang, terlalu tenang. Di ujung jalan tanah yang memanjang, samar-samar terlihat gugusan rumah tua yang berdiri rapat. Orang-orang menyebutnya Kampung Ujung.
Tak ada papan nama. Tak ada jalan beraspal. Hanya satu jalur sempit yang seperti sengaja disembunyikan oleh rumpun bambu dan pohon pisang liar.
Damar kembali ke desa itu setelah sepuluh tahun merantau. Ia datang bukan untuk nostalgia, melainkan untuk menjual rumah warisan almarhum ibunya. Namun sejak kecil, ada satu larangan yang selalu ia ingat.
“Jangan pernah ke kampung di ujung desa. Jangan sekalipun,” kata ibunya dulu.
Waktu kecil, Damar mengira itu hanya cerita untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak bermain terlalu jauh. Tapi sekarang, setelah ibunya meninggal dan ia kembali, suasana itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang tak pernah ia pahami.
Cerita yang Tak Pernah Selesai
Di warung kopi dekat balai desa, Damar mencoba bertanya.
“Pak, memangnya kenapa kampung itu ditinggalkan?” tanyanya pelan.
Pak Lurah terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Bukan ditinggalkan… mereka pindah.”
“Pindah ke mana?”
Tak ada jawaban. Hanya tatapan kosong.
Seorang lelaki tua yang duduk di pojok warung ikut bersuara. “Dulu itu kampung ramai. Ada belasan keluarga. Tapi setelah kejadian sumur mengering… semuanya berubah.”
“Sumur mengering?”
“Iya. Airnya tiba-tiba hitam. Bau besi. Sejak itu, orang-orang sering sakit. Katanya cuma keracunan air. Tapi yang aneh… setiap malam terdengar suara orang menimba air, padahal sumurnya sudah ditutup.”
Warung mendadak hening.
Damar mencoba tertawa kecil, tapi tak ada yang ikut tersenyum.
Rumah yang Masih Berisi
Rasa penasaran mengalahkan ketakutan. Sore itu, Damar berjalan menyusuri jalan tanah menuju Kampung Ujung. Semakin dekat, udara terasa lebih dingin meski matahari masih tinggi.
Rumah-rumah kayu berdiri berderet. Pintu sebagian terbuka. Jendela berdebu. Namun tidak sepenuhnya kosong.
Di salah satu rumah, ia melihat kursi kayu yang masih tersusun rapi. Di dapur, ada tungku tua dengan arang yang menghitam seperti terakhir dipakai kemarin. Di dinding, kalender tahun 2003 masih tergantung, berhenti di bulan November.
Terlalu mendadak untuk sebuah kepindahan.
Lalu Damar mendengar sesuatu.
Krek… krek…
Seperti suara tali yang ditarik dari dalam sumur.
Ia menoleh. Di tengah kampung, memang ada sumur tua yang sudah ditutup papan kayu lapuk. Tapi suara itu jelas berasal dari sana.
Langkahnya mendekat tanpa sadar.
Krek… krek… krek…
Suara timba digeser.
Padahal tak ada siapa pun.
Logika yang Retak
Damar mencoba berpikir rasional. Mungkin angin. Mungkin papan kayu yang bergeser. Ia mendekat dan menginjak papan penutup sumur.
Tiba-tiba suara itu berhenti.
Sunyi.
Hanya detak jantungnya sendiri yang terdengar.
Ia menunduk. Di sela papan, terlihat gelap pekat. Terlalu pekat. Seolah bukan lubang biasa, melainkan ruang tanpa dasar.
Lalu terdengar suara pelan dari bawah.
“Airnya… sudah penuh…”
Tubuh Damar membeku.
Suara itu bukan gema. Bukan halusinasi. Itu seperti suara seseorang berbicara dari kedalaman.
Ia mundur perlahan. Namun tiba-tiba papan kayu di bawah kakinya retak.
KRAK!
Salah satu papan patah, dan dari celah itu muncul tangan hitam penuh lumpur mencengkeram pergelangan kakinya.
Dingin. Licin. Kuat.
Damar menjerit dan menendang sekuat tenaga. Pegangan itu lepas. Ia jatuh terduduk dan merangkak menjauh.
Saat ia menoleh lagi, tak ada apa-apa. Sumur tertutup rapat seperti semula. Sunyi.
Kebenaran yang Disembunyikan
Malam itu Damar kembali ke rumah ibunya dengan tubuh gemetar. Ia membuka lemari lama dan menemukan buku harian ibunya.
Di halaman terakhir tertulis:
"Kami tidak pernah pindah. Kami hanya tidak diizinkan pergi."
"Air sumur itu bukan mengering. Ia menelan."
"Setiap orang yang mencoba meninggalkan kampung, kembali lagi dalam mimpi orang-orang desa."
Damar membaca dengan tangan bergetar.
Ibunya pernah tinggal di Kampung Ujung.
Dan ia adalah satu-satunya yang berhasil keluar.
Tapi ada kalimat terakhir yang membuat napasnya tercekat.
"Jika suatu hari kamu kembali ke desa… jangan dekati sumur itu. Mereka tahu darah siapa yang kembali."
Akhir yang Terbuka
Tengah malam, Damar terbangun karena suara yang sama.
Krek… krek… krek…
Bukan dari jauh.
Tapi dari halaman rumahnya sendiri.
Ia berjalan perlahan menuju jendela.
Di sana, di bawah cahaya bulan, berdiri belasan sosok basah berlumpur. Wajah mereka pucat, mata kosong, pakaian seperti orang-orang desa zaman dulu.
Dan di tengah mereka, ada ibunya.
Perlahan, mereka menunjuk ke arah ujung desa.
Suara itu terdengar lagi.
“Airnya sudah penuh… sekarang giliranmu.”
Lampu rumah padam.
Dan keesokan paginya, warga Desa Suka Maju menemukan motor tua Damar masih terparkir di depan rumah.
Tapi Damar… tak pernah terlihat lagi.
Sejak hari itu, jika malam terlalu sunyi di Desa Suka Maju, orang-orang mengaku mendengar suara timba ditarik dari kejauhan.
Dan kadang, ada suara baru yang ikut menimba.
LINK TERPERCAYA SAAT INI
👉 SUARITOTO👉 SUARITOTO👉 DAFTAR SUARITOTO👉 RTP SLOT TERPERCAYA👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND
Tidak ada komentar:
Posting Komentar