@SUARITOTO - Hujan turun tipis malam itu, menyelimuti terminal kecil di pinggiran kota dengan kabut dingin. Jam dinding di ruang tunggu menunjuk pukul 23.47. Terminal sudah hampir kosong. Hanya beberapa pedagang yang berkemas, lampu-lampu neon berkedip, dan suara serangga malam yang bersahutan.
Raka berdiri sendirian sambil menggenggam ransel. Bus terakhir menuju desanya seharusnya berangkat pukul 22.00. Ia terlambat karena lembur. Ponselnya mati kehabisan baterai. Saat harapan mulai padam, terdengar suara mesin tua meraung dari kejauhan.
Sebuah bus muncul dari balik kabut.
Bus itu aneh. Catnya kusam, sebagian terkelupas, namun terlihat terlalu bersih—seperti baru dicuci, tapi berbau tanah basah. Lampu depannya redup kekuningan. Di kaca depan tertulis rute dengan huruf pudar:
Jantung Raka berdetak lebih cepat. Desa Sukamati adalah tujuan yang tepat. Aneh… rute itu sudah lama ditutup sejak kecelakaan besar di jalur hutan lima tahun lalu.
Pintu bus berdecit terbuka.
“Naik, Nak… masih ada kursi kosong,” ujar sopirnya dengan suara berat.
Wajah sopir itu tertutup bayangan topi. Matanya tidak jelas terlihat. Raka ragu sesaat, tapi hujan makin deras. Ia naik.
Di dalam bus, udara terasa dingin menusuk. Penumpang hanya beberapa orang. Mereka duduk diam, menatap lurus ke depan. Wajah-wajah mereka pucat, seperti tidak pernah tersentuh matahari. Seorang ibu menggendong bayi yang… tidak bergerak sama sekali. Seorang kakek memegang tas kain yang meneteskan air berwarna gelap ke lantai.
Raka memilih duduk di tengah. Saat bus melaju, suara mesin terdengar seperti erangan panjang.
Perjalanan terasa sunyi. Tidak ada suara obrolan, tidak ada dering ponsel, bahkan suara hujan di atap bus pun terdengar teredam, seolah bus ini melaju di ruang hampa.
Lampu kabin berkedip.
Raka memperhatikan satu hal yang membuat tengkuknya meremang:
bayangan penumpang di jendela tidak bergerak selaras dengan tubuh mereka.
Seorang pria di depan Raka mengangkat tangan untuk memegang pegangan. Namun bayangannya di jendela tetap diam, seperti patung.
“Mas… ini bus ke Desa Sukamati, ya?” tanya Raka pelan.
Pria itu perlahan menoleh. Senyumnya terlalu lebar. Matanya kosong, seperti lubang gelap.
“Kita semua… pulang,” jawabnya lirih.
Bus mulai memasuki jalan hutan. Pohon-pohon menjulang rapat. Kabut menebal. Raka teringat cerita lama: bus yang terguling di tikungan maut, menewaskan seluruh penumpang. Sejak itu, jalur ditutup.
Lampu depan bus tiba-tiba menyorot sesuatu di jalan.
Salib kayu.
Puluhan.
Berjejer di pinggir jalan.
Nisan-nisan kecil tanpa nama.
Raka menelan ludah. Ia berdiri, berjalan ke arah sopir. “Pak, ini jalur lama… bukannya jalan ini sudah ditutup?”
Sopir tertawa kecil. Suaranya serak, seperti gesekan batu.
“Ditutup untuk yang hidup.”
Saat itu, Raka melihat wajah sopir di cermin kecil di atas kemudi.
Wajahnya hancur.
Separuh pipinya seperti meleleh. Matanya kosong, dengan bekas darah kering di sudut bibir.
Raka mundur terhuyung. Penumpang lain mulai menoleh ke arahnya serempak. Leher mereka bergerak kaku, bunyinya seperti ranting patah.
“Turunkan saya! Tolong turunkan saya sekarang!” teriak Raka.
Bus berhenti mendadak di tengah hutan.
Pintu terbuka dengan suara nyaring.
“Turunlah,” kata sopir itu. “Kau… belum waktunya bersama kami.”
Raka melompat turun. Begitu kakinya menyentuh tanah, bus langsung melaju kencang, menghilang ditelan kabut.
Hutan kembali sunyi.
Raka berlari tanpa arah hingga jatuh pingsan.
'' Keesokan Harinya ''
Raka terbangun di tepi jalan, ditemukan warga yang hendak ke ladang. Mereka membawanya ke desa.
Saat Raka menceritakan bus yang ia naiki, wajah para warga memucat.
“Bus itu… muncul setiap malam Jumat,” kata seorang tetua desa.
“Isinya arwah korban kecelakaan. Mereka mengulang perjalanan terakhirnya.”
Raka gemetar. “Tapi… sopirnya bilang saya belum waktunya.”
Tetua desa menatapnya lama.
“Karena seharusnya… kamu ikut mati lima tahun lalu.”
Raka terdiam.
Tetua desa mengeluarkan foto lama: foto kecelakaan bus di jalur hutan.
Di foto itu…
terlihat seorang remaja tergeletak di tanah.
Wajahnya sama persis dengan Raka.
👁️ Epilog – Yang Tak Terlihat 👁️
Sejak malam itu, setiap jam 23.47, Raka selalu mendengar suara mesin tua di telinganya.
Kadang, saat bercermin…
bayangannya di kaca terlambat bergerak.
Dan di mimpi buruknya, sopir bus itu selalu berbisik:
“Kami menunggumu pulang…”
LINK TERPERCAYA SAAT INI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar