Senin, 09 Februari 2026

MISTERI PESUGIHAN GUNDURUO

 


PESUGIHAN GUNDURUO


@SUARITOTO -Tidak semua kekayaan datang dari kerja keras.

Ada harta yang lahir dari jeritan, dari doa yang salah alamat, dan dari perjanjian yang ditulis dengan darah.

Di kaki Gunung Gunduruo, orang-orang belajar satu hal:

keinginan yang terlalu besar akan selalu meminta bayaran yang lebih besar pula.


 *** Perjanjian Darah di Balik Gunung Tua ***


** Rumah di Tepi Jurang **


Hujan turun tanpa jeda sejak sore. Langit di Desa Wanasari menghitam seperti dilumuri jelaga. Petir menyambar gunung di kejauhan, gunung tua yang oleh warga disebut Gunung Gunduruo—tempat terlarang yang tak pernah lagi disebut namanya dengan suara keras.


Raka berdiri di teras rumah kayu peninggalan orang tuanya. Atap bocor, lantai berdecit, dan bau lembap menyesakkan dada. Sudah tiga bulan ia pulang ke desa itu setelah bangkrut di kota. Usahanya ditipu rekan sendiri. Hutang menumpuk. Istrinya pergi. Dunia serasa runtuh.


“Mas… kita bisa jual rumah ini,” ucap Sari pelan, adik Raka, dari balik pintu.

Raka tertawa getir. “Siapa yang mau beli rumah di pinggir jurang, dekat gunung terkutuk itu?”


Angin menderu, membuat lampu minyak di ruang tengah berkedip. Dari kejauhan terdengar suara gendang ditabuh pelan, entah dari mana. Bukan suara hajatan. Irama itu terlalu teratur, terlalu… kuno.


Malam itu, Raka bermimpi.


Ia berdiri di sebuah gua batu. Dindingnya basah, berlumut, dan di tengah gua ada sesajen darah: ayam hitam, koin-koin kuno, dan kain merah kusam. Dari kegelapan, muncul sosok tinggi berkulit pucat keabu-abuan, mata hitam tanpa putih mata. Mulutnya merekah, memperlihatkan gigi runcing.


“Aku Gunduruo,” bisik suara itu.

“Kau datang karena lapar harta.”

Raka terbangun dengan keringat dingin. Bau besi seperti darah masih menempel di hidungnya.


** Larangan yang Terlupakan **


Keesokan harinya, Raka menemui Mbah Karto, sesepuh desa yang tinggal sendirian di gubuk bambu. Mata Mbah Karto sayu, tapi tatapannya tajam.


“Kau bermimpi gua?” tanya Mbah Karto tiba-tiba.

Raka terperanjat. “Mbah tahu?”


Mbah Karto menghela napas.

“Gunung Gunduruo bukan sekadar gunung. Dulu, orang-orang datang membawa darah, minta kekayaan. Mereka dapat emas, sawah luas, ternak banyak. Tapi setiap janji… ada bayaran.”


“Bayaran apa?”

“Nyawa. Satu per satu. Kadang anak, kadang istri. Kadang… dirinya sendiri.”


Raka menelan ludah.

“Kalau berhenti di tengah jalan?”

“Tidak ada berhenti. Perjanjian darah tidak mengenal pulang.”


Sore itu, Raka pulang dengan kepala penuh bisikan. Saat melewati tepi jurang, ia melihat kilatan emas di sela bebatuan. Ia mengucek mata. Kilatan itu lenyap. Tapi dari balik pepohonan, terdengar tawa lirih—tertahan, parau.


** Jejak Menuju Gua **


Malam berikutnya, Sari demam tinggi. Obat habis. Raka tak punya uang. Hujan kembali turun. Dalam keputusasaan, bisikan itu datang lagi—lebih jelas.


“Datanglah.”


Raka membawa senter dan parang tua. Ia melangkah menyusuri jalur sempit ke arah Gunung Gunduruo. Setiap langkah, suara gendang semakin dekat. Kabut turun, membuat pepohonan tampak seperti barisan manusia tanpa wajah.


Ia menemukan mulut gua. Di depannya tergeletak kain merah yang sama seperti di mimpinya. Bau amis menyengat.


“Sudah lama tak ada yang berani datang,” kata suara dari dalam.

Raka masuk, lututnya gemetar.


Di dalam gua, Gunduruo menunggu. Sosoknya kini lebih jelas: kulitnya seperti tanah kubur, rambutnya menjuntai basah, kuku-kukunya panjang melengkung. Di belakangnya, bayangan-bayangan manusia berdiri mematung—wajah mereka kosong.


“Apa yang kau inginkan?”

“Uang… untuk menyelamatkan adikku,” jawab Raka, nyaris menangis.


Gunduruo tersenyum.

“Ambil ini.”


Dari tanah, muncul peti kecil berisi koin emas tua. Berat. Berkilau redup.

“Sebagai gantinya?” tanya Raka.


“Setiap purnama, kau akan membawa satu tetes darah dari orang yang paling kau sayangi.”

Raka membeku.

“Jika kau gagal… aku akan datang menagih.”


** Kekayaan yang Busuk **


Sejak malam itu, hidup Raka berubah. Ia menjual koin emas, membuka usaha kecil, lalu berkembang pesat. Hutang lunas. Rumah diperbaiki. Orang-orang desa mulai memandangnya dengan iri.


Tapi setiap purnama, Gunduruo datang dalam mimpi.

“Darah.”


Pertama, Raka melukai jarinya sendiri. Gunduruo tertawa.

“Itu bukan yang paling kau sayangi.”


Kedua, Raka memaksa Sari mengorbankan setetes darah, berdalih untuk “ritual keselamatan.” Sari menjerit, tapi menuruti. Malam itu, Sari bermimpi dikejar bayangan tanpa wajah.


Ketiga, Gunduruo datang bukan lewat mimpi. Sosok itu berdiri di sudut kamar, basah oleh embun malam.


“Kurang,” bisiknya.

Lampu mati. Bau tanah kubur memenuhi ruangan.


Sejak itu, kejadian aneh mulai terjadi. Ayam mati tanpa kepala. Bayi tetangga menangis tiap tengah malam menatap rumah Raka. Di sumur belakang, kadang terdengar suara orang memanggil nama Raka dari dalam air.


** Harga yang Sebenarnya ** 


Suatu malam, Sari menghilang. Di meja dapur, tertinggal kain merah bernoda darah. Raka berlari ke gunung. Hujan turun deras, seolah langit ingin menenggelamkan dosa-dosanya.


Di gua, ia melihat Sari berdiri kaku, matanya kosong. Gunduruo di belakangnya.


“Bayaranmu tertunggak,” kata Gunduruo.

“Ambil aku saja!” teriak Raka.


Gunduruo tertawa panjang.

“Perjanjian darah tidak bisa diubah. Tapi kau bisa mengganti korban… dengan jiwamu sendiri.”


Bayangan-bayangan manusia di dinding bergerak mendekat. Raka berlutut, menangis, menyesali keserakahannya. Ia ingat wajah orang tuanya, mimpi kecilnya dulu.


“Aku siap,” katanya.


Gunduruo mengangkat tangan.

Tiba-tiba, terdengar lantunan doa dari luar gua. Mbah Karto muncul, membawa asap kemenyan dan tasbih tua. Cahaya temaram memotong kegelapan.


“Tidak semua perjanjian iblis abadi,” kata Mbah Karto.

Ia melempar segenggam garam dan bunga ke arah Gunduruo. Sosok itu meraung, dinding gua bergetar. Bayangan-bayangan menjerit, terhisap kembali ke dinding.


“Lari!” teriak Mbah Karto.


Raka menarik Sari keluar. Gua runtuh di belakang mereka. Gunung Gunduruo mengaum, seperti makhluk yang terluka.


** Bekas yang Tak Pernah Hilang (Penutup) **


Desa Wanasari kembali sunyi. Kekayaan Raka menghilang seiring runtuhnya gua. Usahanya bangkrut. Rumah kembali sederhana. Tapi Sari selamat.


Raka hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah. Setiap purnama, ia masih mendengar gendang dari kejauhan. Kadang, di kaca jendela, ia melihat bayangan tinggi berdiri di belakangnya… lalu lenyap.


Mbah Karto berpesan,

“Gunduruo tidak mati. Ia hanya terluka. Dan luka iblis… selalu menunggu untuk dibuka kembali oleh manusia serakah.”


Sejak itu, tak ada lagi warga yang berani mendekati Gunung Gunduruo.

Tapi setiap hujan turun di tengah malam, suara gendang itu kembali terdengar—pelan, teratur—seolah memanggil nama orang-orang yang hatinya mulai lapar oleh keinginan.


TAMAT.



LINK TERPERCAYA SAAT INI

👉 SUARITOTO

👉 SUARITOTO

👉 DAFTAR SUARITOTO




👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:

Posting Komentar