(Kisah Horor Tragis dari Perut Bumi yang Tak Pernah Tenang)
@suaritoto - Tidak ada yang benar-benar tahu sejak kapan Goa Belanda ditutup. Peta-peta lama menandainya dengan tinta merah, seolah peringatan diam-diam agar manusia tak lagi mengusik perut bumi yang telah menelan terlalu banyak nyawa.
Di desa kecil dekat hutan, nama Goa Belanda hanya disebut dengan bisikan. Orang-orang tua percaya, siapa pun yang masuk tanpa izin akan pulang membawa sesuatu… atau tidak pulang sama sekali.
Malam itu, hujan turun tanpa suara petir. Langit gelap seperti kain kafan yang menutupi bulan.
Raka, Bimo, Dira, dan Santi berdiri di mulut goa, diterangi lampu senter yang bergetar di tangan mereka.
“Cuma bentar. Ambil foto, terus balik,” kata Raka, mencoba terdengar santai.
Bimo tertawa gugup.
“Kalau ada apa-apa, jangan lari sendiri, ya.”
Dira menelan ludah. Sejak tadi perasaannya tidak enak. Angin dari dalam goa membawa bau lembap bercampur sesuatu yang asing—amis, seperti besi berkarat.
Mereka melangkah masuk.
Lorong yang Menyempit
Goa Belanda bukan seperti gua biasa. Lorongnya berbelok tajam, dindingnya basah dan dingin seperti kulit mayat. Air menetes dari stalaktit, suaranya terdengar seperti hitungan waktu menuju sesuatu yang buruk.
Langkah mereka bergema.
Tiba-tiba, senter Santi berkedip.
“Jangan mati sekarang, dong…” gumamnya.
Saat cahaya kembali stabil, mereka melihat coretan-coretan tua di dinding goa. Bukan grafiti modern—melainkan tulisan pudar, seperti goresan kuku manusia:
JANGAN IKUTI SUARA.
Raka tertawa kecil.
“Paling tulisan orang iseng.”
Namun, saat itu juga… terdengar suara langkah dari dalam lorong gelap.
Bukan gema kaki mereka. Langkah itu lebih lambat. Berat. Seolah seseorang berjalan menyeret sesuatu.
Santi refleks mematikan senternya.
Sunyi menelan mereka.
Bisikan dari Dalam Batu
Dalam gelap, suara bisikan mulai muncul.
“Pulanglah…”
Suara itu terdengar dekat telinga Dira. Ia menjerit kecil dan menyalakan senternya. Cahaya menabrak dinding… dan memperlihatkan jejak cairan gelap mengalir di celah batu.
Bimo mendekat.
“Itu… darah?”
Belum sempat ada jawaban, terdengar teriakan pendek dari belakang mereka.
Santi terjatuh.
Saat Raka dan Bimo menoleh, mereka melihat Santi terseret ke lorong sempit oleh sesuatu yang tak terlihat jelas. Hanya bayangan memanjang di dinding goa, seperti lengan hitam yang terlalu panjang.
“SAN—!!!”
Teriakan Santi terpotong.
Hening.
Tinggal jejak basah di lantai batu.
Dira mulai menangis tanpa suara.
Kebenaran yang Terpendam
Mereka berlari, tapi lorong goa terasa berubah. Belokan yang tadi mereka lewati seolah lenyap. Jalanan menjadi sempit, menekan tubuh, memaksa mereka merunduk.
Di sebuah ruangan besar di dalam goa, mereka menemukan tumpukan tulang tua. Beberapa masih terikat rantai berkarat.
Di dinding, terpahat simbol asing. Di bawahnya, tulisan Belanda yang hampir tak terbaca:
“Yang dikubur hidup-hidup akan menuntut pulang.”
Dira teringat cerita kakeknya.
Konon, saat penjajahan dulu, beberapa tawanan dipaksa menggali lorong rahasia di goa ini. Saat pekerjaan selesai, mereka dikunci di dalam dan dibiarkan mati perlahan agar rahasianya tak bocor.
Suara napas terdengar di belakang mereka.
Bimo berbalik.
Di balik gelap, tampak sosok kurus, wajahnya seperti tertarik ke dalam bayangan, matanya kosong, mulutnya terbuka seolah menahan jerit abadi.
Bimo mundur, terpeleset, dan jatuh ke genangan cairan dingin. Saat ia berusaha bangkit, sosok itu mendekat tanpa suara, dan tubuh Bimo menghilang ditelan gelap, hanya tersisa helm senter yang pecah.
Dira menutup mulutnya agar tak menjerit.
Pelarian Terakhir
Tinggal Raka dan Dira.
Mereka berlari tanpa arah, napas tersengal, jantung berdebar seolah ingin pecah. Lorong makin menyempit, udara makin berat, bau amis makin kuat.
Dira terjatuh. Kakinya terluka oleh batu tajam. Darahnya menetes ke lantai goa.
Suara langkah kembali muncul.
Raka mengangkat Dira, memaksanya berdiri.
“Ayo! Jangan berhenti!”
Di depan mereka, terlihat cahaya samar—mulut goa.
Harapan.
Namun sebelum mereka sampai, dinding goa bergetar. Dari celah-celah batu, muncul bayangan-bayangan kurus, seperti manusia yang terperangkap di antara dunia hidup dan mati.
Dira berteriak, tubuhnya tertarik ke dinding batu. Batu seolah melunak, menelannya perlahan. Tangannya terulur pada Raka, kuku-kukunya menggores tanah, meninggalkan garis merah di batu.
“RAKA… TOLONG…”
Raka meraih tangannya—
lalu… pegangan itu terlepas.
Dira lenyap.
Seolah tak pernah ada.
Yang Pulang Tidak Pernah Benar-Benar Pulang
Raka keluar sendirian saat fajar menyingsing. Wajahnya pucat, matanya kosong. Penduduk desa menemukannya terduduk di tanah, menatap mulut Goa Belanda tanpa berkedip.
Ia tidak pernah bicara lagi.
Tiga hari kemudian, penduduk menemukan jejak kaki basah dari arah goa menuju rumah Raka setiap malam. Jejak itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya… lalu menghilang.
Kadang, dari arah Goa Belanda, terdengar suara lirih terbawa angin:
“Masih ada yang tertinggal di sini…”
Dan desa itu tahu—
Goa Belanda belum selesai menagih.
Yang masuk ke dalamnya tidak selalu mati.
Sebagian… hanya pulang membawa kegelapan.
LINK TERPERCAYA SAAT INI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar