POCONG GEMOY
@SUARITOTO - Di Desa Rembulan, orang-orang pernah menertawakan pocong.
Mereka memberinya nama lucu: Pocong Gemoy.
Tiga malam kemudian, tawa berubah jadi doa.
Malam keempat… satu nyawa menghilang.
- Desa Rembulan dan Kuburan di Ujung Sawah
Desa Rembulan kecil, sunyi, dikelilingi sawah yang kalau malam tertutup kabut tipis. Di ujung desa ada kuburan tua—nisannya miring, tanahnya lembek, dan di sekitarnya tumbuh bambu yang batangnya saling beradu kalau tertiup angin. Warga percaya, kuburan itu “dingin”—bukan karena angin, tapi karena sesuatu yang tak terlihat.
Dulu, bertahun-tahun lalu, seorang pemuda bernama Jaka tewas di pos ronda. Ia dituduh mencuri uang kas desa. Tanpa bukti, ia dipukuli. Saat kebenaran terungkap—uang itu ternyata disembunyikan bendahara—Jaka sudah keburu mati. Keluarganya miskin, pemakaman dilakukan tergesa. Ikatan kafannya tak dilepas sempurna, doa seadanya. Sejak itu, kuburan terasa lebih sunyi dari biasanya, seperti menahan napas panjang.
- Kemunculan yang Ditertawakan
Beberapa bulan terakhir, orang-orang melihat sosok putih meloncat-loncat di jalan setapak kuburan. Gerakannya canggung—kadang terpeleset, kadang menabrak nisan. Dari jauh, terlihat aneh, hampir lucu. Anak-anak menirukan lompatannya sambil tertawa. Orang dewasa menamai: Pocong Gemoy.
Sejak julukan itu muncul, kejadian kecil mulai terjadi:
Ayam tetangga ditemukan mati dengan leher terpuntir.
Bau anyir seperti besi karat tercium tiap magrib.
Malam hari, terdengar duk… duk… seperti kain basah jatuh ke tanah.
Semua dianggap kebetulan. Tawa masih terdengar.
- Rian dan Niat yang Salah
Rian, pemuda desa yang suka bikin konten horor, merasa inilah kesempatan. “Biar viral,” katanya. Ia tak berniat jahat—hanya ingin bukti. Ia bawa HP, senter, dan tripod kecil. Malam itu, kabut turun lebih tebal dari biasanya. Lampu rumah di kejauhan tampak seperti kunang-kunang yang kelelahan.
Langkah Rian pelan saat melewati gerbang kuburan. Tanah basah menempel di sepatunya. Bau tanah lembap bercampur bau daun busuk menusuk hidung. Senter menyapu nisan demi nisan—nama-nama pudar, tanggal-tanggal tua.
DUK…
Rian berhenti.
DUK… DUK…
Suara itu seperti kain jatuh ke tanah.
Dari balik nisan besar, muncul sosok putih meloncat-loncat. Dari jauh… gerakannya memang canggung. Rian menahan tawa, membisiki kameranya, “Nih, Pocong Gemoy.”
Sosok itu berhenti.
Kepalanya terangkat pelan.
- Saat “Gemoy” Menghilang
Dari dekat, yang terlihat bukan lucu.
Kain kafan robek di bahu. Kulit wajah menghitam, bibir pecah, gigi terlihat di balik daging yang mengendur. Bau busuk menyengat—bau yang bukan sekadar bangkai, tapi bau tanah lama yang bercampur amarah.
Dengan suara serak, berat, seperti keluar dari tenggorokan yang lama terkubur:
“Ge… moy…?”
Nada itu membuat tengkuk Rian meremang.
Sosok itu meloncat sekali mendekat. Tanah berdecit.
“Aku mati dipukul…”
Suaranya terputus-putus, seolah tiap kata menarik serpihan tanah dari paru-parunya.
“Dikubur tanpa doa…”
Ia berhenti, menatap lurus ke mata Rian.
“Lalu dijadikan bahan tertawaan.”
Rian mundur setapak. Kakinya gemetar. Tawa yang tadi ingin keluar kini mati di tenggorokan. Ia sadar: ini bukan lelucon.
- Kejaran di Kabut
Rian berbalik dan lari. Jalan setapak terasa memanjang, seperti menipu jarak. Kabut menutup pandangan. Di belakangnya, DUK—DUK—DUK terdengar makin cepat. Loncatannya tak wajar—pendek tapi cepat, seperti bayangan yang diseret rendah di atas tanah.
Rian tersandung akar bambu, jatuh. Senter terlempar, cahayanya berputar liar. Dari tanah, ia mencium bau anyir. Ia bangkit lagi, lari tanpa menoleh. Jantungnya memukul dada, napasnya terpotong-potong.
Tiba-tiba, tangan dingin mencengkeram bahunya.
Dingin yang basah, seperti memegang kain kafan yang baru diangkat dari tanah.
Rian berteriak. Pegangan itu menariknya jatuh telentang.
Sosok putih itu berdiri di atasnya. Kain kafan berkibar pelan tertiup angin kuburan. Wajah busuk itu menunduk. Dari mulut yang terbuka, keluar napas dingin yang mengaburkan lensa HP yang masih merekam.
“Aku cuma mau didoakan,” bisiknya.
“Kalian memberi aku nama lucu.”
Cengkeraman menguat. Pandangan Rian gelap di tepi—seperti malam merayap masuk ke matanya.
- Pagi Tanpa Rian
Pagi harinya, warga menemukan HP Rian tergeletak di tepi kuburan. Layarnya retak. Di tanah, ada jejak seretan menuju satu makam tua: makam Jaka. Tanah di sekitar nisan itu ambles, seperti baru terbuka lalu ditutup kembali.
Rian menghilang. Tak ada darah. Tak ada tubuh. Hanya bau tanah yang lebih kuat dari biasanya.
Sejak malam itu, sosok pocong tak pernah terlihat lagi. Tapi orang-orang yang lewat kuburan bersumpah mendengar bisikan dari balik kabut:
“Masih mau… ketawa…?”
- Penutup: Doa yang Terlambat
Warga Desa Rembulan akhirnya datang bersama—membawa air, bunga, dan doa. Mereka membetulkan makam Jaka. Mereka membaca doa dengan suara pelan, satu per satu, seperti mengembalikan sesuatu yang pernah dirampas.
Tawa hilang dari desa itu.
Karena mereka paham sekarang:
Yang kau jadikan bahan candaan hari ini,
bisa menyimpan luka bertahun-tahun.
Dan luka yang dipendam…
akan mencari jalan untuk diakui.
LINK TERPERCAYA SAAT INI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar