Rabu, 11 Februari 2026

MISTERI ARWAH YANG MELARIKAN UANG KANTOR


MISTERI ARWAH YANG MELARIKAN UANG KANTOR


 @suaritoto -Tak ada yang percaya pada cerita satpam malam itu—

hingga uang ratusan juta di kantor benar-benar menghilang tanpa jejak.

Pintu terkunci rapat. CCTV mati.

Dan di lorong lantai dua…

terlihat jejak kaki basah yang tidak dimiliki manusia.


Malam itu hujan turun tanpa ampun. Angin berdesir kencang, membuat daun-daun di halaman kantor bergesekan seperti bisikan orang mati. Gedung kantor PT Suryajaya berdiri sunyi di tengah kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan. Lampu-lampu jalan sebagian mati, menyisakan cahaya kuning redup yang membuat suasana makin mencekam.


Di dalam kantor, hanya tersisa tiga orang:

Raka, petugas keamanan malam,

Dini, staf keuangan yang lembur menutup laporan akhir bulan,

dan Bimo, supervisor gudang yang baru saja kembali mengambil ponselnya yang tertinggal.


“Kayaknya aku nunggu di luar aja, merinding di sini,” gumam Bimo sambil menyalakan rokok.


Raka mengangguk pelan. Sejak gedung ini direnovasi, banyak cerita aneh beredar. Konon, seorang bendahara perusahaan lama pernah mengakhiri hidupnya di ruang arsip lantai dua karena dituduh menggelapkan uang. Sejak itu, beberapa pegawai mengaku melihat bayangan hitam mondar-mandir di koridor.


Namun malam itu, cerita horor tidak lagi sekadar cerita.


Uang yang Hilang


Pukul 23.47, Dini mengunci laci brankas kecil di ruang keuangan. Di dalamnya ada uang tunai untuk gaji karyawan harian yang akan dibagikan besok pagi.


“Aman ya, Mas Raka?” tanya Dini.


Raka mengangguk. “Tenang, pintu lantai dua juga sudah saya kunci.”


Mereka turun bersama menuju lantai satu. Setelah Dini pulang, Raka kembali ke pos satpam. Gedung kini benar-benar sepi. Hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar.


Sekitar setengah jam kemudian, terdengar bunyi gesekan logam dari lantai dua.


Kreeeek…


Raka menoleh.

“Siapa di atas?” teriaknya.


Tak ada jawaban.

Namun kamera CCTV di monitornya tiba-tiba mati satu per satu. Layarnya berubah hitam.


Jantung Raka berdegup kencang. Ia mengambil senter dan naik perlahan ke lantai dua. Lorong itu gelap. Lampu neon berkedip-kedip seperti hampir padam.


Saat sampai di depan ruang keuangan, pintunya… terbuka.


“Ini gak bener…” bisik Raka.


Di dalam ruangan, laci brankas terbuka lebar.

Uang tunai di dalamnya… lenyap.


Penampakan di Lorong


Raka hendak memanggil polisi, tapi tiba-tiba udara di ruangan menjadi dingin menusuk tulang. Nafasnya terlihat seperti uap tipis.


Dari sudut lorong, terdengar suara langkah kaki

pelan… menyeret…


Sreeet… sreeet…


Raka menyorotkan senter.

Di ujung lorong, berdiri sesosok wanita berbaju kantor lusuh, rambutnya panjang menutupi wajah. Dari dadanya mengalir noda hitam seperti darah kering.


“Balikin… milikku…” suara itu serak, seperti berasal dari tenggorokan yang tercekik.


Raka mundur gemetar.

“Si… siapa kamu?”


Wanita itu mengangkat kepala. Wajahnya pucat, matanya kosong, hitam pekat tanpa putih mata.


“Uang itu… uangku…

Mereka mengambilnya…

Aku difitnah…”


Tiba-tiba sosok itu menghilang, meninggalkan bau anyir dan hawa dingin yang menempel di kulit Raka.


Rahasia Lama yang Terungkap


Keesokan paginya, kantor gempar. Uang gaji karyawan raib tanpa jejak. Pintu dan kunci tak rusak sedikit pun. CCTV mati total pada jam kejadian.


Raka menceritakan apa yang dilihatnya. Awalnya tak ada yang percaya. Hingga seorang pegawai senior, Pak Wiryo, wajahnya mendadak pucat.


“Itu… arwah Bu Ratna,” ucapnya lirih.

“Bendahara lama. Dia dituduh mencuri uang perusahaan. Padahal sebenarnya… direksi lama yang korup. Bu Ratna bunuh diri karena gak kuat menanggung malu.”


Sejak hari itu, beberapa kejadian aneh terjadi:


Laci uang sering terbuka sendiri.


Terdengar tangisan wanita di ruang arsip.


Uang tunai selalu berpindah tempat.


Akhirnya, pihak kantor memanggil seorang ustaz untuk melakukan doa bersama. Dalam ritual itu, terdengar suara tangisan memilukan dari lantai dua. Angin berputar di ruangan, membuat kertas-kertas beterbangan.


“Tenanglah… kami akan membersihkan namamu…” ucap ustaz itu.


Setelah ritual selesai, suasana kembali normal. Uang yang hilang… ditemukan tersusun rapi di depan ruang arsip, basah seperti habis terendam air hujan.


Akhir yang Menyisakan Luka


Sejak kejadian itu, manajemen perusahaan mengungkap kembali kasus lama Bu Ratna. Nama baiknya dipulihkan. Foto Bu Ratna dipajang di ruang arsip dengan bunga putih di depannya.


Namun Raka tahu…

bukan karena ritual saja arwah itu pergi.


Ia pergi karena kebenaran akhirnya muncul.


Setiap kali hujan turun di malam hari, Raka masih mendengar suara lirih di lorong lantai dua:


“Terima kasih…

akhirnya aku bisa pulang…”


Lorong itu kembali sunyi.

Namun bayangan kelabu sesekali masih tampak di kaca jendela ruang keuangan…

seakan memastikan tak ada lagi yang mengambil hak orang mati.




LINK TERPERCAYA SAAT INI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar