KORBAN PERANG
Tidak ada yang benar-benar mati dalam perang.
Beberapa hanya tidak pernah pergi.
1. Desa Tanpa Nama
Di perbatasan negara yang sudah lama dihapus dari peta, berdirilah sebuah desa tua tanpa nama. Tidak ada plang. Tidak ada catatan resmi. Hanya puing rumah, parit-parit kering, dan bangkai kendaraan perang yang berkarat dimakan waktu.
Perang di tempat itu telah berakhir tiga puluh tahun lalu.
Namun setiap malam, warga desa sekitar masih mendengar:
suara sepatu tentara berbaris
teriakan perintah dalam bahasa asing
dan dentuman senjata… tanpa peluru
Tidak ada yang berani mendekat setelah matahari tenggelam.
2. Tim Dokumentasi
Arman, seorang jurnalis independen, datang bersama dua rekannya: Dina (fotografer) dan Bima (arsiparis sejarah). Mereka ingin membuat dokumenter tentang korban perang yang dilupakan dunia.
“Perang sudah selesai. Hantunya cuma trauma manusia,” kata Arman yakin.
Begitu mereka memasuki desa, sinyal menghilang. Jam tangan berhenti. Angin bertiup membawa bau besi dan darah lama—bau yang seharusnya sudah hilang puluhan tahun lalu.
Di sebuah rumah runtuh, Dina menemukan helm tentara.
Di bagian dalamnya tertulis nama…
Arman.
“Ini bukan milikmu kan?” tanya Dina gugup.
Arman menelan ludah.
“Itu… nama yang umum.”
Namun helm itu terasa hangat.
Seperti baru saja dipakai.
3. Mereka yang Tidak Tercatat
Malam pertama, mereka menginap di bekas pos medis perang.
Dina terbangun pukul 02.00 karena mendengar suara erangan.
Ia melihat ke luar jendela—puluhan sosok berdiri diam di lapangan.
Tubuh mereka berlubang peluru.
Sebagian tanpa tangan.
Sebagian tanpa wajah.
Namun anehnya…
mereka berdiri rapi seperti pasukan yang menunggu perintah.
Salah satu dari mereka menoleh ke arah Dina.
Matanya kosong.
Mulutnya bergerak pelan:
“Kami belum selesai.”
4. Arsip yang Berubah
Keesokan paginya, Bima membuka arsip perang lama. Peta yang ia bawa berubah. Nama lokasi menghilang satu per satu.
Yang tersisa hanya satu tulisan besar:
KORBAN
Bima gemetar.
“Jumlah korban di perang ini… tidak pernah cocok,” katanya.
“Angkanya selalu berubah.”
Di arsip lama tertulis:
5.000 korban.
Namun di catatan lain:
8.000 korban.
Di lembar terakhir, tertulis tangan:
“Mereka yang tidak dicatat, akan menagih.”
5. Pengakuan
Malam kedua, suara tembakan terdengar lebih dekat.
Arman mulai teringat mimpi-mimpi lama—tentang parit, tentang darah, tentang perintah untuk menembak orang yang tidak bersenjata.
Dina menatapnya tajam.
“Arman… kamu pernah ke sini sebelumnya, kan?”
Arman terdiam lama.
“Aku… tentara,” katanya akhirnya.
“Dulu. Perang ini bukan sekadar liputan buatku.”
Ia mengaku pernah ditugaskan di wilayah itu.
Dan menerima perintah yang tidak pernah masuk laporan resmi.
Mereka membakar desa.
Mereka menembak warga.
Mereka mengubur mayat tanpa nama.
“Mereka bilang itu demi negara,” suara Arman pecah.
“Tapi kami… menghapus manusia.”
6. Malam Penagihan
Malam ketiga, desa hidup kembali.
Lampu menyala di rumah-rumah yang runtuh.
Suara tangisan bayi terdengar.
Lonceng darurat berbunyi.
Puluhan sosok korban perang mengepung pos medis.
Seorang anak kecil maju ke depan.
Separuh wajahnya hilang.
“Nama kami dihapus,” katanya datar.
“Sejarah melupakan kami.”
Lalu ia menunjuk Arman.
“Tapi kami mengingatmu.”
Tanah retak. Parit-parit terbuka.
Tangan-tangan pucat meraih dari dalam tanah.
Dina berteriak, Bima jatuh berlutut.
Arman berdiri gemetar.
“Apa yang kalian mau?” teriaknya.
Jawaban mereka serempak, pelan, dingin:
“Keadilan.”
7. Pagi Tanpa Jawaban
Pagi hari, tim penyelamat menemukan kamera Dina di pinggir desa.
Rekaman terakhir menunjukkan Arman berjalan ke tengah lapangan, dikelilingi korban perang. Ia tidak melawan. Tidak berteriak.
Hanya berkata:
“Akhirnya… kalian dicatat.”
Tidak ada mayat.
Tidak ada darah baru.
Namun sejak hari itu, jumlah korban perang dalam arsip resmi bertambah satu.
Dan setiap kali perang baru terjadi di dunia, warga desa sekitar bersumpah mendengar suara yang sama:
Sepatu tentara.
Erangan korban.
Dan bisikan pelan:
“Jangan lupakan kami.”
Karena korban perang yang dilupakan…
tidak pernah benar-benar mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar