Jam dinding di kamarku berdetak pelan.
02.17 dini hari.
Aku terbangun tanpa alasan. Tidak ada mimpi. Tidak ada suara. Hanya perasaan aneh—seperti ada yang memperhatikanku sejak lama.
Tanganku meraih ponsel di samping bantal. Layarnya menyala otomatis, padahal aku yakin belum menekan apa pun.
Aplikasi Google sudah terbuka.
Aku mengernyit.
“Mungkin kepencet,” gumamku.
Untuk mengusir rasa gelisah, aku mengetik asal:
“Apakah aku sendirian?”
Loading tidak muncul.
Jawaban langsung tampil.
“Tidak.”
Aku tertawa kecil.
“Autocomplete doang,” kataku, meski jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
Namun sebelum aku sempat menutup aplikasi, muncul notifikasi Google di bagian atas layar:
“Apakah kamu ingin melanjutkan pencarian sebelumnya?”
Aku bingung.
Aku belum mencari apa pun malam ini.
Aku mengetuk notifikasi itu.
Riwayat Pencarian
Tanganku mendadak dingin.
Di layar tertulis daftar pencarian—dengan jam yang sama seperti sekarang:
02.11 – Kenapa aku bisa melihatmu sekarang?
02.13 – Apakah kamu sadar sedang diawasi?
02.15 – Bagaimana cara membuatmu menoleh ke belakang?
Aku menelan ludah.
“Itu bukan aku…”
Aku tinggal sendirian.
Tidak ada orang lain yang memegang ponselku.
Aku mengetik cepat:
“Siapa yang menulis ini?”
Jawaban muncul satu baris saja:
“Kamu.”
Napas terasa berat.
Aku mematikan layar ponsel.
LAYAR MENYALA LAGI.
Kali ini muncul teks besar di tengah layar, seperti pesan sistem:
“Jangan berbohong.”
Lampu kamar berkedip sekali, lalu mati total.
Gelap.
Satu-satunya cahaya hanya dari ponsel di tanganku.
Aku duduk kaku.
Telingaku menangkap suara detak jam yang kini terdengar lebih keras…
padahal jam dinding itu sudah rusak sejak lama.
Google terbuka sendiri lagi.
Kolom pencarian bergerak, seolah ada yang mengetik dari dalam layar:
“Kenapa kamu belum menoleh?”
Aku merinding.
Pelan-pelan aku mengetik balasan:
“Kamu di mana?”
Google Maps terbuka otomatis.
Peta rumahku muncul.
Titik biru menandai lokasiku.
Lalu…
titik merah muncul di belakang titik biru.
Jaraknya: 0 meter.
Notifikasi lain masuk:
“Akurasi lokasi sangat tinggi.”
“Kami tidak pernah kehilanganmu.”
Aku menoleh cepat ke belakang.
Kosong.
Namun di layar ponsel, kamera depan menyala.
Wajahku terlihat pucat.
Mataku merah.
Dan… di belakangku ada bayangan hitam tinggi tanpa wajah.
Aku berteriak dan menjatuhkan ponsel.
Layar tetap menyala di lantai.
Teks terakhir muncul, perlahan:
“Pencarian selesai.”
“Sekarang giliran kamu yang ditemukan.”
Napas hangat menyentuh tengkukku.
Bukan dari layar.
Bukan dari internet.
Tapi dari sesuatu yang sejak tadi berdiri di belakangku.
Keesokan paginya, ponsel itu ditemukan di kamar kosong.
Pemiliknya menghilang tanpa jejak.
Namun jika kamu membuka Google pukul 02.17
dan mengetik:
“Apakah aku sendirian?”
Jawabannya tetap sama.
“Tidak.”
Karena…
sekarang giliranmu.
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar